First of all, ini post berisi curahan hati sebagai penutup tahun. Ini bukan post cerpen, pun post puisi. Ini pure apa yang gue pikirin dan rasain hari ini dan selama 2019 berlangsung.
Hari terakhir di 2019 sangat tidak baik; I can't text or call him.
Selama satu tahun ini, isinya super berantakan. Gue sadar, gue kurang banyak beramal dan berbuat baik di tahun ini.
Selama satu tahun ini, gue mencoba menjalani semuanya dengan baik. Iya, menurut gue, gue cukup berusaha, walau belum maksimal. Ternyata, semua usaha yang gue lakukan, tidak benar-benar berjalan dengan baik dan tidak seperti yang gue harapkan. Gue tau, Tuhan pasti punya rencana dan jalan yang jauh lebih baik buat gue. Gue tau, sekeras apapun gue berusaha, if it wasn't for me, it wouldn't be mine.
Selama satu tahun ini, mood gue super parah. Semua yang gue jalanin terlalu mengedepankan rasa. Gue terlalu mengandalkan perasaan gue. Gue gak bener-bener mikirin diri sendiri. Gue terlalu mikirin perasaan orang lain, dalam hal apapun, termasuk pekerjaan dan pertemanan.
Kalau 2019 dibuat dalam bentuk grafik, dia mengalami fluktuasi yang cukup parah, tetapi dibawah nilai 0 atau dibawah garis rata-rata standar kebahagiaan versi gue. Gue gapernah sekalipun berharap sesuatu yang lebih agar grafik gue mengalami kenaikan. Gue terlalu mengikuti arah mood gue. Itu kesalahan besar. Otak gue gak gue pakai untuk menjalani kehidupan gue. Bahkan gue lupa kapan terakhir gue merasa gue menyayangi diri sendiri. Gue lupa rasanya punya quality time with myself.
Tahun ini membawa gue ke segala pergejolakan batin. Tentang apapun, termasuk tentang masa depan. Tahun 2019 ini membuat gue kehilangan kepercayaan diri. Tahun 2019 ini membuat gue bener-bener merasa sedang ada di titik terendah dalam hidup. Gue sedang ada di masa dimana tidak bisa percaya dengan diri sendiri. Gue hanya menggantungkan seluruh harapan dan kebahagiaan gue pada orang-orang di sekitar gue. Itu sangat buruk.
Di tahun ini pula gue sadar, gue tidak bisa memaksakan untuk fit di segala lingkungan pertemanan. Gue sadar, gue tidak bisa membuat semua orang berkata baik ke gue. Gue sadar, banyak sekali orang yang gue anggap teman, tapi ternyata membuat hati gue berantakan. Let say sakit hati.
Hari ini gue sadar, gue gak bisa terus kayak gini. Gue gak bisa diam di comfort zone gue dengan mengandalkan perasaan gue. Hari ini, orang-orang terdekat gue menyadarkan gue kalau gue sangat tidak baik. Iya, gue harus segera bangun. Gue harus bangkit.
Tapi, diluar hal-hal buruk itu. Gue sangat bersyukur karena masih punya beberapa hal yang bisa bikin gue bersyukur.
Pertama, gue bisa survive di lingkungan yang "aneh" dan "toxic" buat diri gue sendiri.
Kedua, gue akhirnya, membuat novelaku.com. Mewujudkan impian gue dari jaman SMA, walau belum bisa konsisten. At least, I try.
Ketiga, gue masih di kelilingi keluarga gue. Gue masih punya teman-teman dekat dan mereka selalu ada dan mendengarkan segala cerita gue. Masih ada cowok yang bertahan dengan segala keegoisan dan ketidakjelasan gue, gue cukup bahagia punya lo selama 4 tahun terakhir ini. Gue masih dikasih teman-teman yang bisa bikin gue "deep talk" ke mereka, tentang apapun. Gue bisa beliin beberapa barang yang mama mau. Gue bisa kasih uang jajan ke adek gue walau gak seberapa. Gue bisa balik ke Jogja. Gue bisa tau siapa yang harus gue kasih effort lebih dan siapa yang enggak. Last but not least, gue masih punya lo yang menyuruh gue untuk selalu bersyukur dan enggak diambil pusing buat apapun yang akan gue hadapin.
Jujur, gue tidak punya harapan yang spesifik buat tahun 2020. Gue cuma mau tahun 2020 membuat gue jauh lebih kuat dan bahagia. Semoga semua yang gue usahakan dan doakan, Tuhan mengabulkan di tahun 2020. Semoga gue tetap di kelilingi orang-orang dekat gue dan mereka semua berbahagia. Satu doa yang paling gue semogakan; semoga Tuhan membuat orang-orang terdekat gue bangga karena mereka punya gue. Aamiin.
Teruntuk kalian, semoga kalian sehat dan bahagia.
Maaf untuk segala kesalahan dan keegoisan gue selama ini.
Tahun 2019 membuat gue merasa jadi orang gagal. Semoga tahun 2020 membuat gue dan kalian menjadi lebih bersyukur dengan segala kerja keras dan hasil yang didapatkan.
Jakarta, 31 Desember 2019
Selasa, 31 Desember 2019
Jumat, 15 November 2019
Terima Kasih, Kasih!
Dari beribu mimpi yang berusaha aku wujudkan,
kamu selalu ada diurutan atas untuk didahulukan.
Dari berbagai doa yang aku panjatkan,
namamu tidak pernah absen aku sebutkan .
Terima kasih untuk genggam yang selalu menguatkan.
Terima kasih untuk langkah yang tak pernah lelah.
Kamu bilang, perjalanan masih panjang.
Memang benar adanya, jalan masing-masing kita masih sangat panjang.
Tapi, semoga jalan kita dimudahkan dan dijadikan satu tujuan.
Pun untuk kalian yang membaca ini dan sedang berjuang.
Terima kasih karena sudah kuat melewati semua ini. Kalian hebat. Kita hebat.
Diatas langit, masih ada langit.
Semoga hati kita tidak ikut menjadi tinggi dengan seiringnya doa-doa yang kita terbangkan.
Terima kasih kamu.
Terima kasih aku.
***
Jakarta, 15 November 2019
kamu selalu ada diurutan atas untuk didahulukan.
Dari berbagai doa yang aku panjatkan,
namamu tidak pernah absen aku sebutkan .
Terima kasih untuk genggam yang selalu menguatkan.
Terima kasih untuk langkah yang tak pernah lelah.
Kamu bilang, perjalanan masih panjang.
Memang benar adanya, jalan masing-masing kita masih sangat panjang.
Tapi, semoga jalan kita dimudahkan dan dijadikan satu tujuan.
Pun untuk kalian yang membaca ini dan sedang berjuang.
Terima kasih karena sudah kuat melewati semua ini. Kalian hebat. Kita hebat.
Diatas langit, masih ada langit.
Semoga hati kita tidak ikut menjadi tinggi dengan seiringnya doa-doa yang kita terbangkan.
Terima kasih kamu.
Terima kasih aku.
***
Jakarta, 15 November 2019
"Sebenarnya, Apa yang Lo Cari?"
"Sebenarnya, apa yang lo cari di hidup ini, Kal?"
Satu pertanyaan yang membuat gue terngiang-ngiang. Satu pertanyaan yang memicu datangnya pertanyaan-pertanyaan lain.
Tidak, gue bukan pengecut yang lari gitu aja dari segala pertanyaan yang tepat sasaran. Gue hanya.. gue hanya sementara menghindar untuk sekedar menenangkan pikiran.
Gue yakin lo pernah mengalami masa-masa kebingungan menentukan skala prioritas. Gue yakin lo pernah mengalami masa-masa dimana rasa dan ambisi yang lo punya begitu menggebu, tanpa pernah tau, sebenarnya, untuk apa dan siapa semua rasa dan ambisi itu lo tunjukan?
Dengan kalimat lain,
untuk tujuan apa semua rasa gebu dan ambisi yang sedang mengalir didalam diri lo?
Apa itu sebuah kewajaran? Apa itu bagian dari ego yang minta untuk dipuaskan?
Buat lo yang sedang membaca ini, jangan khawatir.
Semua pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam benak lo, lo tidak sendiri. Banyak orang pun mengalaminya.
Jangan putus asa. Suatu waktu kita akan menemukan jawabannya.
***
Jakarta, 14 November 2019
Minggu, 08 September 2019
Akhir Cerita Alin
Bila rasaku ini rasamu sanggupkah engkau
Menahan sakitnya terhianati cinta yang kau jaga
Lagu Kerispatih
mengalun pelan dari pengeras suara di sudut ruang tunggu. Hari ini adalah hari
yang sangat ditunggu Alin. Brokat biru laut melengkat indah pada tubuh Alin.
Rambut yang biasa dikuncir satu, sudah menggerai rapi melewati leher dan pundak
Alin yang semampai. Dengan mata bulat yang sudah terpasang softlens, bibir tipisnya sudah terpulas cantik oleh ombre lipstic
dan liptint, senyum manis yang selalu terpatri dari sejak ia memasuki ruang
tunggu, Alin sempurna.
“Alin? Ini beneran
Alin?”
“Asli, lo cantik banget!”
“Sumpah, lo Alin
Winata?”
"Nah, gini, dong! Make up!"
Teman sepergengan Alin
heboh bukan main dan Alin hanya tertawa-tawa menanggapi teman-temannya.
“Lin, lo mau tunggu di
sini aja atau mau keluar dulu cari angin? Gue temenin.” tanya Tasya sambil
berbisik, teman terdekat Alin yang sangat mengerti segala kondisi. Tasya tidak
ikut heboh dan tertawa meledeki Alin, Tasya tau apa yang sedang berkecamuk
didalam diri Alin.
“Gue di sini aja, asal
lo juga di sini.”
“Iya, gue akan selalu
di sini.”
Semua orang di ruangan
tersebut bersorak heboh. Pasalnya, acara sebentar lagi dimulai. Ditengah hiruk
pikuk sorak-sorai, Tasya dan Alin saling bertatapan. Tasya dapat melihat getar di
mata Alin. Tasya dapat melihat gerak-gerik jari kelingking Alin dikala ia
sedang grogi. Orang-orang tersebut berhamburan keluar dari ruang tunggu menuju
hall primary, tempat diselenggarakannya akad nikah.
Tasya menggenggam
tangan Alin.
“Everything will be ok.” ucap Tasya kepada Alin, yang diikuti
anggukan kepala dari Alin sebagai jawaban.
MC membuka rangkaian
acara. Semua mata tertuju padanya. Tasya beberapa kali melirik Alin, melihat
kondisi Alin. Senyum di bibir Alin tidak luntur. Matanya mengikuti hal-hal yang
ada didepannya.Pikirannya fokus pada apa yang ia lihat. Tapi, ia tau, tidak
dengan hatinya. Hatinya tidak bisa diam. Hatinya berisik, seperti ingin
mengatakan sesuatu, tetapi dibungkam oleh pemiliknya.
Penghulu memimpin
khotbah nikah dan ijab kabul. Semua menahan napas dan air matanya. Termasuk
Alin. Alin mendengarkan dengan khusyuk dan khidmat. Semua tamu hadirin
bersama-sama mengucapkan kata sah
diikuti dengan doa dan suara riuh rendah.
Renata dan Deva resmi
menjadi sepasang suami istri.
Tasya menggenggam erat
tangan sahabat di sebelahnya. Tangan Alin dingin. Ia tidak akan mengira, bahwa
menghadiri dan menyaksikan langsung prosesi pernikahan Renata, sahabat dekatnya
semasa kuliah, menjadi istri dari seorang Deva, lelaki yang sudah menemaninya
melewati hari selama 5 tahun terakhir. Deva, lelaki satu-satunya yang ia
harapkan dan ia doakan untuk menjadi teman seumur hidupnya. Lelaki yang selalu
ada disaat susah maupun senangnya. Pun dengan Renata.
Tetapi, Alin lega.
Setidaknya, lelaki yang ia cintai jatuh ke tangan yang baik. Mantan pacarnya
tersebut didampingi oleh salah satu sahabat terbaiknya. Alin bersyukur karena
mereka saling menemukan. Walau ternyata, Alin lah perantaranya.
“Lin, kita ke Vood
Kitchen & Bar, yuk? Gue butuh asupan anggur.” ajak Tasya yang sudah lemas
menyaksikan semua ini.
Tasya mengerti, tidak mungkin senyum yang terpampang
pada bibir Alin adalah sentrum langsung dari hatinya. Tasya sangat yakin, hati
Alin sedang berusaha menyapu serpihan-serpihannya sendiri. Tidak, Alin tidak
butuh orang lain untuk membantunya membereskan semua kehancuran yang terjadi
didalam hatinya. Alin dapat melakukannya seorang diri. Tasya sangat tau itu.
Tanpa menjawab
pertanyaan Tasya, Alin berdiri, bersiap meninggalkan ruangan ini. Ruangan yang
seharusnya menjadi menyenangkan dan mengharukan untuk semua orang. Tapi, tidak
dengan Alin. Alin tidak bisa terus bertahan di sini. Alin tidak ingin kedua
mempelai melihat air mata yang sudah ia bendung sedari pagi.
Sebelum Alin membalikan
badan, matanya bertemu dengan mata Deva. Tatapan mereka mengunci selama
beberapa detik. Hingga pada akhirnya, Alin memutuskan untuk membuang pandangan
dan menyudahi segala hal yang terjadi. Benar-benar ingin mengakhiri segala yang
sudah seharusnya sudah berakhir sejak hari lalu. Deva tersenyum datar. Ia
sangat tau apa yang disampaikan Alin dari tatapannya. Deva masih dapat
merasakan segalanya, dan ia tidak dapat berbuat lebih. Alin berlalu. Kali ini,
ia yang meninggalkannya.
Saat ini, segalanya memang sudah berakhir. Aku harus
terus melangkah. Harus.
Ucap Alin dalam hati
selepas membalikan badan, keluar dari gedung, ditemani dengan langkah kaki
Tasya dan deras air mata yang tiba-tiba turun.
***
Jakarta, 8 September
2019.
Selasa, 06 Agustus 2019
Surat Untuk Diri Sendiri
Untuk Aku,
Hai, Aku!
Semoga sedang dalam keadaan baik dan sehat.
Terima kasih karena, sampai saat ini, masih terus berusaha demi hari-hari mendatang.
Maaf, untuk masa lalu yang membuat langkah ini menjadi terhambat.
Maaf, untuk segala bentuk penyesalan yang selalu menyesakan.
Maaf, untuk semua rasa kecewa yang selalu datang menghampiri tanpa permisi, dan tidak pernah benar-benar pergi.
Maaf, untuk segala rasa sedih yang terasa tanpa mengenal kedaluarsa.
Maaf, untuk segala pilu tanpa tau apa dan siapa yang dituju.
Maaf, untuk segala gebu yang selalu pergi terburu-buru, sebelum semua terwujud.
Maaf, untuk segala gagal yang membuat otak hilang akal.
Maaf, untuk segala patah yang menyebabkan darah.
Maaf, untuk segala langkah yang selalu membuat lelah.
Aku,
tolong dengarkan.
Untuk kali ini saja,
Aku mohon.
Dengarkan diri sendiri,
***
Cikarang, 6 Agustus 2019
Minggu, 28 Juli 2019
Kamu di Masa Nanti
Kepada kamu dikemudian hari,
terima kasih karena telah berdiri dan berlari, menggenggam erat tangan ini.
Siapapun kamu, maaf telah membuatmu menunggu. Maafkan aku untuk semua ragu dan gugu.
Aku tau ini tidak akan mudah untuk dihadapi, bahkan mungkin akan banyak caci.
Tapi, aku berjanji akan segera menyepi untuk segala api yang terjadi.
Dan akan kembali menjadi aku yang kamu cintai sepenuh hati.
Untuk kamu di hari nanti,
terima kasih karena sudah menanti dan bersabar menunggu diri ini menghadapi hari.
Dari aku,
Yang akan selalu mengusahakanmu. Saat ini dan nanti.
***
Jakarta, 27 Juli 2019
terima kasih karena telah berdiri dan berlari, menggenggam erat tangan ini.
Siapapun kamu, maaf telah membuatmu menunggu. Maafkan aku untuk semua ragu dan gugu.
Aku tau ini tidak akan mudah untuk dihadapi, bahkan mungkin akan banyak caci.
Tapi, aku berjanji akan segera menyepi untuk segala api yang terjadi.
Dan akan kembali menjadi aku yang kamu cintai sepenuh hati.
Untuk kamu di hari nanti,
terima kasih karena sudah menanti dan bersabar menunggu diri ini menghadapi hari.
Dari aku,
Yang akan selalu mengusahakanmu. Saat ini dan nanti.
***
Jakarta, 27 Juli 2019
Sabtu, 20 Juli 2019
Malam Minggu Menunggu
Kursi di depanku kosong. Tidak ada kamu.
Uhm, kamu hanya belum datang, kan? Iya, ini memang malam minggu, dan kamu selalu sibuk. Aku mengerti, kok. Karena itu, akan selalu aku kosongkan kursi tersebut.
By the way, aku lupa ini malam minggu ke berapa sejak kita terakhir kali bertemu? Iya, aku sudah berhenti menghitungnya. Terlalu malas untuk sekedar membuka kalender dan menandainya dengan tanda silang merah. Toh, spidol merahku sudah habis, dan aku tidak pernah membelinya lagi.
Malam minggu ini masih sama. Aku masih di salah satu coffee shop kesukaan kita. Aku masih di sudut yang sama, tapi tidak dengan pemandangan di mataku. Depan, kiri, kanan. Pun keadaan sekitar, tidak sama. Riuh yang mencekam. Riuh yang kosong. Riuh yang tidak memekakkan telinga.
Ah, iya, aku masih memesan menu yang sama. Kintamani untukku dan Gayo untukmu. Satu slice cheesse cake untukku dan french fries untukmu. Untuk berjaga saja, siapa tau, kamu datang. Jadi, kamu tidak perlu menunggu pesanan lagi. Kamu tidak perlu repot, deh. Aku sudah siapkan semuanya. Termasuk hati.
Kamu tau, kenapa aku tidak pernah bosan menunggumu?
Karena aku sangat yakin, kamu akan selalu pulang. Kamu akan melakukan hal yang sama, bukan?
Kamu tau, kenapa aku sangat yakin?
Karena kamu selalu meyakinkan hubungan ini.
Tidak, aku tau kamu tidak meyakinkanku, tapi kamu selalu yakin this relationship will be work and worth it.
Oh, iya, aku punya cerita banyak untuk malam ini. Aku akan membuatmu tertawa terpingkal-pingkal ketika nanti aku ceritakan hal-hal aneh yang dilakukan Ardhy dan Leon. Aku juga akan membuatmu terharu biru mendengar ceritaku dari ibu warteg seberang jalan. Cerita beliau sangat inspiratif. Kamu pasti akan sedih! Hehehe.
Oh, dan satu lagi!
Khusus malam ini, aku sudah menyiapkan hadiah untuk kamu. Iya, hadiah ulang tahun. Telat, sih, tapi kamu pasti suka! I swear!
Aku bermonolog sudah hampir dua jam, ternyata.
Sekarang sudah pukul 9 malam.
Emm, sepertinya aku akan menunggu sebentar lagi. Aku tetap yakin, kamu akan menemuiku.
Aku akan membaca novel atau bermain permainan di handphone saja.
Pukul 10 malam!
Kenapa cepat, ya?
Kamu belum datang juga, ya?
Mungkin esok hari?
Baik lah, aku akan pulang.
Catatan untuk Kamu:
I know it's hard, and hurt sometimes. Tapi, jangan menyerah, ya?
Aku tidak akan menyerah. I promise you.
Jangan lupa pulang.
Please text me if you read this note.
-Flo-
***
Jakarta, 20 Juli 2019
Uhm, kamu hanya belum datang, kan? Iya, ini memang malam minggu, dan kamu selalu sibuk. Aku mengerti, kok. Karena itu, akan selalu aku kosongkan kursi tersebut.
By the way, aku lupa ini malam minggu ke berapa sejak kita terakhir kali bertemu? Iya, aku sudah berhenti menghitungnya. Terlalu malas untuk sekedar membuka kalender dan menandainya dengan tanda silang merah. Toh, spidol merahku sudah habis, dan aku tidak pernah membelinya lagi.
Malam minggu ini masih sama. Aku masih di salah satu coffee shop kesukaan kita. Aku masih di sudut yang sama, tapi tidak dengan pemandangan di mataku. Depan, kiri, kanan. Pun keadaan sekitar, tidak sama. Riuh yang mencekam. Riuh yang kosong. Riuh yang tidak memekakkan telinga.
Ah, iya, aku masih memesan menu yang sama. Kintamani untukku dan Gayo untukmu. Satu slice cheesse cake untukku dan french fries untukmu. Untuk berjaga saja, siapa tau, kamu datang. Jadi, kamu tidak perlu menunggu pesanan lagi. Kamu tidak perlu repot, deh. Aku sudah siapkan semuanya. Termasuk hati.
Kamu tau, kenapa aku tidak pernah bosan menunggumu?
Karena aku sangat yakin, kamu akan selalu pulang. Kamu akan melakukan hal yang sama, bukan?
Kamu tau, kenapa aku sangat yakin?
Karena kamu selalu meyakinkan hubungan ini.
Tidak, aku tau kamu tidak meyakinkanku, tapi kamu selalu yakin this relationship will be work and worth it.
Oh, iya, aku punya cerita banyak untuk malam ini. Aku akan membuatmu tertawa terpingkal-pingkal ketika nanti aku ceritakan hal-hal aneh yang dilakukan Ardhy dan Leon. Aku juga akan membuatmu terharu biru mendengar ceritaku dari ibu warteg seberang jalan. Cerita beliau sangat inspiratif. Kamu pasti akan sedih! Hehehe.
Oh, dan satu lagi!
Khusus malam ini, aku sudah menyiapkan hadiah untuk kamu. Iya, hadiah ulang tahun. Telat, sih, tapi kamu pasti suka! I swear!
Aku bermonolog sudah hampir dua jam, ternyata.
Sekarang sudah pukul 9 malam.
Emm, sepertinya aku akan menunggu sebentar lagi. Aku tetap yakin, kamu akan menemuiku.
Aku akan membaca novel atau bermain permainan di handphone saja.
Pukul 10 malam!
Kenapa cepat, ya?
Kamu belum datang juga, ya?
Mungkin esok hari?
Baik lah, aku akan pulang.
Catatan untuk Kamu:
I know it's hard, and hurt sometimes. Tapi, jangan menyerah, ya?
Aku tidak akan menyerah. I promise you.
Jangan lupa pulang.
Please text me if you read this note.
-Flo-
***
Jakarta, 20 Juli 2019
Langganan:
Postingan (Atom)