Senin, 01 Juli 2024

Berhenti

Buat saat ini, aku enggak bisa ada didalam suatu hubungan.

Katamu kemarin pagi.

Aku hanya tersenyum, mencoba mencerna semua kalimat yang kamu utarakan.

Kamu membalas senyumku dari balik matamu.

Aku masih dapat merasakan segalanya.

Aku tau kamu hanya butuh jeda.

Seharusnya aku mengerti, dan yaa, aku mengerti.

Maka, sejak hari itu, aku berhenti mencarimu.

Sejak hari itu, aku berhenti membuka ruang pesanmu,

hanya untuk membaca ulang semua pesan kita,

atau menunggu status onlinemu.

Sejak hari itu, aku berhenti melihat cerita pada instagrammu.

Sejak hari itu, aku berhenti menyimpan reels tentang kopi dan roti.

Sejak hari itu, aku berhenti melihat postingan kucing yang lucu-lucu.

Sejak hari itu, semua tidak sama lagi.

Tapi ada dua hal yang tidak akan aku hentikan,

berdoa untuk kita 

dan 

doamu yang aku aminkan, 

pada pesan terakhir darimu.

Minggu, 23 Juni 2024

One Fine Day

Cause all of the small things that you do
Are what remind me why I fell for you
And when we're apart and I'm missing you
I close my eyes and all I see is you

Those Eyes - New West

Lagu New West - Those Eyes mengalun pelan pada pemutar musik didalam taksi. Aku sedang dalam perjalanan menuju Stasiun KCIC Halim di jam 5 pagi. Berangkat dengan excitement yang sangat tinggi, lagu Those Eyes terdengar sangat pas di telinga. Hari ini aku akan melakukan perjalanan yang sudah lama kami tunggu-tunggu. Betul, aku tidak sendiri. Kamu akan mengenal sosoknya ketika tiba di stasiun nanti. Mungkin kamu akan merasakan hangat yang sama jika tau seperti apa sosok yang bersamaku ini--setidaknya seperti itu gambar perasaan yang aku miliki saat itu.

"Arya! Arya!" Arya tidak mendengar suaraku. Dia pasti memakai earphone, tebakku.

Suasana Stasiun KCIC Halim tidak terlalu ramai, tenant-tenant masih tutup, pendingin ruangan masih sangat menusuk kulit, pertanda hari masih terlalu pagi untuk aktivitas normal. Kami menaiki kereta pertama yang berangkat pada pukul 06:15 tujuan Padalarang. Ini kali kedua kami ke Bandung hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Bedanya, kali ini kami memiliki tujuan jelas, yaitu menonton standup comedy. Tentu saja, bagian excitednya adalah ini kali pertama perjalanan kami menggunakan kereta cepat. Sepanjang perjalanan, aku tidak menoleh sedikit pun dari jendela, sedangkan Arya asyik dengan playlist di telinganya. Oh iya, tentang Arya.

Perkenalkan, laki-laki kulit putih pucat dengan rambut hitam kecokelatan disampingku ini adalah Arya. Satu-satunya laki-laki yang aku kenal yang minim ekspresi wajah, tapi perubahan moodnya sangat bisa aku rasakan. Selama hampir tiga tahun terakhir ini, Arya ada didalam setiap moment hidupku, begitupun aku didalam hidup Arya. Arya mengerti kapan aku butuh ditemani, aku mengerti kapan aku yang harus "menjemput" Arya atau kami hanya berdiam diri di rumah Arya. Termasuk pagi ini, kami langsung bertemu di Stasiun KCIC, tanpa adegan jemput-menjemput. Aku menyebut ini hubungan sehat dan mandiri, dan memang seharusnya begitu, bukan? Tidak merepotkan satu sama lain.

Tujuan pertama kami begitu sampai di Kota Bandung adalah sarapan bubur di Jalan Braga. Aku lupa bagaimana cara aku merayu Arya supaya setuju dengan usulku, yaitu jalan kaki dari Stasiun Bandung sampai ke Jalan Braga, hehehehe, dan sepanjang kami jalan kaki, dia tidak menunjukan tanda-tanda pemberontakan--karena sering terjadi jika aku usul berjalan kaki. Oh, how much I love him! Arya mencari tempat duduk, sementara aku antri untuk memesan. Dua bubur ayam dan dua air mineral dingin sudah di tangan dan Arya pun sudah menemukan tempat duduk untuk kami. Bubur ini menjadi tujuan pertama karena kami sangat penasaran kenapa bubur ini memiliki antrian yang super panjang dan tidak habis-habis. Tujuan selanjutnya adalah cafe, Arya ingin americano buatan cafe yang belum pernah dia coba. Selalu seperti itu. Mencoba berbagai macam jenis americano atau single origin dengan metode japanese iced coffee untuk Arya dan caffe latte tanpa gula untukku. Dari jenis biji kopi saja, selera kita sudah berbeda. Arya adalah penikmat arabica 100%, sedangkan aku tidak akan kuat dengan arabica. Aku akan memesan kopi robusta, tapi jika hanya ada arabica, aku prefer cappuccino saja atau lychee tea. Baru dari jenis kopi saja kami sudah berbeda, masih banyak sekali hal-hal lain yang  perbedaannya sangat jelas terasa diantara kami. Tapi, bukankah itu menyenangkan? Setidaknya, begitu bagiku.

"Antri burgernya panjang banget, deh. Apa gak usah aja, ya? Kita makan didalam mall aja, deh." Ucapku kepada Arya saat kami sampai di salah satu kedai burger hits didekat salah satu mall besar di Bandung.

"Gak apa-apa, kita antri bareng aja. Kamu pengen banget, kan?" Aku meleleh. I. Cannot. Hehehehehe. Arya bukan orang yang romantis, jadi terbayang, dong? Walau akhirnya aku tetap memilih untuk tidak makan di kedai tersebut.

Setelah makan, kami bergegas untuk segera pergi ke venue stand-up comedy, sebagai tujuan utama kami. Standup comedy yang kami datangi ini adalah event dari salah satu komedian terkenal di Indonesia. Salah satu founder dari standup comedy, Raditya Dika, dalam show Cerita Sebelku. Show standup pertamanya Arya and I love being his first experience.

"Antrian registrasinya panjang banget, tapi aku haus, gimana yaa?" Ucapku asal sambil berpikir.

"Aku beli kopi dingin buat kita di cafe itu, kamu antri registrasi, gimana?" Usul Arya yang kemudian aku jawab dengan anggukan semangat. Aku sangat menyukai semua pembagian tugas ini dan aku selalu suka cara Arya mengerti diriku.

Hari ini adalah salah satu moment terbaik yang kami miliki, setidaknya untuk diriku, walau aku dapat merasakan kebahagian dari dalam diri Arya juga. Perjalanan pulang kami diisi dengan obrolan-obrolan ringan dengan beragam mood didalamnya, termasuk kaki Arya yang lecet dan suaraku yang serak karena tertawa terlalu banyak.

Didalam cerita kali ini, aku semakin tau bahwa perasaan diantara kami adalah nyata. Aku semakin mengerti bahwa kunci utama yang seharusnya ada didalam sebuah hubungan, sudah kami miliki, yaitu komunikasi. Komunikasi akan menghasilkan diskusi-diskusi menyenangkan dengan ups and downs nya masing-masing. 

Setidaknya, itu yang aku rasakan terhadap Arya. Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak berhenti berdoa kepada Tuhan untuk meminta Arya saja. Angin yang menghempas pipiku, aku anggap sebagai sebuah amin dari semesta. Setidaknya, pada saat itu, itu yang ada didalam pikiranku.

Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu

Kenanglah Aku - Naff

Kamis, 20 Juni 2024

Playlist Jogging

Apakah yang engkau cari?
Tak kau temukan dihatiku
Apakah yang engkau inginkan?
Tak dapat lagi kupenuhi

Tak Bisa Memiliki - Samsons

Siapa yang playlist lagu selama jogging malah lagu-lagu slow alias mellow? Iya, aku. Jika ada teman lain yang mengintip  now playing-ku selama jogging, mereka pasti akan tertawa. Kenapa? Alasannya sederhana, jogging adalah salah satu aktivitasku untuk bermonolog dengan diri sendiri. Backsound untuk bermonolog ini sebaiknya mengikuti isi hati, bukan? Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu monologku hanya dengan mendengarkan lagu yang tidak sesuai dengan isi hati saat itu.

Seperti malam ini. Lagu dari Samsons tersebut terus terngiang selama dua hari terakhir. Sejak hari itu, dua hari lalu, aku tidak akan pernah lupa rasa sedih dengan tangan gemetar membaca pesan terakhir yang kamu kirimkan.

Aku sedang berpikir, sebenarnya, aku butuh apa dari hubungan ini.

Rasanya seperti disambar petir. Rumahku runtuh seketika. Semua tembok dan pondasi yang aku bangun dengan banyak sekali waktu dan usaha, hancur berantakan. Karena setelahnya, kamu meminta untuk tidak melanjutkan merawat rumah itu. Kamu pergi dari rumah itu begitu saja, setelah membuat aku harus menambal atap yang bocor sendirian. Kamu pergi tanpa melihat bahwa rumah itu sudah tak bertembok dan atap yang aku tambal, telah jatuh bersama reruntuhan yang lain.

Satu-satunya bentuk pelarian yang terasa mudah adalah berlari. Jogging. Running. Apapun yang kamu sebut. Otakku butuh oksigen lebih banyak, dan sepertinya, badanku membutuhkan keringat-keringat membasahi kulit dan membentuk muka merah kehabisan nafas. Jiwaku seperti haus akan hormon endorfin. 

Selama 5.8 km ini, aku mempertanyakan value yang ada didalam diriku. Apa yang salah dengan caraku? Apa yang seharusnya aku perbaiki didalam hubungan ini? Dan kalimat tanya apa lainnya. Semuanya terngiang-ngiang dan tidak menemukan jawaban yang pasti. Jawaban-jawaban yang bermunculan hanya berdasar spekulasi-spekulasi diri sendiri. Aku tidak berani untuk bertanya straight to the point saat ini, karena untuk apa? Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Rumah itu sudah runtuh. Salah satu penghuninya memilih untuk menghancurkan ruangnya didalam rumah itu. Lagi-lagi, aku tidak berhasil merawat rumahku.

Kamu lagi di mana?

Satu pesan masuk yang membuyarkan lamunanku dari hiruk-pikuk Gelora Bung Karno. Aku semakin sadar bahwa proses ini tidak akan mudah, bahkan bisa jadi lebih sulit dari patah hati sebelum ini. Banyak sekali kebiasaan, aktivitas, dan beragam hal yang sudah sejalan dengan naik turunnya komunikasi dan emosi. Satu pesan yang mungkin tidak bermakna saja bisa menggoyahkan tumpuan kakiku. Aku harus mencari tempat duduk sepi secepatnya. Lagu terakhir dari playlist yang aku set sedang mengalun. 

Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri, cintakulah yang sejati

Malaikat Juga Tahu - Dewi Dee Lestari

Akan aku bagikan playlist joggingku yang terbaru. Playlist khusus untuk menemani overthinking selama jogging. Sungguh, ini bukan sesuatu yang baik, tapi ini cukup membantu diriku mencari jawaban-jawaban dari banyaknya pertanyaan yang tidak akan terjawab.

Playlist jogging.

Perkenalkan, namaku Kia, dan ini adalah chapter pertama dari sebagian warna dalam hidupku. 

Rabu, 19 Juni 2024

Satu Waktu

 "Masih mau habisin waktu sama kamu."

Kalimat terakhir yang aku baca darimu pagi itu.

Semua hanya perihal waktu.
Pagi sebelum itu, 
aku menemukanmu, dengan versi ragu.
Pagi sebelum itu, 
senyumku berubah menjadi sendu.
Pagi sebelum itu,
pertahananku runtuh tanpa tau malu.

Waktu ke waktu yang aku jalani,
dengan berbagai macam kondisi,
dengan beragam emosi,
dan dengan kepingan-kepingan hati,
berhasil membuat satu rumah baru yang siap untuk aku bagi.

Aku tidak akan menyesali waktu,
dan rumah baru,
yang aku bagi denganmu.

Walau saat pagi itu,
waktu menjawab semua risau,
waktu menciptakan luka baru,
dan waktu menghadirkan cemburu yang menggebu.

Rumah itu tidak sama lagi.
Tidak lagi ada kamu dengan kalimat sapa, "Haai".
Tidak lagi ada kamu dengan kemeja putih,
yang menungguku sendiri,
disudut cafe Anomali.

Nyatanya kini,
kita tidak memiliki banyak waktu saling membersamai,
seperti katamu tempo hari.

Kamis, 23 November 2023

Tamparan Satu Hari

Disclaimer dulu, tulisan ini dibuat dengan kondisi baru tidur tiga jam per hari selama dua hari berturut-turut. Harap maklum.

HEHEHE.

Hello again, world! Enggak tau dapat angin dari mana, jadi suka blogging lagi, even cuma baca-baca blog orang atau baca ulang tulisan sendiri yang dulu-dulu pun draft alias tulisan tidak layak tayang WKWKWK.

Ada satu moment dimana gue mempertanyakan kepada diri sendiri, kenapa gue idealis banget? Kenapa gue keras kepala? Kenapa juga gue bisa gampang all out on everything? Dan sadar banyak hal tidak penting dari all out nya gue.

Hari ini pertanyaan itu terjawab. Orang tua berperan sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Gue percaya, di mana seorang anak dibesarkan, di situ pula ia akan terbentuk. Mungkin lebih tepatnya the closest relationship, bisa dari orang tua, bisa dari kakek nenek, atau siapa pun itu. 

Hari ini mereka menunjukan (lagi) bahwa berbagi tidak akan pernah membuat kita merasa "haus" dan "miskin". Mereka menunjukan ke gue bahwa percaya dan bertanggungjawab sama setiap pilihan yang sudah diambil. Pagi-pagi gue udah pusing karena workshop belum dimulai karena peserta belum ada yang datang sama sekali padahal sudah lebih lima menit dari jam di jadwal. Ini super jarang banget terjadi, 1/1000? Gue tanya ke papa kenapa belum pada datang, kalian tau jawaban papa apa?

"Mungkin macet. Gurunya juga belum ada konfirmasi dari kemarin, sih."

Kalau ini event gue, pasti langsung gue bawelin PIC, humas, or apapun itu. Gue tanya kenapa enggak dichat dan jawabannya bikin gue makin naik pitam (of course cuma dipendem sendiri).

"Enggak usah, biarin aja. Toh minggu lalu kepala sekolahnya langsung yang bilang, kok. Mereka enggak mungkin tiba-tiba cancel, kan?"

"Toh kalaupun beneran tiba-tiba enggak jadi, yaa engga apa-apa. Bagus, kita jadi ada waktu buat packing."

Gimana perasaan lo mendengar itu semua dengan segala hal yang udah lo lihat dan lo kerjakan buat mempersiapkan itu semua? Gimana rasanya mendengar beliau ngomong dengan sesantai itu di saat lo tau kalau workshop hari ini adalah non-profit? Iya, lo akan rugi jauh lebih banyak, dalam semua hal.

Otak gue langsung bercabang. Kalau iya cancel dadakan, betul bisa packing dan santai buat jadwal kereta sore. Nah, gimana kalau ternyata mereka telat yang telat banget gitu? Mundur satu jam sama dengan mundur juga jadwal sore kami alias enggak bisa, dong? Tiket bisa hangus dan jadwal besok sampai lusa bisa kacau. Pada akhirnya, mereka datang di menit ke-30 dari jam seharusnya. Gue kira, gue akan dengan gampangnya pasang muka sebal, tapi ternyata enggak juga. Hati gue langsung hangat begitu melihat beliau sebegitu-passionate-nya ngajar anak-anak SMA ini, tanpa adanya perbedaan antara profit dan nono-profit. Gue sadar, pola pikir gue sudah banyak banget berubah dan gue merasa bersalah.




Setiap hal yang beliau lakukan super all out. Beliau menunjukan kembali action dari tanggungjawab terhadap pilihan yang sudah diambil. Waktu itu salah satu sahabat gue bilang, "Kalau udah terlanjur basah, yaa nyebur aja sekalian. Jangan cuma kepet-kepet kaki doang." Syukurnya, gue selalu dikelilingin orang-orang yang sejalan dengan apa yang ditanamkan di diri gue dari kecil. Mungkin ada beberapa yang tidak, tapi masih bisa didiskusikan dan tetap pada tujuan dan frekuensi yang sama.

Dulu pernah ada yang "nyepelein" kenapa gue mau terus-terusan ikut acara sosial (alias sosmas, salah satu bidang saat organisasi di kampus), kenapa gue enggak ambil bidang lain selain sosmas? Kalau ini gue yang dulu, gue akan dengan gampangnya bilang bahwa ini panggilan jiwa karena semua hal baik akan kembali dengan baik. Tapi gue yang sekarang enggak akan dengan mudahnya mengatakan hal yang sama. Gue yang sekarang akan penuh dengan perhitungan-perhitungan yang -menurut gue- lebih realistis. Iya, gue berbicara uang di sini. Sepertinya, gue hari ini kembali diingatkan Tuhan. Realistis memang harus, tapi jangan sampai lupa dengan misi kebaikan lainnya. Walau gue enggak tau akan punya semua pemikiran ini sampai kapan. Syukur-syukur sampai lima tahun ke depan, atau lebih baik lagi sampai gue bisa seumur orang tua gue?

Udah lama banget gue enggak pernah dengar tentang berbagi dan menyebar banyak kebaikan dari mulut orang tua langsung. Hari ini gue mendengar dan melihat itu semua, lagi.


Sekali lagi, gue menulis ini dengan kondisi badan dua hari cuma tidur total 6 jam. Kalau beberapa hari ke depan kalian tidak melihat tulisan ini lagi, berarti sebenarnya tulisan ini tidak layak tayang versi gue, alias enggak jelas anjir ini gue ngetik apa?

See you, world!

Selasa, 21 November 2023

Hello, The New Era!

 It's been a while.

Hello, world! I miss yoUUUU so mUch! Super kangen nulis blog. Kangen my old world (?) WKWKWK iya, aku masih lebay gini. Gak banyak berubah, kecuali orang-orang didalam hidup dan pola pikir.

Dan... mimpi. Iya, my dreams. All of my dreams. Semua berubah. Satu yang tidak, perpustakaan untuk anak jalanan. Tolong doain banget ya, guyss. HEHEHE.

So, how's your world? Covid banyak mengubah kebiasaan-kebiasaan kalian, kah? Overheard di Transjakarta kemarin, "Ternyata covid udah 3 tahun yang lalu. Kita semua survived." Kemudian aku dalam hati kayak, "Anjir, demi apa udah 3 tahun?" Bukan mau bilang cepet, tapi enggak banget, kayak, wow! Aku keren, kita semua keren!

But here we go... Menata kembali semua rencana-rencana yang gagal, merapikan kembali hal-hal yang berantakan. Menguatkan hati lagi untuk tetap berdiri dan percaya kalau kita tetap on our own track

Banyak hal yang terjadi selama tiga tahun ini. Kalian semua tau, kita semua pun begitu. Banyak hal yang mengubah presepsi dan konsepsi kita dalam melihat dan menjalani hidup. Terutama perjalanan spiritual.

Aku yang tiga tahun lalu tidak akan menyangka sekarang aku ada di titik ini. Di titik yang sedang bergejolak dengan diri sendiri, apakah baik melangkah lebih ke kanan? Atau harus tetap berada di jalur tengah demi bisa merasakan hawa-hawa kekirian? Di titik yang berpikir, mungkin mati muda dapat menjadi salah satu opsi baik yang dapat dipertimbangkan. Bukan berarti aku bersih dari dosa dan tidak takut siksa kubur, bukan sama sekali. Jauh dari itu, aku tau perang yang akan aku hadapi nantinya tidak membuat orang sekitarku terbebani (i think so).

Kita semua pasti punya the lowest point selama tiga tahun ini. Seiring berjalannya waktu, kita semua pun pasti mengalami banyak titik balik. Coba lihat, deh. Bagaimana kondisi diri kamu saat ini? Apakah cukup senang dan tenang? Apakah orang-orang yang bersama kalian masih tetap sama? If the answer is yes, glad for you. Jaga mereka, yaa. Semoga hubungan-hubungan baik selalu menyertai.

Aku enggak tau apa yang mau aku ketik di sini, jujurly, cuma mau ngetik apapun yang ada diotak detik ini juga. By the way, apakah perjalanan kalian selama tiga tahun ini sudah membuat kalian merasa hidup? Sepertinya, banyak juga diantara kita yang membutuhkan pertolongan profesional dalam melanjutkannya, ya? Aku sedang berpikir sepertinya aku butuh. Bukan aku tidak mau, tapi masih dalam perdebatan egoku. Aku masih merasa aku dapat menyelesaikannya sendiri. Aku masih merasa aku harus memperbaiki dialogku dengan Tuhan dan orang-orang sekitarku terlebih dulu, sebelum aku berdialog dengan profesional. Jujur, takut. 

Kalian jangan ikuti ini, ya. Jika kalian butuh, go ahead! Jangan ragu, jangan banyak pertimbangan. 

Guys, keep going, yaa! Please.. I really mean it.


Tertanda,

Aku, the new era of life.



Sabtu, 17 Juli 2021

I Just Love You

Tulisan ini akan menyentuh kamu.
Iya, kamu.
Kamu akan tau kalau ini memang tentang kamu.

Uhmm..
It's been a long time.
Bertukar kabar sudah bukan menjadi rutinitas lagi.
Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang menginterpretasikan sebuah perhatian dan pengganti kehadiran.
Tidak ada lagi celetuk-celetuk konyol yang mengisi ruang-ruang kosong.
Tidak ada lagi gossip-gossip hangat yang membuat jiwa tetap saling dekat.
Tidak ada lagi... kamu.

Warna itu kini kembali menjadi hitam dan putih.
Langkah kaki ini menjadi tidak terarah. 
Tidak tau jalan mana yang harus ia tapaki.
Tidak tau angin mana yang harus ia ikuti.
Semua menjadi hampa, kembali.
Tepat seperti sebelum ada kamu di sini.

Sungguh, tidak ada penyesalan.
Rasa yang ada selama ini--bahkan hingga detik ini--menguatkan dalam segala aspek.
Terima kasih sudah memberikan dan menumbuhkan rasa yang begitu candu kepada jiwa kosong yang gelap ini.
Maaf jika ternyata tidak banyak yang dapat diberikan oleh hati dan tangan ini.

Kamu tau,
akan selalu ada lilin padam yang menunggu untuk dinyalakan.
Hanya untuk satu tujuan.
Memberikanmu penerangan untuk melihat langkah yang tepat, 
atau hanya sekedar menemani hari-harimu yang gelap.



Regards, 
Yours.

***
Jakarta, 17 Juli 2021

Minggu, 13 Juni 2021

Katamu Tempo Hari

"Jangan menyerah, ya?"

Katamu saat itu yang aku anggukan.

Sejak saat itu, aku berusaha sebaik mungkin, aku berusaha memberikan apa yang bisa aku berikan. Termasuk duniaku.
Aku bertahan dengan apa-apa yang aku yakini, termasuk perasaanmu dan tindak-tandukmu.

Salahku, memang. Menaruh semua mimpi pada satu hati.
Mempercayakan sepenuhnya untuk sesuatu--yang bahkan--kamu sendiri tidak tegas. Tidak yakin. Hanya bisa berkata, "Aku tidak tau. Aku bingung."
Kalau kamu saja bingung dengan perasaan dan dirimu sendiri, bagaimana dengan aku?

Bodohnya, bagaimana bisa aku masih saja terus berharap dengan semua kegilaan ini?
Bagaimana bisa aku bertahan dengan semua rasa sakit ini?
Dan sampai di titik ini, hal-hal itu masih aku genggam. Dengan harapan--yang ternyata--masih sama.

Aku terus berjalan, tentu saja.
Aku akan berpindah, nantinya.
Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.
Hanya saja, melangkah dengan tidak terseok-seok dan tidak menangis sesenggukkan itu tidak mudah.


***
Jakarta, 13 Juni 2021

Selasa, 25 Mei 2021

Hal-Hal Baik

Senyum itu perlahan menghilang
Tidak dapat lagi 'ku lihat
Atau hanya sekedar 'ku bayangkan

Genggaman itu terlepas
Menyisakan hangat yang terus menjalar
Atau hanya aku saja yang mencoba agar rasa hangat itu tetap ada?

Kaki itu menjauh
Meninggalkan jejak yang tak mampu 'ku hapuskan
Atau hanya saja, aku yang tak mau?

Sorot mata itu memudar
Tidak lagi memancarkan cahaya yang sama
Atau memang sudah sejak lama dan aku baru menyadarinya?

Tidak apa-apa
Setidaknya semua itu pernah ada
Pernah masuk ke dalam dunia kecilku

Kamu dan hal-hal terbaik yang pernah terjadi kepadaku

Aku dan kamu akan bahagia
dengan atau tanpa kata kita


***
Jakarta, 25 Mei 2021

Sabtu, 27 Februari 2021

Satu Arah Dua Tujuan

 I love you but I am letting go

Berapa lama waktu yang dibutuhkan pikiran dan hati untuk mencerna sebuah kejadian? Mengapa semua terasa begitu lambat?

Ketukan pintu kamar menyadarkan Vira lamunannya. Alih-alih membukakan pintu atau menjawab ketukan, Vira semakin menenggelamkan diri didalam selimut dan membesarkan volume pada earphone-nya.

Little did I know, love is easy, but why was it so hard?

Vira memejamkan mata. Berusaha membangkitkan memori-memori yang seharusnya ia pupuk dalam-dalam. Dipelupuk matanya sudah terbentuk bulir-bulir yang menunggu waktu untuk dapat menyentuh pipi. Lagi-lagi, Vira menangis hingga terlelap.

***

Tok tok tok

"Vir, kamu beneran belum bangun? Vir?" Tok tok tok

"Udah, kok, Ma. Mau tiduran aja."

"Ini udah ada yang nunggu. Kasian loh, pagi-pagi udah dateng ke sini."

Vira langsung loncat dari tempat tidur dan melihat jam dinding. Pukul 8 pagi dan siapa yang berani ganggu Minggu pagi gue? Katanya dalam hati sembari memilih baju yang sedikit layak untuk dilihat orang lain. Sebelum masuk kamar mandi, Vira bertanya sedikit membisik siapa yang datang ke mama. Mama hanya tersenyum dan Vira semakin cemberut. Firasatnya semakin menjadi-jadi. 

Dan ternyata benar, ia yang sedang menunggu di rumah tamu adalah orang yang paling tidak ia harapkan di dunia ini.

"Kita ngobrol di luar aja, ya. Sekalian cari sarapan." Ucap Vira tanpa sapaan pembuka. Alih-alih menjawab, lelaki yang sedari tadi hanya menunduk, langsung berdiri dan dengan sigap mengambil tas dan memakai sepatu. Vira sudah berjalan menjauhi pagar rumah. Langkahnya sangat cepat, tanda bahwa ia sedang marah.

"Vir, kita enggak bisa jalan pelan-pelan, ya? Kita mau ke mana, sih?"

"McDonald's."

"Kenapa jalan kaki, sih? Kan, kita bisa naik motor atau mobil."

Vira hanya diam dan semakin mempercepat langkahnya. Dalam hatinya, Vira takut, jika harus didalam satu ruangan yang hanya mereka berdua. Vira takut pertahanannya melemah.

"Aku yang pesenin aja, Vir. Kamu duduk aja."

"Enggak perlu, gue bisa sendiri."

***

Mata lelaki itu tidak bisa lepas dari kesibukan yang Vira buat-buat. Ada sesuatu yang menusuk di hati lelaki itu, dalam sekali. Ia tidak pernah merasakan sakit yang terlalu, seperti saat ini. Ia mengerti, rasa ini tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang telah ia berikan kepada perempuan berambut hitam legam yang sedang dikuncir kuda didepannya ini. Untuk saat ini, yang ia inginkan hanya menaruh tangan kanannya diatas kepala perempuan itu dan mengacak-acak rambutnya, agar Vira tersenyum. Tapi, itu tidak akan bisa ia lakukan.

"Kalau tujuan lo ke sini cuma buat ngeliatin gue doang, mending lo pulang sekarang."

"Aku.. Aku cuma mau minta maaf, Vir."

Vira kembali mengaduk-aduk kopi didepannya, tidak berminat untuk menatap lawan bicaranya, walau ia tau kedua mata yang meneduhkan hatinya itu sedang menatapnya dalam-dalam. Vira takut terhanyut didalamnya. Untuk kesekian kalinya.

"Aku tau semua enggak akan pernah sama lagi. Aku juga tau akan susah buat ambil hati kamu lagi, tapi tolong, maafin aku, Vir."

Vira menahan bibirnya untuk berbicara, lo salah, hati gue masih ada sama lo, jadi enggak ada yang perlu lo ambil, lo salah, katanya dalam hati. Vira tidak akan mengutarakan apapun yang akan membuatnya jatuh ke dalam lubang yang sama lagi. Setidaknya, untuk hari ini dan dalam waktu dekat. 

"Mungkin enggak usah dimaafin sekarang, gapapa. Maafinnya bisa besok atau lusa atau minggu depan, tapi yang jelas, tolong dimaafin, ya, Vir?" 

Ia meraih dagu Vira agar Vira menatap matanya. Dua pasang mata yang sama-sama menyiratkan rasa sayang dan rasa sakit yang bersamaan. Dua pasang mata yang sama-sama tidak ada yang ingin saling mememutuskan tatapan tersebut. Bagi Vira, jatuh ke dalam tatapan mata lelaki didepannya ini adalah hal menyenangkan. Jika ini dalam kondisi baik-baik saja, ia akan sangat senang dengan moment ini, ia akan senyum-senyum sembari menatap lebih dalam lagi. Unfortunately, ini bukan kondisi yang ia inginkan. Dalam waktu yang sengat cepat, ia akan kehilangan tatapan yang ia sukai itu. Cepat atau lambat, tatapan tersebut akan menjadi miliki perempuan lain yang ia tidak pernah tau siapa dan seperti apa. Semoga perempuan itu adalah perempuan yang membuat kamu cukup, katanya didalam hati, untuk beribu kalinya.

"Iya, gue maafin dan akan mencoba ikhlas. Lo gausah khawatir, lo tau kan, untuk soal memaafkan gue sangat cepat, tapi enggak untuk mengikhlaskan dan menerima kembali. Maaf.."

"Aku masih boleh ketemu kamu?"

"Untuk berteman dan bergaul dengan teman-teman yang lain, seperti biasa? Tentu bisa."

Ia menggenggam kedua tangan Vira. Menyimpan tangan kecilnya kedalam tangannya yang besar. 

"Vir, kalau kamu butuh bantuan atau apapun itu, kamu bisa kabarin aku."

"Emang cewek lo gak akan marah?"

"Vir..."

"Iya, okay." Vira menarik kembali tangannya. Hatinya masih membara. Memaafkan memang mudah, tapi mengetahui lelaki yang kamu sayangi bersama perempuan lain? Sulit sekali menerima kenyataan itu.

"Aku pesenin kamu ojek online, ya? Biar kamu enggak usah jalan kaki ke rumah."

"Gausah, gue mau jalan aja."

"Nanti kamu capek."

"Lo udah kenal gue berapa tahun, sih?"

Lelaki tersebut menelan ludah. Ia tau jika Vira memang keras kepala, tapi ia melupakan fakta bahwa Vira menyukai jalan kaki dan menikmati waktu-waktu sendirinya, terutama di kondisi seperti ini.

"Lo aja sana pesen ojek online. Gue tau lo gak bisa jalan kaki terlalu jauh."

"Tapi motor aku di rumah kamu."

"Ya lo pesennya ke rumah gue lah."

"Enggak, aku ikut kamu jalan kaki aja."

Vira menatapnya tajam. Lagi-lagi, lelaki itu sadar, bahwa ia tidak cukup mengenal perempuan yang sangat mengenalnya ini.

"Iya, iya, aku jalannya dibelakang kamu."

"Okay, yuk." Vira berdiri sambil menjulurkan tangannya.

"Dalam rangka apa?" Tanya lelaki tersebut sembari menyusul berdiri dan menyambut uluran tangan Vira.

"Kita berteman?" Vira tersenyum. Tidak lepas memang, tetapi didalam hatinya, seperti ada sesuatu yang lepas. Lega sekali.

Lelaki tersebut balas tersenyum dan mengayunkan jabat tangan mereka, "Iya, teman."

Vira berjalan lebih dulu, ia membiarkan lelaki itu tertinggal dibelakangnya. Ia sudah pernah bilang berkali-kali bahwa ia sangat menyukai jalan kaki dan menikmati waktu-waktu tersebut. Jadi jangan salahkan Vira, jika ia meninggalkan lelaki tersebut. Tapi Vira tau, mata lelaki tersebut tidak pernah lepas dari punggungnya. 

Semoga perempuan itu adalah perempuan yang bisa membuat kamu merasa cukup. Cukup hanya memiliki satu. Semoga perempuan yang beruntung itu bisa menyayangi kamu sebaik aku menyayangi kamu, bahkan lebih dari aku. Semoga kamu tidak akan membuat banyak hati terluka lagi, cukup berhenti di aku, ya? 

Ucap Vira dalam hati dan diikuti dengan tetesan air dari ujung matanya. Vira berjalan dalam derasnya air mata yang mengalir. Ia tersenyum, ternyata rasa sakit yang ia rasakan bisa menemukan rasa lega diantaranya. Langkah mereka mungkin bersisian dan satu arah, tetapi tujuan mereka tidak lagi sama. Setelah ini, Vira akan terus melanjutkan hidupnya, dengan harapan tidak terlalu terseok-seok, dan lelaki tersebut akan pulang ke tempat yang mungkin ia anggap rumah. 

Satu hal yang tidak Vira sampaikan, ia masih menyayangi lelaki tersebut seperti semua baik-baik saja.


But now I'll go
Sit on the floor wearing your clothes
All that I know is I don't know
How to be something you miss
I never thought we'd have a last kiss
Never imagined we'd end like this
Your name, forever the name on my lips

Last Kiss - Taylor Swift


***

Jakarta, 27 Februari 2021

Kamis, 31 Desember 2020

Tiga Rasa Dari Caraka

Aku mau ngobrol. Ketemu, yuk?

1 new message

Minggu pagiku berantakan. Siapa yang tidak panik? Tiba-tiba dapat notifikasi seperti itu dari so-called-boyfriend, huh? Overthinking-ku kumat, kemarin aku habis buat salah apa, ya? Sepertinya, kemarin kami tidak banyak berbicara, bahkan berbalas pesan dapat dihitung dengan jari. Sebaiknya aku balas apa, ya?

Namanya Caraka. Aku lebih suka panggil Caka, berbeda dengan panggilan teman-temannya, Raka. Sudah hampir satu bulan hubungan kami, hmmm, hambar? Aku tidak pandai dalam mendeskripsikan rasa dalam hubungan ini. Hanya dua rasa yang aku benar-benar tau. Rasa senang, ketika kami sedang melakukan aktivitas bersama atau ketika dia mengajakku untuk menemaninya hunting foto. Rasa sedih, ketika acara kami batal atau ketika dia tidak jadi menjemputku di tempat kursus. Karena itu, dalam satu bulan ini, aku tidak paham rasa apa yang ada dalam hubungan ini. Ini rasa baru bagiku. Tidak bagi Caka. Aku mengerti itu. Ah, betul juga, ia hanya minta ketemu untuk ngobrol seperti biasa, bukan? Aku harus mengerti.

First Crack Coffee, pukul 2 siang. Aku tunggu di sana, Elina.

Overthinking-ku yang kedua; Caka memanggilku menggunakan nama panggilan lengkap, tidak seperti biasanya yang hanya "El" atau "Na". Okay, kalian sudah boleh mengumpat kepadaku sekarang. Karena aku pun sedang benci diriku sendiri di saat-saat seperti ini. Sepertinya aku tetap harus mandi dengan aroma cokelat dan luluran, dengan ditemani relaxing piano music, seperti biasa. Kegiatan relaxation shower-ku hanya terjadi di setiap hari Minggu pagi, tujuan awalnya hanya untuk menenangkan diri setelah 6 hari bekerja keras. Semua keluarga dan teman dekatku tau bahwa aku paling benci diganggu Minggu pagi. Karena selain relaxation shower, agenda relaksasi lainnya yaitu membuat sarapan sendiri, sesuai mood tentunya. Hari ini sudah aku rencanakan untuk membuat sandwich isi telur dan keju, juga jus mangga sebagai pendampingnya. Tetap. Harus. Aku. Lakukan. 

Caka seharusnya tau bahwa mengganggu Minggu pagiku akan berakibat fatal selama 24 jam kedepan. Aku tau ada yang tidak beres dengan Caka dan pesannya. Aku hanya berusaha menumbuhkan positive vibes untuk diriku sendiri. Ah, dan satu lagi yang aku yakin tidak beres adalah tempat bertemu! Sejak kapan Caka mau ke daerah Kebayoran Baru di hari Sabtu dan Minggu?

***

"Maaf, ya, terlalu jauh dari rumah kamu." Sapaan Caka ketika aku menjatuhkan diri ke bangku sofa didepannya. Pilihan meja Caka memang tidak pernah salah. Bangku sofa untuk dua orang di pojok ruangan dengan cahaya yang cukup untuk membaca buku dan sudut pemandangan yang cukup untuk memanjakan mata.

"Gapapa, kok. Tumben banget, ada apa?"

"Kamu enggak mau pesan sesuatu dulu? Aku sudah pesankan kamu Coffee Latte, sih, tapi siapa tau kamu ingin yang lain?"

Aku balas dengan mengerutkan kening. Tidak biasanya Caka berbasa-basi seperti ini. Dia tau aku mengerti keadaan ini, maka dia menutup mulut dan kembali terhanyut ke dalam lamunannya sembari mengaduk-aduk cangkir kopi hitam yang tinggal setengah.

"Ada apa, Caka? Kamu tau aku akan selalu mengerti, bukan?" 

Caka mengehela nafas. Seharusnya ia tau aku tidak akan diam sampai ia berbicara, tapi kali ini aku kehabisan energi. Entah sejak kapan, berhadapan dengan Caka memakan banyak energiku. Tanpa sadar, aku lelah dengan apa yang kami jalani. Aku hanya mencoba untuk denial selama yang aku mampu. Tapi, tidak untuk sekarang, biarkan saja mengalir seperti seharusnya.

"Kita tidak bisa seperti ini terus, El. Aku tidak bisa."

"Kenapa? Ada apa? Ada yang salah dariku? Atau dari hubungan ini?"

"Kamu tidak salah, tidak ada yang salah. Aku saja yang tidak lagi bisa 'ada' didalam hubungan ini."

"Tapi, kenapa?" Aku tidak boleh terisak sekarang. Ini masih terlalu dini.

"Aku sudah tidak menumbuhkan api dan menaruh nyawa didalam hubungan ini. Aku masih haus. Aku belum merasa 'cukup'." Caka memajukan badan, kedua tangannya meraih tanganku yang sedang bertaut. Pramusaji menginterupsi kami. Setidaknya, aku punya waktu beberapa detik untuk menikmati tangannya yang menggenggam kedua tanganku, dalam diam.

"El, aku sudah tidak bisa menjalankan hubungan ini lagi. Hubungan ini terlalu baik dan terlalu nyaman untukku. Kamu tau aku tidak bisa menetap lama di satu tempat, bukan?"

"Aku tau. Aku juga tau kamu tidak akan pernah cukup hanya dengan aku didalamnya. Belum merasa cukup."

"Maaf, El.."

"Iya, aku tau kamu tidak bermaksud, kok, aku mengerti. Jiwa kamu memang belum sepenuhnya ingin bersamaku. Aku mengerti, Caka."

"Maaf karena ternyata aku membuatmu merasakan sakit. Maaf karena sudah tidak tegas dalam hubungan ini. Maaf juga aku tidak bisa menemanimu menghabiskan sore, menemanimu membaca buku sampai mengabiskan tiga cangkir kopi. Tidak bisa lagi mengajarimu melukis, mengajarimu membuat dessert yang lucu-lucu. Maaf.."

Aku tertawa kecil mendengar Caka berbicara. Ah, betul juga, sudah banyak hal yang kami lewati selama dua tahun ini. Aku rasa, ini rekor untuknya yang menetap cukup lama pada satu orang dan menghabiskan hari dengan manusia membosankan sepertiku.

"Tidak apa-apa Caka. Aku mengerti. Aku seharusnya lebih siap untuk perpisahan ini, aku seharusnya sudah tau ke mana ujung dari hubungan ini. Aku hanya tidak menyangka hanya sampai di bulan ini, tepat tahun kedua kita bersama."

"Kamu tau, kamu yang terhebat karena bisa membuatku sejauh ini. Terima kasih banyak, Elina."

"Aku mengerti. Tidak usah ucapkan kata perpisahan atau semacamnya. Itu hanya membuatku semakin berat hati."

"Iya, terima kasih sudah mau menemaniku sampai di titik ini, El."

"Terima kasih juga sudah bertahan denganku selama ini, Caraka."

"Aku boleh peluk kamu untuk yang terakhir?"

Aku merentangkan tangan. Memeluknya untuk yang terakhir ternyata tidak sesulit itu. Mungkin yang sulit adalah menerima rasa baru yang hadir dalam diriku. Rasa sakit. Ternyata, Caraka menorehkan rasa baru. Rasa yang seharusnya sudah aku persiapkan, tetapi ternyata tidak akan pernah siap.

Seperti arti namanya, pengembara, Caraka akan selalu mengembara sampai ia merasa lelah. Caraka tidak akan diam di satu titik. Ia akan terus berpindah, entah kapan ia merasa lelah. Satu hal yang tidak aku mengerti dari Caraka, yaa hanya itu. Kenapa ia tidak pernah merasa lelah dalam mencari?

Aku tidak mengerti.

Tetapi tak apa, aku merasa cukup bersyukur dengan kehangatan hubungan ini walau sebentar.

Karena sudah pasti, ada hal yang tidak akan ia mengerti juga. Ia tidak akan mengerti sehebat apa rasa yang sudah ia berikan untuk perempuan biasa saja sepertiku. Ia tidak akan mengerti sekuat apa perasaan ini untuknya. Bahkan jika ia memintaku untuk menunggunya suatu hari nanti, aku akan siap. Ia tidak akan mengerti itu.

Tak apa. Aku rasa aku cukup kuat untuk semua ini.

***

Jakarta, 31 Desember 2020.

Penutup tahun yang sedikit berat dan menguras emosi. Terima kasih atas pelajaran hidupnya, 2020!

Minggu, 05 Juli 2020

Tulisan Untuk Diri Sendiri

"Kita tidak akan pernah bisa memuaskan ekspektasi setiap orang."

"Kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang senang."

"Banyak hal terjadi diluar kontrol kita."

Tidak, kamu tidak salah.
Semua hal yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bukan salahmu.
Semua rasa yang tertuang memang sudah seharusnya ada. Bukan salahmu.

Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja. Mungkin memang tidak sekarang, tapi nanti.
Nanti pasti baik-baik saja. Seperti sebelum dia ada.
Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi.
Kamu hanya perlu berjuang lebih lagi.

Kalau memang mimpi itu tidak untuk menjadi nyata,
Kalau memang dia pun tidak untuk menjadi ada,
Tidak apa-apa. 
Mungkin memang bukan di sana jalan yang sudah semesta gariskan untukmu.
Mungkin memang kamu perlu berganti arah untuk merasa hidup, merasa utuh.

Setiap kaki memiliki langkahnya sendiri.
Belum saatnya untuk menyerah.
Berhenti sebentar boleh, untuk sedikit merasakan semua yang sudah terjadi, untuk menarik napas dan mengumpulkan keberanian dan tenaga agar semakin kuat.
Berhenti saja, sebentar, dan lihat sekelilingmu. Kamu dikelilingi mereka yang siap menjadi tangan untuk kamu genggam dan menjadi bahu untuk kamu bersandar sebentar.
Kamu mungkin tidak bisa membuat mereka senang sepenuhnya.
Kamu mungkin tidak akan bisa memenuhi semua ekspektasi mereka seluruhnya.
Tapi kamu pasti bisa menjadi baik. Demi diri kamu sendiri.

Apapun yang akan terjadi nantinya, 
Percaya saja, ia yang memang untukmu tidak akan pergi darimu.
Percaya saja, mimpi yang sudah ditakdirkan untukmu, tidak akan mengecewakan.


***
Jakarta, 5 Juli 2020

Jumat, 01 Mei 2020

Satu Yang Tidak Pasti

"Kenapa selalu maksain, sih?"

Arin tau, itu akan jadi kalimat tanya pertama yang keluar dari mulut Rendi. Arin menjawab dengan senyuman. Kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke panggung. Band yang ditunggu Rendi belum tampil.

"Lo mau duduk dulu? Kita ke backstage sebentar, yuk?"

"Enggak, tanggung, Ren. I am ok, dont worry."

Rendi menghela nafas dan mengalihkan pandangan untuk melihat sekitar. Ia menangkap bayangan Lia, teman seperdivisinya, dan menanyakan sesuatu yang tidak bisa Arin dengar.

Setelah beberapa menit Lia menghilang dari keduanya, ia kembali lagi dengan membawa segelas teh manis hangat.

"Thanks, ya, Li." ucap Rendi, yang kemudian ia berikan gelas tersebut kepada Arin.

"Lo minum. Habiskan, ya." Arin terkejut dan menerima gelas dengan pipi bersemu. Rendi tersenyum menyaksikan pemandangan tersebut.

"By the way, gue baca cerita-cerita terbaru di blog lo." ucap Rendi dan membuat Arin tersedak. Hawa panas menjalar disekujur tubuh Arin. Tangannya mulai sedikit gemetar.

"Gue enggak salah denger?"

"Enggak, gue serius, Rin. Gue baca cerita tentang Fin dan Sandi. Gue baru tau, lo bisa tau sedetail itu tentang Spanyol." jawab Rendi dengan mata berbinar.

Yaa karena lo suka negara itu, Ren, dan gue riset. Jawab Arin dalam hati. Ia masih salah tingkah. Arin memang mem-publish cerita-ceritanya di blog, tapi ia tidak menyangka Rendi--muse-nya--akan membaca cerita tersebut.

"Bukannya lo enggak suka cerita romance? Kok, lo baca itu?" ujar Arin. Iya, hanya itu yang bisa diucapkan.

"Iseng aja, hehe." kata Rendi dengan melirik curiga ke arah Arin.

"Minggu depan endingnya. Gue udah kehilangan chemistry sama kedua tokoh itu." ucap Arin dengan mata memandang jauh kedepan. Ia membayangkan kembali cerita antara Fin dan Sandi, sudah terlalu lama mereka bercerita dan tidak menemui ending-nya. Arin sudah mulai bosan dengan kemungkinan-kemungkinan dari cerita-cerita yang ia tulis. Sudah tidak menemukan feel-nya lagi.

"Loh, kenapa?" Rendi langsung mengalihkan pandangan dan mengubah posisi badan ke arah Arin. Ia menatap lurus-lurus wajah Arin.

"Gue udah tau ending yang cocok buat cerita itu. Toh, bosen juga kalau terlalu lama."

"Bagaimana endingnya?"

"Berpisah. Mereka akhirnya terpisah jarak dan tidak bisa meneruskan hubungan yang mereka jalin. Udah terlalu lama mereka hanya bercerita tanpa tujuan yang pasti. Gue jadi capek sendiri." ucap Arin yang kemudian meneguk tehnya hingga habis tak bersisa.

"Eh.. Kenapa gitu? Bukannya bisa aja lo buat happy ending?"

"Bisa, tapi gue enggak mau. Enggak dapet feelnya."

"Emm.. Gitu. Sayang banget, ya." ujar Rendi yang suaranya sedikit melemah. Ia kembali membalikan badan ke arah panggung. Rendi ingin sekali meminta Arin untuk membuat akhir cerita yang bahagia, tapi ia tidak bisa. Rendi tidak bisa menjanjikan apapun jika ternyata Arin menurutinya.

"Setelah cerita mereka selesai, gue akan nulis cerita baru lagi, kok. Lo tenang aja, Ren. Lo pasti akan baca banyak cerita di sana. Hehehe." sikut Arin sambil meringis. Sebenarnya, ia tau maksud Rendi, tapi ia tidak ingin menanyakannya dengan gamblang. Bukan waktu yang tepat, kata Arin dalam hati.

Band favorite Rendi menyanyikan lagu pertamanya. Seketika Rendi terhanyut dalam alunannya. Arin menghela nafas lega. Ia memandangi Rendi sekali lagi. Ia rasa keputusan yang ia buat adalah keputusan yang tepat. Arin merangkul tangan Rendi dan ikut bersenandung. Rendi membalas dengan senyum dan mengganti tangannya untuk merangkul bahu Arin. Mereka menghabiskan malam dengan menikmati lagu-lagu dari Sheila On 7, ditemani dengan langit berbintang dan angin malam yang berhembus pelan.

Kau coba hapuskan rasa
Rasa dimana kau melayang jauh dari jiwaku
Juga mimpiku
Kita - Sheila On 7


***
Jakarta, 1 Mei 2020

Minggu, 12 April 2020

A Sweet Goodbye

The words that you whispered
For just us to know
You told me you loved me
So why did you go away?

"Cangkir ketiga buat malam ini. Lo enggak baik-baik aja, Ra."

Aku sadar, Ki, kamu tenang aja. Tentu saja itu hanya aku ucapan dalam hati dan yang sebenarnya aku lakukan hanyalah mendengus ke arah lain.

"Kita pulang aja, yuk? Nanti abang lo nyariin."

"Gue masih pengin di sini." Sama kamu, Ki. Iya, itu imbuhan dalam hati lagi. Aku takut bagaimana kamu akan bereaksi terhadap semua monolog-monolog yang aku ciptakan di pikiranku tentang kita.

"Kita masih harus pergi ke beberapa tempat besok pagi, Ra. Lo jadi nemenin gue, 'kan?"

Aku hanya mengangguk. Kamu tau kenapa aku masih ingin di sini? Selain karena kamu, aku tidak ingin tidur. Karena itu akan membuat hari esok--alias kenyataan--semakin cepat datang. Keberanianku belum terkumpul 100%, Ki. Kamu mengerti, 'kan?

"Ada apa, Ra?" Tanyamu dengan mata yang melembut. Fokusmu beralih dari handphone ke mataku. Tatapmu menyiratkan kekhawatiran dan kehangatan yang sudah lama aku dambakan.

"Seyakin apa lo dengan keputusan besar lo ini? This is a big thing."

Pertanyaan itu meluncur tanpa aba-aba. Aku sudah menahannya, tapi ternyata memang tidak bisa.

"Ra, kita mau bahas ini lagi? Maaf, ya, Ra. Gue pikir lo udah deal with it."

"Gue belum bilang apapun, Ki. Gue tau lo tau apapun yang gue pikirin tanpa harus gue ungkapin. Tapi, untuk malam ini aja, dengerin gue, please?"

Kamu mengangguk. Mungkin ini akan jadi akhir dari segala hubungan yang kita punya, Ki. Atau justru semakin baik? Aku tidak tau. I will do my best. For you.


And I hope the sun shines
And its a beautiful day
And something reminds you

"Gue sayang lo, lebih dari apapun yang lo anggap selama ini. Gue tau gue egois karena gue melibatkan lo dalam semua mimpi-mimpi gue. Gue membuat semua aspek kehidupan gue ada lo didalamnya. Tanpa minta persetujuan lo sama sekali. Iya, walau baru mimpi-mimpi tentang masa depan, tapi lo tau seberharga apa mimpi bagi hidup gue."

Aku tidak akan berhenti, Ki. Tidak ingin. Ya setidaknya untuk malam ini dan beberapa malam ke depan. Tidak tau jika tahun depan.

"Gue enggak punya mimpi yang enggak ada lo didalamnya. Lo pun tau kita berdua sama-sama melangkah ke tujuan-tujuan kita. Semua hal. Obrolan, hobi, mimpi. We are the same with our own way. Tapi, ternyata itu enggak cukup. Bodohnya gue, gue enggak pernah menyadari itu, Ki."

"Ra, please." Kamu menggenggam tanganku yang sudah gemetar. Ini tanganku atau tanganmu, ya?

"Ki, biarin ini kayak gini dulu, ya? Buat malam ini aja." Pintaku. Terdengar sangat desperate, right? 

Kamu pindah duduk menjadi di sisi kananku. Tangan kirimu tetap memegang kedua tanganku dan tangan kananmu mengelus puncak kepalaku. Aku memejamkan mata sembari berdoa agar waktu dihentikan sebentar saja. Aku ingin merekam moment ini. Agar esok hari aku dapat mengulangnya.

"Makasih, ya, Ra, udah mau nemenin langkah gue sampai sejauh ini. Gue enggak akan jadi gue yang sekarang kalau enggak ada lo. Lo tau lo berarti banget di hidup gue, Ra."

"Pada waktu yang tepat, akan ada orang yang datang ke hidup lo dengan segala hal terbaik yang dia punya dan dia bisa kasih. Itu bukan gue, Ra."

"Iya, karena lo menemukan orang itu duluan, Ki, dan itu bukan gue." Balasku sambil sedikit meringis. Ngilu tapi lucu.

"Sorry, Ra.."

"Enggak, enggak, ini bukan salah lo, kok. Emang udah jalannya, kali, yaa, Ki?" tanyaku tanpa perlu jawaban. Mata kami masih terpaut. Aku berusaha untuk tidak tenggelam.

Dan kamu mengecup bibirku.

Pertama dan terakhir.

Feels so weird and sweet at the same time.

"Makasih karena lo selalu mengerti gue, Ra. Gue harap dengan gue nikah nanti, gue masih bisa jadi teman baik lo. Gue enggak berharap, sih, tapi seenggaknya gue masih bisa denger update kehidupan lo."

"Walau itu dua bulan sekali?"

"Walau itu satu tahun sekali. Gue tetap akan buka pintu, Ra."

Aku tersenyum. Senyum lepas pertama untuk malam ini dan malam-malam berat sebelumnya.
Kamu tau rasa sakitnya, Ki? Ah, tidak, kamu jangan sampai tau rasanya. Setidaknya, aku sudah menyampaikan sesuatu yang selama ini tertahan. Semua gelisah, ragu, dan ketakutan, lenyap begitu saja. Tentu, rasa sakit menjadi penggantinya. But its ok. Semua akan baik-baik saja pada waktunya.

"Besok tetep mau temenin gue nyiapin seserahan, 'kan, Ra?"

"Iya, pasti. Sampai lo sah. I will do my best."

All that I know is that
I dont know how to be something you miss
Never thought we'd have a last kiss
Never imagined we'd end like this
Your name, forever the name on my lip

Last Kiss - Taylor Swift


***
Jakarta, 11 April 2020

Minggu, 08 Maret 2020

Pergi Untuk Bahagia

Kau tepikan aku
Kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama

Sejak malam itu, api yang sempat menyala, akhirnya padam. Meninggalkan asap pekat, di langit pun di hati. Kamu pergi. Membawa hati serta mimpi.

Ah..
Aku tak berharap kamu kembali. Sungguh. Karena bukan itu tujuanku.

Kamu harus bahagia. Bagaimanapun caranya dan dengan siapapun orangnya.

Iya, itu tujuanku. Bukankah seharusnya rasa sayang yang amat dalam itu, membuat seseorang belajar memberi tanpa pamrih dan tersenyum tanpa perih?

Bagaimana dengan angan dan harap yang sempat ada? Apakah memang sudah takdirnya, sebuah angan hanya akan menjadi angin? Apakah memang sudah jalannya, semua harap akan lenyap?

Jika memang begitu, aku akan terima.
Aku akan selalu terima apa saja yang membuat kamu merasa jauh baik.

Tapi, aku pun ingin bahagia.

Aku akan cari sendiri bahagiaku, kamu tidak usah khawatir, aku pasti akan menemukannya.
Dan akan aku pastikan, kamu tidak ada didalamnya--jika itu ketakutanmu.

I can stand on my own two feet.


Bukannya aku mudah menyerah
Tapi bijaksana 
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya


***
Jakarta, 8 Maret 2020



Selasa, 31 Desember 2019

Penutup Tahun

First of all, ini post berisi curahan hati sebagai penutup tahun. Ini bukan post cerpen, pun post puisi. Ini pure apa yang gue pikirin dan rasain hari ini dan selama 2019 berlangsung.


Hari terakhir di 2019 sangat tidak baik; I can't text or call him.

Selama satu tahun ini, isinya super berantakan. Gue sadar, gue kurang banyak beramal dan berbuat baik di tahun ini.
Selama satu tahun ini, gue mencoba menjalani semuanya dengan baik. Iya, menurut gue, gue cukup berusaha, walau belum maksimal. Ternyata, semua usaha yang gue lakukan, tidak benar-benar berjalan dengan baik dan tidak seperti yang gue harapkan. Gue tau, Tuhan pasti punya rencana dan jalan yang jauh lebih baik buat gue. Gue tau, sekeras apapun gue berusaha, if it wasn't for me, it wouldn't be mine.
Selama satu tahun ini, mood gue super parah. Semua yang gue jalanin terlalu mengedepankan rasa. Gue terlalu mengandalkan perasaan gue. Gue gak bener-bener mikirin diri sendiri. Gue terlalu mikirin perasaan orang lain, dalam hal apapun, termasuk pekerjaan dan pertemanan.

Kalau 2019 dibuat dalam bentuk grafik, dia mengalami fluktuasi yang cukup parah, tetapi dibawah nilai 0 atau dibawah garis rata-rata standar kebahagiaan versi gue. Gue gapernah sekalipun berharap sesuatu yang lebih agar grafik gue mengalami kenaikan. Gue terlalu mengikuti arah mood gue. Itu kesalahan besar. Otak gue gak gue pakai untuk menjalani kehidupan gue. Bahkan gue lupa kapan terakhir gue merasa gue menyayangi diri sendiri. Gue lupa rasanya punya quality time with myself.

Tahun ini membawa gue ke segala pergejolakan batin. Tentang apapun, termasuk tentang masa depan. Tahun 2019 ini membuat gue kehilangan kepercayaan diri. Tahun 2019 ini membuat gue bener-bener merasa sedang ada di titik terendah dalam hidup. Gue sedang ada di masa dimana tidak bisa percaya dengan diri sendiri. Gue hanya menggantungkan seluruh harapan dan kebahagiaan gue pada orang-orang di sekitar gue. Itu sangat buruk.

Di tahun ini pula gue sadar, gue tidak bisa memaksakan untuk fit di segala lingkungan pertemanan. Gue sadar, gue tidak bisa membuat semua orang berkata baik ke gue. Gue sadar, banyak sekali orang yang gue anggap teman, tapi ternyata membuat hati gue berantakan. Let say sakit hati.

Hari ini gue sadar, gue gak bisa terus kayak gini. Gue gak bisa diam di comfort zone gue dengan mengandalkan perasaan gue. Hari ini, orang-orang terdekat gue menyadarkan gue kalau gue sangat tidak baik. Iya, gue harus segera bangun. Gue harus bangkit.

Tapi, diluar hal-hal buruk itu. Gue sangat bersyukur karena masih punya beberapa hal yang bisa bikin gue bersyukur.

Pertama, gue bisa survive di lingkungan yang "aneh" dan "toxic" buat diri gue sendiri.
Kedua, gue akhirnya, membuat novelaku.com. Mewujudkan impian gue dari jaman SMA, walau belum bisa konsisten. At least, I try.
Ketiga, gue masih di kelilingi keluarga gue. Gue masih punya teman-teman dekat dan mereka selalu ada dan mendengarkan segala cerita gue. Masih ada cowok yang bertahan dengan segala keegoisan dan ketidakjelasan gue, gue cukup bahagia punya lo selama 4 tahun terakhir ini. Gue masih dikasih teman-teman yang bisa bikin gue "deep talk" ke mereka, tentang apapun. Gue bisa beliin beberapa barang yang mama mau. Gue bisa kasih uang jajan ke adek gue walau gak seberapa. Gue bisa balik ke Jogja. Gue bisa tau siapa yang harus gue kasih effort lebih dan siapa yang enggak. Last but not least, gue masih punya lo yang menyuruh gue untuk selalu bersyukur dan enggak diambil pusing buat apapun yang akan gue hadapin.

Jujur, gue tidak punya harapan yang spesifik buat tahun 2020. Gue cuma mau tahun 2020 membuat gue jauh lebih kuat dan bahagia. Semoga semua yang gue usahakan dan doakan, Tuhan mengabulkan di tahun 2020. Semoga gue tetap di kelilingi orang-orang dekat gue dan mereka semua berbahagia. Satu doa yang paling gue semogakan; semoga Tuhan membuat orang-orang terdekat gue bangga karena mereka punya gue. Aamiin.

Teruntuk kalian, semoga kalian sehat dan bahagia.
Maaf untuk segala kesalahan dan keegoisan gue selama ini.

Tahun 2019 membuat gue merasa jadi orang gagal. Semoga tahun 2020 membuat gue dan kalian menjadi lebih bersyukur dengan segala kerja keras dan hasil yang didapatkan.



Jakarta, 31 Desember 2019

Jumat, 15 November 2019

Terima Kasih, Kasih!

Dari beribu mimpi yang berusaha aku wujudkan,
kamu selalu ada diurutan atas untuk didahulukan.

Dari berbagai doa yang aku panjatkan,
namamu tidak pernah absen aku sebutkan .

Terima kasih untuk genggam yang selalu menguatkan.
Terima kasih untuk langkah yang tak pernah lelah.

Kamu bilang, perjalanan masih panjang.

Memang benar adanya, jalan masing-masing kita masih sangat panjang.
Tapi, semoga jalan kita dimudahkan dan dijadikan satu tujuan.

Pun untuk kalian yang membaca ini dan sedang berjuang.

Terima kasih karena sudah kuat melewati semua ini. Kalian hebat. Kita hebat.

Diatas langit, masih ada langit.

Semoga hati kita tidak ikut menjadi tinggi dengan seiringnya doa-doa yang kita terbangkan.

Terima kasih kamu.
Terima kasih aku.


***
Jakarta, 15 November 2019

"Sebenarnya, Apa yang Lo Cari?"

"Sebenarnya, apa yang lo cari di hidup ini, Kal?"

Satu pertanyaan yang membuat gue terngiang-ngiang. Satu pertanyaan yang memicu datangnya pertanyaan-pertanyaan lain.

Tidak, gue bukan pengecut yang lari gitu aja dari segala pertanyaan yang tepat sasaran. Gue hanya.. gue hanya sementara menghindar untuk sekedar menenangkan pikiran.

Gue yakin lo pernah mengalami masa-masa kebingungan menentukan skala prioritas. Gue yakin lo pernah mengalami masa-masa dimana rasa dan ambisi yang lo punya begitu menggebu, tanpa pernah tau, sebenarnya, untuk apa dan siapa semua rasa dan ambisi itu lo tunjukan?

Dengan kalimat lain,

untuk tujuan apa semua rasa gebu dan ambisi yang sedang mengalir didalam diri lo?

Apa itu sebuah kewajaran? Apa itu bagian dari ego yang minta untuk dipuaskan?

Buat lo yang sedang membaca ini, jangan khawatir.

Semua pertanyaan-pertanyaan yang ada didalam benak lo, lo tidak sendiri. Banyak orang pun mengalaminya.

Jangan putus asa. Suatu waktu kita akan menemukan jawabannya.


***
Jakarta, 14 November 2019

Minggu, 08 September 2019

Akhir Cerita Alin


Bila rasaku ini rasamu sanggupkah engkau
Menahan sakitnya terhianati cinta yang kau jaga

Lagu Kerispatih mengalun pelan dari pengeras suara di sudut ruang tunggu. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu Alin. Brokat biru laut melengkat indah pada tubuh Alin. Rambut yang biasa dikuncir satu, sudah menggerai rapi melewati leher dan pundak Alin yang semampai. Dengan mata bulat yang sudah terpasang softlens, bibir tipisnya sudah terpulas cantik oleh ombre lipstic dan liptint, senyum manis yang selalu terpatri dari sejak ia memasuki ruang tunggu, Alin sempurna.

“Alin? Ini beneran Alin?”
“Asli, lo cantik banget!”
“Sumpah, lo Alin Winata?”
"Nah, gini, dong! Make up!"

Teman sepergengan Alin heboh bukan main dan Alin hanya tertawa-tawa menanggapi teman-temannya.

“Lin, lo mau tunggu di sini aja atau mau keluar dulu cari angin? Gue temenin.” tanya Tasya sambil berbisik, teman terdekat Alin yang sangat mengerti segala kondisi. Tasya tidak ikut heboh dan tertawa meledeki Alin, Tasya tau apa yang sedang berkecamuk didalam diri Alin.

“Gue di sini aja, asal lo juga di sini.”

“Iya, gue akan selalu di sini.”

Semua orang di ruangan tersebut bersorak heboh. Pasalnya, acara sebentar lagi dimulai. Ditengah hiruk pikuk sorak-sorai, Tasya dan Alin saling bertatapan. Tasya dapat melihat getar di mata Alin. Tasya dapat melihat gerak-gerik jari kelingking Alin dikala ia sedang grogi. Orang-orang tersebut berhamburan keluar dari ruang tunggu menuju hall primary, tempat diselenggarakannya akad nikah.
Tasya menggenggam tangan Alin.

Everything will be ok.” ucap Tasya kepada Alin, yang diikuti anggukan kepala dari Alin sebagai jawaban.

MC membuka rangkaian acara. Semua mata tertuju padanya. Tasya beberapa kali melirik Alin, melihat kondisi Alin. Senyum di bibir Alin tidak luntur. Matanya mengikuti hal-hal yang ada didepannya.Pikirannya fokus pada apa yang ia lihat. Tapi, ia tau, tidak dengan hatinya. Hatinya tidak bisa diam. Hatinya berisik, seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi dibungkam oleh pemiliknya.

Penghulu memimpin khotbah nikah dan ijab kabul. Semua menahan napas dan air matanya. Termasuk Alin. Alin mendengarkan dengan khusyuk dan khidmat. Semua tamu hadirin bersama-sama mengucapkan kata sah diikuti dengan doa dan suara riuh rendah.

Renata dan Deva resmi menjadi sepasang suami istri.

Tasya menggenggam erat tangan sahabat di sebelahnya. Tangan Alin dingin. Ia tidak akan mengira, bahwa menghadiri dan menyaksikan langsung prosesi pernikahan Renata, sahabat dekatnya semasa kuliah, menjadi istri dari seorang Deva, lelaki yang sudah menemaninya melewati hari selama 5 tahun terakhir. Deva, lelaki satu-satunya yang ia harapkan dan ia doakan untuk menjadi teman seumur hidupnya. Lelaki yang selalu ada disaat susah maupun senangnya. Pun dengan Renata.
Tetapi, Alin lega. Setidaknya, lelaki yang ia cintai jatuh ke tangan yang baik. Mantan pacarnya tersebut didampingi oleh salah satu sahabat terbaiknya. Alin bersyukur karena mereka saling menemukan. Walau ternyata, Alin lah perantaranya.

“Lin, kita ke Vood Kitchen & Bar, yuk? Gue butuh asupan anggur.” ajak Tasya yang sudah lemas menyaksikan semua ini. 

Tasya mengerti, tidak mungkin senyum yang terpampang pada bibir Alin adalah sentrum langsung dari hatinya. Tasya sangat yakin, hati Alin sedang berusaha menyapu serpihan-serpihannya sendiri. Tidak, Alin tidak butuh orang lain untuk membantunya membereskan semua kehancuran yang terjadi didalam hatinya. Alin dapat melakukannya seorang diri. Tasya sangat tau itu.

Tanpa menjawab pertanyaan Tasya, Alin berdiri, bersiap meninggalkan ruangan ini. Ruangan yang seharusnya menjadi menyenangkan dan mengharukan untuk semua orang. Tapi, tidak dengan Alin. Alin tidak bisa terus bertahan di sini. Alin tidak ingin kedua mempelai melihat air mata yang sudah ia bendung sedari pagi.

Sebelum Alin membalikan badan, matanya bertemu dengan mata Deva. Tatapan mereka mengunci selama beberapa detik. Hingga pada akhirnya, Alin memutuskan untuk membuang pandangan dan menyudahi segala hal yang terjadi. Benar-benar ingin mengakhiri segala yang sudah seharusnya sudah berakhir sejak hari lalu. Deva tersenyum datar. Ia sangat tau apa yang disampaikan Alin dari tatapannya. Deva masih dapat merasakan segalanya, dan ia tidak dapat berbuat lebih. Alin berlalu. Kali ini, ia yang meninggalkannya.

Saat ini, segalanya memang sudah berakhir. Aku harus terus melangkah. Harus.

Ucap Alin dalam hati selepas membalikan badan, keluar dari gedung, ditemani dengan langkah kaki Tasya dan deras air mata yang tiba-tiba turun.



***
Jakarta, 8 September 2019.

Selasa, 06 Agustus 2019

Surat Untuk Diri Sendiri

Untuk Aku,


Hai, Aku!
Semoga sedang dalam keadaan baik dan sehat.

Terima kasih karena, sampai saat ini, masih terus berusaha demi hari-hari mendatang.

Maaf, untuk masa lalu yang membuat langkah ini menjadi terhambat.
Maaf, untuk segala bentuk penyesalan yang selalu menyesakan.
Maaf, untuk semua rasa kecewa yang selalu datang menghampiri tanpa permisi, dan tidak pernah benar-benar pergi.
Maaf, untuk segala rasa sedih yang terasa tanpa mengenal kedaluarsa.

Maaf, untuk segala pilu tanpa tau apa dan siapa yang dituju.
Maaf, untuk segala gebu yang selalu pergi terburu-buru, sebelum semua terwujud.
Maaf, untuk segala gagal yang membuat otak hilang akal.
Maaf, untuk segala patah yang menyebabkan darah.
Maaf, untuk segala langkah yang selalu membuat lelah.

Aku,
tolong dengarkan.

Untuk kali ini saja,
Aku mohon.

Dengarkan diri sendiri,
dan berbahagia lah.


***
Cikarang, 6 Agustus 2019