Kita berbicara. Berbicara tentang manusia, hewan, tumbuhan, alam, dan hidup. Kita berbicara tentang apa pun yang bisa kita bicarakan.
Kita bertukar pikiran. Bertukar pikiran tentang komik, film, berita, ilmu, cita-cita, dan kehidupan yang seharusnya. Kita bertukar pikiran tentang apa pun yang bisa kita perdebatkan.
Kita bercanda. Bercanda tentang hal-hal kecil, hal-hal konyol, sampai hal-hal yang abstrak. Kita bercanda tentang apa pun yang bisa mengisi percakapan kita.
Kita tertawa. Tertawa tentang hal-hal yang benar-benar lucu, tentang hal-hal yang mungkin lucu, tentang hal-hal belum tentu lucu, tentang hal-hal yang tidak lucu sama sekali. Kita tertawa tentang apa pun yang bisa membuat kita lupa akan realita.
Tetapi, bagaimana jika semua ini perlahan menjauh dan menghilang?
Tidak bisakah kita tetap seperti ini dengan jalan kita masing-masing?
Tidak bisakah kita tetap berjalan beriringan dengan tujuan kita masing-masing?
Ini bukan tentang perasaan.
Tetapi,
Tentang aku yang tidak rela kehilangan teman-sharing-dan-adu-bacot-disaat-bersamaan yang terbaik.
***
21.10 - 16 Mei 2015
Sabtu, 16 Mei 2015
Jumat, 15 Mei 2015
Fiksi
Ada sesuatu yang mengusik diriku
Rasanya seperti geli yang timbul pada pinggang
Rasanya seperti geletikan kemoceng ke hidung
Rasanya seperti sesuatu yang meletup-letup di dada
Rasanya seperti sesuatu yang berlompatan di dalam perut
Rasanya seperti nafas yang terengah-engah
Rasanya seperti kaki yang tidak menapak
Ini mungkin bukan sesuatu yang baru
Ini juga bukan sesuatu yang lama
Entah pertanda baik atau buruk
Tetapi
Biarkan aku mengasumsikan sesuatu ini dengan sesuatu yang baik
Yang mungkin seharusnya tidak ada
Yang seharusnya fiksi
Tolong
Biarkan aku seperti ini
Berkutat dengan sesuatu yang menenangkan ini
***
23.35 - 14 Mei 2015
Rasanya seperti geli yang timbul pada pinggang
Rasanya seperti geletikan kemoceng ke hidung
Rasanya seperti sesuatu yang meletup-letup di dada
Rasanya seperti sesuatu yang berlompatan di dalam perut
Rasanya seperti nafas yang terengah-engah
Rasanya seperti kaki yang tidak menapak
Ini mungkin bukan sesuatu yang baru
Ini juga bukan sesuatu yang lama
Entah pertanda baik atau buruk
Tetapi
Biarkan aku mengasumsikan sesuatu ini dengan sesuatu yang baik
Yang mungkin seharusnya tidak ada
Yang seharusnya fiksi
Tolong
Biarkan aku seperti ini
Berkutat dengan sesuatu yang menenangkan ini
***
23.35 - 14 Mei 2015
Kamis, 14 Mei 2015
(Film) Fiksi
Ini pertama kali saya cerita tentang film disini. Saya sebut ini 'cerita' ya, bukan 'me-review'. Bukan karena saya malas me-review suatu film. Tapi, saya lebih suka cerita secara tidak formal seperti ini dari pada me-review.
Fiksi kalau di KBBI itu artinya cerita rekaan; rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Ceritanya tentang perempuan psikopat yang menyukai lelaki, seorang penulis, dan menguntit lelaki tersebut. Perempuan berhasil berkenalan dengan Lelaki, bahkan sampai Lelaki menceritakan isi buku yang sedang ia tulis tapi tidak pernah selesai karena ia tidak tau bagaimana ending yang seharusnya ia tuliskan disetiap ceritanya. Dan secara tidak langsung, Perempuan membantu Lelaki itu menunjukan ending disetiap cerita yang ia tuliskan. Percaya lah, ini bukan sesuatu yang klasik. Tapi, memang bukan sesuatu yang tidak mudah ditebak sih.
Pesan yang paling jelas dari film ini adalah setiap kejadian dalam hidup itu mempunyai tujuan.
Tujuan? Yang saya pikirkan selama ini hanya tujuan kenapa saya harus melakukan suatu aktivitas. Tujuan saya untuk makan dan minum. Tujuan saya untuk belajar dan mencari ilmu. Tujuan saya untuk pergi ke suatu mall. Tujuan saya untuk membaca suatu buku. Tujuan saya untuk pergi kemana-mana menggunakan angkutan umum. Tujuan saya untuk menghadiri suatu seminar. Tujuan saya untuk tetap berdiri diantara yang duduk. Tujuan saya untuk terus berlari diantara yang berjalan. Tujuan saya untuk terus beribadah. Tujuan saya untuk tidak terlalu memperdalam sesuatu yang mengusik diri saya. Tujuan saya untuk tetap berada didalam gua yang sudah dibuatkan-Nya untuk saya. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, saya akan menemukan tujuan kenapa saya harus tetap hidup, kenapa saya harus tetap berjuang dalam hidup lebih tepatnya.
Menurut saya, film Fiksi telah mengubah arti fiksi sebenarnya. Menurut saya, ending dalam fiksi itu seharusnya tidak nyata. Dan, seharusnya, kita sendiri lah (sebagai penulis) yang menentukan ending setiap cerita fiksi yang kita buat. Bukan dari apa yang terjadi di sekeliling kita walau pada awalnya kita mengambil ide dari sekitar kita.
Selama apa pun kita membuat dan berkutat dengan cerita kehidupan yang fiksi, tetap tidak akan mengubah ending kehidupan nyata kita. Saya termasuk orang yang sangat suka berkutat dengan cerita kehidupan nyata yang saya jadikan 'fiksi' dan berharap waktu akan mengubah kehidupan nyata saya kedalam cerita fiksi saya.
Saya suka memikirkan saya terbangun didalam kamar yang berada didalam rumah pohon. Ketika saya membuka jendela, hanya udara segar dan pemandangan hijau yang ada. Saya suka memikirkan bagaimana saya bisa menyelinap tanpa terlihat. Menyelinap diantara segerombolan remaja perempuan yang sedang tertawa, kemudian saya ikut tertawa didalamnya. Menyelinap ditengah-tengah kehidupan keluarga konglomerat dan saya menjadi salah satu anggota keluarganya. Menyelinap ditengah-tengah drama megah yang sedang berlangsung dan saya menjadi salah satu pemerannya. Saya suka memikirkan saya menjadi salah satu tokoh dari setiap novel yang saya baca. Dan saking asiknya saya berkutat dengan cerita kehidupan fiksi saya, sampai-sampai saya sendiri tidak tau apa yang seharusnya saya isi dalam hidup saya dan bagaimana seharusnya ending dalam kehidupan saya. Maksud saya, ending seperti apa yang saya inginkan. Entah sebagai perempuan dengan satu suami dan tiga anak. Atau sebagai perempuan dengan karir yang sedang diatas daun dan kehidupan keluarga yang harmonis. Atau sebagai perempuan single parent dengan sepasang anak kembar yang ingin ayah baru. Atau sebagai perempuan renta yang tak punya siapa-siapa dan apa-apa.
Kalau boleh saya memilih, saya akan meminta waktu sedikit lebih lagi untuk berkutat dengan cerita fiksi saya dan kemudian meneruskan kehidupan nyata saya dengan tujuan (dan ending) yang akan atau sudah saya tentukan. Karena pada saat saya sadar, hidup terlalu singkat untuk tetap berkutat pada cerita fiksi.
Tapi, saya akan berusaha sebisa mungkin menghidupkan cerita fiksi saya kedalam kehidupan nyata.
Hidup terlalu singkat untuk melakukan hal-hal yang membosankan, bukan?
Dan, setiap kejadian didalam hidup punya tujuan, bukan?
Dan, sekali lagi, ini adalah fiksi. :)
***
23.00 - 14 Mei 2015
Fiksi kalau di KBBI itu artinya cerita rekaan; rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Ceritanya tentang perempuan psikopat yang menyukai lelaki, seorang penulis, dan menguntit lelaki tersebut. Perempuan berhasil berkenalan dengan Lelaki, bahkan sampai Lelaki menceritakan isi buku yang sedang ia tulis tapi tidak pernah selesai karena ia tidak tau bagaimana ending yang seharusnya ia tuliskan disetiap ceritanya. Dan secara tidak langsung, Perempuan membantu Lelaki itu menunjukan ending disetiap cerita yang ia tuliskan. Percaya lah, ini bukan sesuatu yang klasik. Tapi, memang bukan sesuatu yang tidak mudah ditebak sih.
Pesan yang paling jelas dari film ini adalah setiap kejadian dalam hidup itu mempunyai tujuan.
Tujuan? Yang saya pikirkan selama ini hanya tujuan kenapa saya harus melakukan suatu aktivitas. Tujuan saya untuk makan dan minum. Tujuan saya untuk belajar dan mencari ilmu. Tujuan saya untuk pergi ke suatu mall. Tujuan saya untuk membaca suatu buku. Tujuan saya untuk pergi kemana-mana menggunakan angkutan umum. Tujuan saya untuk menghadiri suatu seminar. Tujuan saya untuk tetap berdiri diantara yang duduk. Tujuan saya untuk terus berlari diantara yang berjalan. Tujuan saya untuk terus beribadah. Tujuan saya untuk tidak terlalu memperdalam sesuatu yang mengusik diri saya. Tujuan saya untuk tetap berada didalam gua yang sudah dibuatkan-Nya untuk saya. Mungkin suatu saat nanti, entah kapan, saya akan menemukan tujuan kenapa saya harus tetap hidup, kenapa saya harus tetap berjuang dalam hidup lebih tepatnya.
Menurut saya, film Fiksi telah mengubah arti fiksi sebenarnya. Menurut saya, ending dalam fiksi itu seharusnya tidak nyata. Dan, seharusnya, kita sendiri lah (sebagai penulis) yang menentukan ending setiap cerita fiksi yang kita buat. Bukan dari apa yang terjadi di sekeliling kita walau pada awalnya kita mengambil ide dari sekitar kita.
Selama apa pun kita membuat dan berkutat dengan cerita kehidupan yang fiksi, tetap tidak akan mengubah ending kehidupan nyata kita. Saya termasuk orang yang sangat suka berkutat dengan cerita kehidupan nyata yang saya jadikan 'fiksi' dan berharap waktu akan mengubah kehidupan nyata saya kedalam cerita fiksi saya.
Saya suka memikirkan saya terbangun didalam kamar yang berada didalam rumah pohon. Ketika saya membuka jendela, hanya udara segar dan pemandangan hijau yang ada. Saya suka memikirkan bagaimana saya bisa menyelinap tanpa terlihat. Menyelinap diantara segerombolan remaja perempuan yang sedang tertawa, kemudian saya ikut tertawa didalamnya. Menyelinap ditengah-tengah kehidupan keluarga konglomerat dan saya menjadi salah satu anggota keluarganya. Menyelinap ditengah-tengah drama megah yang sedang berlangsung dan saya menjadi salah satu pemerannya. Saya suka memikirkan saya menjadi salah satu tokoh dari setiap novel yang saya baca. Dan saking asiknya saya berkutat dengan cerita kehidupan fiksi saya, sampai-sampai saya sendiri tidak tau apa yang seharusnya saya isi dalam hidup saya dan bagaimana seharusnya ending dalam kehidupan saya. Maksud saya, ending seperti apa yang saya inginkan. Entah sebagai perempuan dengan satu suami dan tiga anak. Atau sebagai perempuan dengan karir yang sedang diatas daun dan kehidupan keluarga yang harmonis. Atau sebagai perempuan single parent dengan sepasang anak kembar yang ingin ayah baru. Atau sebagai perempuan renta yang tak punya siapa-siapa dan apa-apa.
Kalau boleh saya memilih, saya akan meminta waktu sedikit lebih lagi untuk berkutat dengan cerita fiksi saya dan kemudian meneruskan kehidupan nyata saya dengan tujuan (dan ending) yang akan atau sudah saya tentukan. Karena pada saat saya sadar, hidup terlalu singkat untuk tetap berkutat pada cerita fiksi.
Tapi, saya akan berusaha sebisa mungkin menghidupkan cerita fiksi saya kedalam kehidupan nyata.
Hidup terlalu singkat untuk melakukan hal-hal yang membosankan, bukan?
Dan, setiap kejadian didalam hidup punya tujuan, bukan?
Dan, sekali lagi, ini adalah fiksi. :)
***
23.00 - 14 Mei 2015
Sabtu, 02 Mei 2015
Yang Tidak Gue Ceritakan; Evan
Evan
Yang tidak gue ceritakan kepada Lona:
Gue sebenarnya suka sekali makan petai. Tapi, dia taunya gue enggak suka karena selalu nolak kalau ditawari sama Mama Ina (Mamanya Lona). Kenapa? Karena gue tau banget Lona enggak suka petai. Kalau kata Lona, "Lo harus jauh-jauh dari gue kalau mau makan petai.". Iya, dia memang sesadis itu.
Gue masih menyimpan hadiah pertama yang dia kasih ke gue, yaitu pensil inul. Iya, pensil jaman SD yang panjang dan super lentur itu. Waktu kami duduk dibangku SD kelas 5, Lona bilang kalau dia suka banget sama pensil itu karena unik, dia sengaja ngasih pensil inul itu ke gue karena gue bukan orang yang teledor menyimpan barang, enggak kayak dia. Sebenarnya, gue enggak yakin dia ingat kejadian dan pensil inul ini. Tapi, kalau dia tau gue masih menyimpan barang sakral itu, gue bisa-bisa jadi bahan lawakannya dia selama 2 minggu.
Lona itu cantik. Dia enggak pernah sadar itu. Dia terlalu minder sama orang-orang disekitarnya. Karena itu kenapa dia lebih memilih gaya tomboi. Gue memang suka dia apa adanya dan nyamannya aja, tapi gue lebih suka kalau dia mau menunjukkan sisi kecantikannya dengan berdandan lebih feminim seperti perempuan pada umumnya. Dan tentu saja, ini enggak akan pernah gue ceritakan ke Lona. Hem, oke, mungkin suatu hari nanti.
Gue sering diam-diam memerhatikan dia. Cara dia berpakaian, cara dia berbicara, cara dia tersenyum, cara dia tertawa sampai cara dia menangis. Dia selalu bisa membuat gue untuk terus mengalihkan pandangan gue ke dia. Entah karena gue sama dia memang sudah dekat banget atau memang dia mengeluarkan gaya magnet tersendiri buat menarik kutub enggak berdosa kayak gue ini, hahaha.
Gue merasa dia punya perasaan lebih ke gue. Atau mungkin gue yang kepedean? Tapi, biasanya firasat seorang Evandika Putranto tidak pernah salah. Hem, setelah gue pikir-pikir, gawat juga kalau dia punya rasa lebih ke gue. Bukan, bukan karena gue enggak punya rasa lebih ke dia. Karena gue takut semua yang udah kita punya, hilang gitu aja karena rasa itu. Gue bukan orang yang pede buat pacaran serius. Nah, bahaya kan kalau gue sama dia pacaran. Tapi, bukan berarti gue enggak akan serius sama dia. Ada waktunya, tapi enggak sekarang.
Cukup jelas kan rasa gue ke dia?
Yang tidak gue ceritakan kepada Lona:
Gue sebenarnya suka sekali makan petai. Tapi, dia taunya gue enggak suka karena selalu nolak kalau ditawari sama Mama Ina (Mamanya Lona). Kenapa? Karena gue tau banget Lona enggak suka petai. Kalau kata Lona, "Lo harus jauh-jauh dari gue kalau mau makan petai.". Iya, dia memang sesadis itu.
Gue masih menyimpan hadiah pertama yang dia kasih ke gue, yaitu pensil inul. Iya, pensil jaman SD yang panjang dan super lentur itu. Waktu kami duduk dibangku SD kelas 5, Lona bilang kalau dia suka banget sama pensil itu karena unik, dia sengaja ngasih pensil inul itu ke gue karena gue bukan orang yang teledor menyimpan barang, enggak kayak dia. Sebenarnya, gue enggak yakin dia ingat kejadian dan pensil inul ini. Tapi, kalau dia tau gue masih menyimpan barang sakral itu, gue bisa-bisa jadi bahan lawakannya dia selama 2 minggu.
Lona itu cantik. Dia enggak pernah sadar itu. Dia terlalu minder sama orang-orang disekitarnya. Karena itu kenapa dia lebih memilih gaya tomboi. Gue memang suka dia apa adanya dan nyamannya aja, tapi gue lebih suka kalau dia mau menunjukkan sisi kecantikannya dengan berdandan lebih feminim seperti perempuan pada umumnya. Dan tentu saja, ini enggak akan pernah gue ceritakan ke Lona. Hem, oke, mungkin suatu hari nanti.
Gue sering diam-diam memerhatikan dia. Cara dia berpakaian, cara dia berbicara, cara dia tersenyum, cara dia tertawa sampai cara dia menangis. Dia selalu bisa membuat gue untuk terus mengalihkan pandangan gue ke dia. Entah karena gue sama dia memang sudah dekat banget atau memang dia mengeluarkan gaya magnet tersendiri buat menarik kutub enggak berdosa kayak gue ini, hahaha.
Gue merasa dia punya perasaan lebih ke gue. Atau mungkin gue yang kepedean? Tapi, biasanya firasat seorang Evandika Putranto tidak pernah salah. Hem, setelah gue pikir-pikir, gawat juga kalau dia punya rasa lebih ke gue. Bukan, bukan karena gue enggak punya rasa lebih ke dia. Karena gue takut semua yang udah kita punya, hilang gitu aja karena rasa itu. Gue bukan orang yang pede buat pacaran serius. Nah, bahaya kan kalau gue sama dia pacaran. Tapi, bukan berarti gue enggak akan serius sama dia. Ada waktunya, tapi enggak sekarang.
Cukup jelas kan rasa gue ke dia?
***
22.02 - 2 Mei 2015
Sabtu, 28 Maret 2015
Yang Tidak Aku Ceritakan; Lona
Lona
Yang tidak aku
ceritakan kepada Evan:
Aku mempunyai blog rahasia, tempat aku mencurahkan isi hati
dan pikiranku tentang ide-ide yang aku punya, tentang cerita-cerita khayalanku,
tentang mimpi-mimpi anehku, dan terutama tentang Evan.
Aku mengirim puisi-puisi cinta yang romantis dengan
nama samaran yang tertanda untuk Evan. Begitu pula dengan beberapa cerita pendek
yang, lagi-lagi, memang untuk Evan.
Aku pergi ke berbagai macam cafe untuk mencicipi rasa setiap kopi
yang mereka miliki. Evan yang menyukai kopi, aku tidak. Kata Evan, kopi adalah
bagian dari hidupnya. Ya, aku ingin sekali merasakan menjadi bagian dari
hidupnya. Jadi, sebelum aku benar-benar menjadi bagian dari hidupnya, aku ingin
mencicipi bagaimana (salah satu) rasa hidup Evan.
Aku senang pergi membeli es krim atau coklat malam hari.
Evan selalu melarangku keluar rumah malam hari, apalagi hanya untuk membeli sekotak
es krim dan sebatang coklat.
Aku mengikuti kelas memasak. Karena pada suatu hari ia
pernah berkata bahwa perempuan yang ia idam-idamkan adalah yang pintar memasak
dan mengaji. Mengaji tentu saja aku bisa walau tidak pintar, tetapi memasak? Oh
tidak. Dan kelas memasak yang aku ikuti bukan kelas memasak biasa. Aku
mengikuti kelas memasak makanan Prancis. Gaya? Iya, memang. Pasalnya, Evan
sangat sangat mencintai masakan Prancis.
***
23.32 - 28 Maret 2015
Kamis, 19 Februari 2015
Pesan Singkat
"Mungkin salahku melewatkanmu, tak mencari sepenuh hati. Maafkan aku." - Sheila On 7-Yang Terlewatkan
Maaf karena aku (dulu) terlalu cepat mengambil keputusan.
Maaf karena aku (dulu) tidak melihatmu.
Maaf karena aku (dulu) terlalu ceroboh untuk sebuah keputusan--yang ternyata berdampak besar.
Maaf karena aku (dulu) terlalu tidak tau diri untuk menghiraukanmu.
Maaf karena aku (dulu) terlalu tidak peka akan keadaan sekitar.
Maaf karena aku... Melewatkanmu.
"Mungkin kini kau tlah menghilang tanpa jejak. Mengubur semua indah kenangan." - Sheila On 7-Seberapa Pantas
Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk pergi.
Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk menghindariku.
Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk menjauh.
Tetapi, jika kamu ingin tau, bukan itu yang aku inginkan.
Tidak bisakah kita tetap berjalan berdampingan dengan hidup kita masing-masing?
Maaf, mungkin aku terdengar egois.
Tetapi, sungguh, aku menginginkan kamu tetap berjalan bersamaku, bersama keputusanku.
Karena kebersamaan dan kenangan yang kamu ciptakan terlalu manis untuk ditinggal begitu saja.
Maafkan kebodohanku yang membuat semuanya menjadi pahit.
Aku memang pantas mendapat hukumannya.
Hukuman bahwa melewatkanmu adalah kesalahan terbesar sepanjang tujuhbelas tahun hidupku.
Maaf karena aku (dulu) terlalu cepat mengambil keputusan.
Maaf karena aku (dulu) tidak melihatmu.
Maaf karena aku (dulu) terlalu ceroboh untuk sebuah keputusan--yang ternyata berdampak besar.
Maaf karena aku (dulu) terlalu tidak tau diri untuk menghiraukanmu.
Maaf karena aku (dulu) terlalu tidak peka akan keadaan sekitar.
Maaf karena aku... Melewatkanmu.
"Mungkin kini kau tlah menghilang tanpa jejak. Mengubur semua indah kenangan." - Sheila On 7-Seberapa Pantas
Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk pergi.
Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk menghindariku.
Pada akhirnya, kamu memutuskan untuk menjauh.
Tetapi, jika kamu ingin tau, bukan itu yang aku inginkan.
Tidak bisakah kita tetap berjalan berdampingan dengan hidup kita masing-masing?
Maaf, mungkin aku terdengar egois.
Tetapi, sungguh, aku menginginkan kamu tetap berjalan bersamaku, bersama keputusanku.
Karena kebersamaan dan kenangan yang kamu ciptakan terlalu manis untuk ditinggal begitu saja.
Maafkan kebodohanku yang membuat semuanya menjadi pahit.
Aku memang pantas mendapat hukumannya.
Hukuman bahwa melewatkanmu adalah kesalahan terbesar sepanjang tujuhbelas tahun hidupku.
Ps: Terima kasih telah menjadi bagian dalam (masa lalu) hidupku. Terima kasih telah jujur kepadaku. Terima kasih telah menyadarkanku banyak hal. Aku merindukanmu. :)
***
20.55 - 19 Februari 2015
Senin, 09 Februari 2015
Surat untuk Stiletto Book

Hallo, Stiletto! Jujur saja ya, saya belum kenal Stilo−eh,bolehkan, ya, saya panggil Stilo? Saya tahu tentang Stilo ini dari salah satu following saya di twitter yang meretweet tweet Stilo di @Stiletto_Book. Kemudian saya klik profil Stilo, dan tidak menunggu lama, saya sudah menjadi salah satu follower baru Stilo. Lalu saya telusuri tweets Stilo, tidak lama saya menemukan website Stiletto−maaf ya saya ini paling malas membaca bio hehe. Hal pertama yang salah lakukan setelah membuka wesite Stilo adalah menilik koleksi novelnya. Iya, saya adalah pecinta novel Indonesia sejati hehe−iya, agak hiperbola ya. Entah karena memang saya suka sekali dengan novel atau karena saya mudah dipersuasikan, saya merasa hampir setengah koleksi novel Stilo itu menarik perhatian saya untuk membelinya haha. Tapi, apadaya uang saku pelajar itu tidak seberapa. Iya, maaf ya, Stilo, ini sedikit curhat.
Kemudian karena keisengan saya, saya meng-klik bagian Tentang Stiletto Book dan membacanya. Dan, oh, saya benar-benar baru tahu bahwa ada penerbit yang menargetkan pembaca utamanya adalah perempuan, atau bahkan mengkhususkan? Ya intinya dunia perempuan deh. Saya baru tahu hehe. Dan satu lagi yang membuat saya menganga lagi, adalah arti logo Stiletto Book. Kutipan yang diambil Stilo untuk memperdalam arti logo juga sangat pas:
Strong women wear their pain like stilettos, no matter how much it hurts, all you see is the beauty of it.
Iya, Stilo, strong women, iya. Hahaha amazing! Stilo sepertinya sangat mengerti bagaimana perempuan ya. I love your filosofi dari logo Stiletto Book itu.
Dan sehubungan dengan lomba yang saya ikuti pada website Stilo, saya akan memberitahu 3 buku Stilo yang saya ingingkan:
Hmm maafkan saya ya, Stilo, karena baru mengenal Stilo dan baru itu saja yang saya tahu tentang Stilo−itupun saya dapatkan dari website Stilo hehe. Semoga Stilo suka dengan surat yang saya kirim ini!
The Guy is Mine. Kenapa saya tertarik dengan novel ini? Karena ini cerita cinta yang tidak biasa. Tentang perempuan normal yang bersaing dengan seorang gay untuk memperebutkan perhatian dan cinta seorang cowok yang saya anggap beruntung karena bisa menarik perhatian dua jenis manusia sekaligus hehehe.
Finally You. Cover novel ini membuat saya penasaran dan berkata "Pasti ada cerita sedihnya nih" dan saat saya membaca sinopsisnya, benar saja! Patah hati memang selalu menarik perhatian. Dan satu lagi yang membuat saya lebih excited, nama salah satu tokohnya adalah nama pacar saya hehehe, Hans. Iya, gimana tidak excited, yakan Stilo?
Pre Wedding Rush. Entah kenapa saya tertarik dengan novel ini begitu membaca sinopsisnya. Dan that's it.
Maaf ya, Stilo, semuanya novel hehe. Karena I love novel so much.
Dan, uh, saya merasa ini seperti 'surat sekali'. Seperti saya mengirim surat kabar pribadi kepada teman. Hehe maafkan saya ya, Stilo.
Dan selamat ulang tahun Stiletto Book!
Semoga di tahun ke-4 ini dapat tercapai semua target-target Stilo. Semoga semakin banyak mengeluarkan buku-buku yang bermanfaat bagi perempuan. Semoga semakin banyak mengeluarkan novel-novel yang seru hehehehe.
Artikel ini diikutsertakan dalam Writing Contest Surat untuk Stiletto Book http://www.stilettobook.com/index.php?page=artikel&id=119
Nama: Furia Ega Tyas Sharfina
Dan saya tidak punya akun instagram hehe, maaf ya, Stilo.
Email: fetyas.sharfina@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)




