Bagiku, Jakarta bukan hanya sekedar Ibu Kota.
Bukan juga sekedar tempat pulang.
Bukan juga tempat untuk pergi.
Jakarta adalah kota ramai yang membuat hati sunyi.
Kota padat yang membuat hati lengang.
Kota dimana rumah, nyaman, dan luka ada didalamnya.
Kota dimana kata pergi menjadi begitu dingin dan kata pulang menjadi sangat hangat.
Jika pulang memberi kekuatan baru, maka pergi pun memberi luka baru.
Jika pulang membuka luka lama, maka pergi pun membuka lembar baru.
Jika pulang berarti menyelami jejak yang pernah ada, maka pergi berarti menyulam kenangan-kenangan itu.
Tidak semua pulang itu dinanti dan tidak semua pergi itu dihalau.
Bagiku, seberapa jauh kita pergi, kata pulang akan semakin berarti.
Bagiku, pergi itu ketika berani untuk terus menatap setiap titik yang tidak pasti didepan sana, dan pulang itu ketika kita berani untuk menghadapi setiap luka yang pernah tercipta.
Bagiku, pergi adalah perjalanan, dan pulang adalah pengistirahatan.
Karena pergi dan pulang hanya perkara seberapa jauh jarak yang ditempuh.
Karena itu pula, setiap orang memiliki arti pulang dan pergi yang berbeda-beda.
***
Kereta Jakarta - Yogyakarta, 05:17 - 25 Januari 2017
Rabu, 25 Januari 2017
Kamis, 12 Januari 2017
Tentang Keinginan
Saya mengerti, setiap hal pasti mempunyai masa jayanya masing-masing.
Ketika masa jaya tersebut habis, akan ada penurunan, dan kembali ke keadaan statis.
Itu pasti, saya tau persis.
Tapi, kadang, ada beberapa hal yang tidak bisa kita sangkal.
Contohnya, seperti kita ingin semuanya kembali ke masa jaya. Kita ingin tidak ada yang berubah.
Iya, saya mengerti, bahkan hakikat hidup sebenarnya adalah tentang moving forward.
Keinginan seperti itu sangat tidak masuk di akal, memang.
Tapi, bagaimana lagi?
Ketika hati bekerja lebih cepat dari pada otak.
Ketika rasa bermain lebih unggul dari pada logika.
Bisakah kita menahannya?
Seperti ketika rindu datang menerpa, bisakah otak menghalau lebih cepat dari pada hati yang berusaha membangkitkan rindu itu menjadi lebih besar?
Saya tidak mengerti.
Untuk saat ini, yang saya tau, saya hanya ingin dan rindu kamu.
So pathetic. And selfish, maybe? Maaf.
***
Jakarta, 12 Januari 2017, 00:40
Sabtu, 31 Desember 2016
[Bukan Fiksi 4] Arti Resolusi Sepanjang 2016
Echa
pernah bilang ke saya, “Kalau panjangnya waktu itu tidak terasa, berarti kamu
tidak melakukan apa-apa, dan berlaku sebaliknya.” Kurang lebih seperti itu,
saya lupa tepatnya seperti apa, hehe.
Jujur
saja, bagi saya, 2016 ini tidak terasa. Dan, yap, saya tidak melakukan apa-apa
yang berarti. Bagi saya, semua hal yang saya jalani selama 2016 ini –kuliah,
organisasi, kepanitiaan, main—itu bukan apa-apa. Jadi, apa itu sebenarnya
‘apa-apa’? Right, setiap orang punya
aritnya masing-masing. ‘Apa-apa’ dalam kamus saya adalah sesuatu yang besar,
sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi lingkungan. And I did nothing. Bahkan, sesuatu yang saya niatnya semoga
bermanfaat, belum tentu sebenarnya bermanfaat bagi mereka. Iya, setidaknya saya
mencoba.
Pada
post kali ini, saya mencoba kembali mengingat-ingat resolusi yang pernah saya
buat diawal tahun 2016 atau selama tahun 2016 ini. Bukan hal mudah bagi
sebagian orang untuk menyelami kembali masa-masa disuatu kurun waktu. Untuk
kurun waktu setahun ini, saya tidak keberatan. Jangan tanya bagaimana bila dua
tahun kebelakang, oke? J.
Jadi, saya tidak tahu harus mulai dari mana sebenarnya. Bila setiap orang mudah
untuk membuka permbicaraan, berbeda dengan saya. Untuk hal post semacam ini
saja, saya harus berpikir keras dulu dan basa-basi kesana-sini. Yes, like this.
Seperti
yang saya katakan pada post sebelum ini, 2016 adalah salah satu tahun terbaik
saya. Biasanya, sesuatu akan terasa itu adalah terbaik, setelah melewati banyak
hal buruk. Begitulah yang terjadi pada 2016. Setelah tahun-tahun buruk
sebelumnya, terutama 2015, tahun 2016 ini adalah titik balik dari hal-hal buruk
tersebut. Tidak banyak memang, tapi cukup membuat saya bersyukur. Banyak juga
yang harus dikorbankan untuk melewati dan mencapai apa yang saya dapatkan ditahun
2016 ini, juga untuk mencapai resolusi yang saya targetkan.
Resolusi?
Hampir setiap orang memiliki resolusi disetiap pergantian tahun. Bahkan,
resolusi menjadi seperti gaya hidup dan kewajiban bagi orang-orang untuk
memilikinya. Tidak semua memang, tapi hampir sebagian besar teman-teman yang
saya tanyakan pasti memiliki resolusi. Dibawah ini ada beberapa pendapat dan
sedikit cerita singkat dari beberapa teman yang saya tanyakan. Pendapat dan
cerita tersebut telah mendapat persetujuan dari masing-masingnya untuk dishare.
So...
Saya
bertanya dua hal (via line):
-
Apa arti resolusi buat kamu?
-
Kalau berminat, tolong ceritain 1 resolusi kamu di 2016. (Kayak kenapa buat
resolusi itu, trus itu tercapai apa enggak dan alasan lainnya)
Berikut
jawabannya:
Esa
Khairina Husein (Echa):
-Resolusi
itu sesuatu yang normatif, it just stays alive for like two days. Idk, mungkin
karena aku orangnya gabisa long-term planning kali ya tapi lebih ke weekly
planning(?)
-Resolusi
aku di tahun 2016...? Gatau si tapi kayaknya lebih bahagia karena 2015 was such
a bad year to me. DAN ITU TERCAPAI. Karena
1) Echa lebih independen melakukan
segala sesuatu sendiri, jadi kalo orang lain bilang no aku melakukan apa yang
kumau sendiri,
2) Echa lebih sering traveling,
3) Echa ikut kegiatan yang Echa
bgt,
4) Echa ketemu orang-orang yang sepemikiran tapi lebih evolved levelnya,
dan itu seru belajar dari mereka,
5) Echa akhirnya tahu apa yang Echa mau di
masa depan. HEHEH.
Firda
Novi Lestari (Firda):
-
Resolusi, gak begitu penting sih. Kalo buat aku, resolusi itu cuma harapan
doang, keinginan semata. Pengen ini pengen itu tapi kadang cuma omongan dan gak
ada usahanya. Ya kalo aku sih resolusi itu beda sama niat dalam hati. Soalnya
kadang kalo udah niat gak perlu dijadiin resolusi udah harus jalan. Yakan?
Wkwk. Ini masalahnya resolusi yang gak kesampean ada banyak yaz. Soalnya aku
sendiri kaya kurang manfaatin waktu, kebanyakan takut. Gak ada hubungannya sama
kuliah sayangnya :(.
-
Yang pasti, resolusi aku dari tahun 2015 sampe sekarang pun masih sama. "Nanti
kalo gue pulang ke lampung, gue bakal perbaikin hubungan sama sahabat
gue." Tapi nyatanya nol karena ya itu. Kita samasama gengsi. Apalagi aku.
Takut buat cobanya. Sebenernya aku udah mulai chat dll, tapi gak ada tanggepan.
Jadi ya bahkan aku sering nangis kalo aku abis chatt atau komen dia di sosmed
tp gak ada tanggepan yang aku mau. Ya intinya, aku cuma pgn deket lg sama
sahabat lamaku yaz. Itu dari tahun ke tahun gitu tapi sampe detik ini pun aku masih
takut buat bener2 jalanin semuanya.
Annisa
Tiara (Tiara):
-
Resolusi itu goals yg bermakna buat diri sendiri tanpa peduli pendapat org lain
dan harus ada usaha buat mencapai itu
-
well, gue gapernah bikin resolusi pertahun si........ Kl janji sama diri
sendiri tetep diitung ga Yas?
'Kalau
ada cowo yg ngedeketin gue, gue bakal coba buka hati. Trs kalo dia nembak, siapapun
itu, akan gue terima.'
Latar
belakang:
1.
Doa temen2 SMP dan SMA w waktu ultah semuanya bawa2 doa supaya gue ga jomblo
lagi
2.
Pertanyaan "lo aseksual ya?" dari temen w yg gue gabisa jawab..
3.
Dimarahin sama mantan sendiri gara2 jd org kelewat ga peka.
Hasil:
Galama
setelah bikin janji itu (kurang dari seminggu kayaknya) Mz Pisces nembak w. Dan
(PASTINYA HARUS) gue terima. Dan sampai sekarang.
Regina
R.P.P (Rere):
1.
Resolusi kaya semacam target yg harus dipenuhi gitu. Masalah tercapai atau ga,
yaa gimana nanti. Cuma kebesaran niat dan Allah yang tau.
2.
Salah satu resolusi rere di 2016 yaitu taken. Sebenernya itu bukan resolusi
rere juga, itu resolusi dari dani, aga dan tata yang akhirnya terwujud. Dibilang
nyari juga engga, kebetulan doi menarik terus kenal, jalan dan akhirnya cocok
terus yaudah deh. Btw itu disebut resolusi ga sih? Haha.
Meynitta
Helena D. (Tata):
Pertama,
gua bukan orang suka berjanji atau ngobral janji bahkan ke diri gua sendiri pun
engga karena gua pasti bakal lupa.
Dua,
gua bukan orang yang suka berharap atau yang suka mengharapkan sesuatu bakal
gua lakuin atau orang lain lakuin.
Tiga,
gua bukan juga seorang planner yang suka bikin plan plan kehidupan atau plan
plan lainnya.
Jadi,
tiap pergantian taun gua ngga pernah ada resolusi apa apa dan gua ngga pernah
mengukur sebuah pencapain atau apasih yang udah gua dapetin, apa gua lebih baik
atau engga itu bodoamat wkwkwk. Semuanya ngalir aja, ngga ada bedanya, doa gua
tetep sama yaitu keluarga gua tetep utuh terutama nyokap gua sehat walafiat
sampai saatnya entah tahun berapa itu gua bisa kasih semua apa yang mau gua
kasih kemereka. selebihnya ya selalu sama
w melakukan hal hal baik setiap harinya yang menurut gua baik dan buat
orang lain seneng tentunya. udah gitu aja. Gua bingung pas lu tanya arti
resolusi apa wkwkw jadi gua ngga bisa jawab. kebanyakan orang mungkin bikin
resolusi buat memotivasi diri ya. Kalo yang gua bilang diatas termasuk kedalam
resolusi yaaa berati tercapai dong yasss alhamdulillah keluarga utuh dan nyokap
sehat dan lu juga pasti seneng kaaan kenal ama w? hahaha tau w mah.
Si
Anak MIPA UI yang Tidak Mau Disebutkan Namanya:
Resolusi
itu menurut gue tujuan atau segala sesuatu yg akan kita capai di tahun
selanjutnya. Resolusi gue di tahun 2016 itu banyak sihh tapi yg gue ceritain
ini yg paling berkesan versi gue. Jadi 2016 itu resolusi gue berusaha keluar dr
comfort zone, jadi anak organisasi, himpunan maupun bem. Gue gamau jd gue jaman
sma doang yg kalo ke sekolah cuma belajar main22 trs pulang. Gue ngerasa gue
butuh bgt sosialisasi, interaksi yg lebih intens sama org. Apalagi di ui
orangnya kan beragam bgtt dari seluruh provinsi adaa. Gue ngerasa gue harus
bisa 'fit in' ke semua orang siapapun itu dan kaya gimanapun keadaan dia.
Mumpung gue baru membuka istilahnya lembaran baru di fase kehidupan gue, gue
gamau menyia22kan itu. Gue bisa banyaakk belajar dari orang22 yg ada di sekitar
gue. Gue ngerasa gue jauh lebih peduli sama orang lain. Gue ngerasa gue bukan
gue yg seegois itu dulunya. Lama kelamaan gue menemukan titik cerah di hidup
gue. Gue tau gimana cara ngambil keputusan, gimana menghadapi orang yg beda bgt
pemikirannya sama kita, gimana negosiasi sama orang, gimana cara memahami orang
lain, gimana rasanya lo ada di posisi 'pemimpin' dan 'yang dipimpin'. Gue
belajar banyak hal dari organisasi, gue dapet banyak hal ketika gue berusaha
mencoba terbuka dengan orang lain, gue baru tersadar kalo hidup itu ternyata
seluas dan serumit itu. Sedikit cerita, tgl 23 kemarin gue baru aja ada bakti
sosial gt ga banyak org sihh cuma temen22 sekitar gue aja yg emg bener22 deket
dan mau. Gue ke yayasan pendidikan luar biasa di beji depok itu kaya asrama gt
buat orang22 yg berkebutuhan khusus. Gue sampe sana gasanggup pengen nangissss
bgt ngeliat keadaan mereka tapi di satu sisi gue gaboleh sedihh karena harusnya
gue bikin mereka bahagia, gue yg memotivasi mereka untuk tetep semangat
menjalani hidup. Gue flashbackk ke tahun222 sebelumnya, gue sering bgt ngeluh
sering bgt egois keras kepala dan mungkin sangat kurang bersyukur sertaaa hal
hal negatif lainnya. Gue selalu compare diri gue dengan yg diatas jadinya
selalu gamerasa cukup, tapi gue jarang bgt ngeliat kebawah sebagai cerminan
rasa bersyukur. Geu akuin gue kurang bgt dalam hal itu. Lagi lagi gue bilang
gue se egois itu jd org. Gapernah mau mikirin orang lain padahal hakikatnya
kita makhluk sosial yang pastinya membutuhkan orang lain buat keberlangsungan
hidup kita. Kemarin gue nahan bgt nangis, gue mikir 'kenapa ya mereka yang maaf
ya punya kekurangannn mereka happy ajaa mereka selalu bahagia mereka bersyukur
dengan apaa yg dikasih sm Allah sementara gue masih selalu gangerasa cukup.'
Gue spechless bgt kemarin, ada satu anak yg di ruangan sendirian gt lagi jalan
muter22 ruangan jan ngomong sendiri kata kata jahat yg selalu diucapin sama
keluarganya, intinya dia gaadianggep jd anggota keluarga karena kekurangannya
diaa, dia dibully karena kekurangannya dia, makanya dia kaya gt. Tapi di satu
sisi kalo anak itu lg main sama temen22nya atau ngobrol sama gue ya biasa aja
kaya yg normal biasanya. 2016 banyak bgt masalah besar yg terjadi, gue gabisa
nyebutin satu22. Masalah itu apa ya kaya tamparan gt buat gue sejujurnya, dan
gue sadar gue ditampar itu untuk menjadi gue yg lebih baik lagi. Itu aja deh
yaaa, setiap momen di 2016 itu pricelesss sangat dan gue banyak bgt belajar dr
masalah22 yg gue hadapi. Hihuuu jd saaad:( yay udah yaaa maaafin ku baru sampe
rumaah.
Mayoreta
Ananda A. (Mayo):
Arti
resolusi buat aku: agar di tahun berikutnya ada suatu pencapaian. Walaupun
hidup dibikin ngalir aja, tp ngalirnya harus terarah wkwk.
Aku
bikin resolusi ip naik, soalnya di semester 1 yaa ga sesuai harapan. Semester
dua ngga tercapai, karena masih kebanyakan main😂 semoga semester 3 bisa
tercapai yaaa.
Nida
Nadhifa (Nida):
-
resolusi itu motivasi
-
1 resolusi aku di 2016 adalah aku mulai usaha buat ngasilin duit. Dan
alhamdullilah tercapai karena ada kesempatan.
(Maaf,
ya, Nid, yang tidak tercapai itu enggak aku tulis.. Karena menurutku kurang
sopan di aku-nya, hehe. Muah.)
Via
Desmalita (Via):
Resolusi
menurut aku adalah perubahan dr sikap yg buruk jd baik, yg jelek jd cantik yg
miskin jd kaya haha ((bercanda)). Pokoknya perubahan untuk jd lebih baik yas.
Kalo
ditanya resolusi di thn 2016 apa? Jawabannya banyak yass. Tp banyak yg ga
terwujud :(.
Aulia
Wiskha Widodo (Wiskha):
-
Gaada artinya karena tidak ada yang terjadi.
-
Aku aja lupa resolusiku apa.
Jadi,
itu beberapa tanggapan dari teman-teman.
Terkadang
resolusi menjadi awal dan acuan seseorang untuk bergerak dan menggapai sesuatu,
entah dalam jangka pendek ataupun panjang. Resolusi bisa berarti motivasi dalam
bentuk lain. Bagi saya, resolusi adalah suatu keinginan kecil yan harus dicapai.
Resolusi juga suatu janji kecil untuk saya penuhi. Dari resolusi saya belajar
membenahi diri sedikit demi sedikit. Resolusi menjadi titik-titik disetiap step
yang saya lalui. Mungkin tidak semua resolusi yang saya miliki terwujud. Tetapi,
setidaknya saya membuat langkah dan pergerakan untuk mewujudkannya, walau pada
akhirnya banyak yang gagal. Sungguh, itu bukan masalah besar. Bukankah suatu
kejadian justru lebih berharga proses dibandingkan dengan hasil akhirnya?
Salah
satu resolusi saya ditahun 2016 ini adalah dengan tidak menjadi robot seperti
ditahun 2015. Itu tercapai. Saya berhasil, sedikit demi sedikit, bergaul dan
membaur dilingkungan baru saya. Saya berhasil, sedikit demi sedikit, membuka
diri untuk teman-teman dan orang lain. Saya berhasil, sedikit demi sedikit,
melepaskan semua-mua yang terjadi pada 2015, walau belum sepenuhnya. Satu yang
belum tercapai adalah berdamai dengan masa lalu. Apapun bentuknya dan siapapun
orangnya. Saya masih belum bisa. By the
way, ini no offense ya. Karena bagi
saya, berdamai dengan melepaskan itu berbeda jauh. Melepaskan jauh lebih mudah
daripada berdamai. Melepaskan sesuatu belum tentu berdamai terhadap hal itu,
tapi jika ia sudah berdamai dengan hal itu, melepaskan pun pasti mudah bahkan
sudah.
Terima
kasih atas semua pelajarannya, 2016! Salah satu tahun terbaik yang pernah saya
miliki. Semoga semua belenggu yang menggunung saat 2015 telah benar-benar
hilang ditahun 2016 dan tidak tersisa ditahun 2017 nantinya.
P.S:
-
Terima kasih teman-teman yang udah mau berpendapat dan bercerita hehe.
- Saya pernah membuat post serupa pada http://dalamsecangkirkopi.blogspot.co.id/2015/08/tiga-alasan-cinta-indonesia.html
-
Selamat tahun baru 2017!
***
21:00
– 31 Desember 2016
[Bukan Fiksi 3] Penjelajah Maya 2016
Mungkin ini akan
menjadi post yang membosankan? Atau bahkan sebaliknya? Saya tidak tahu. Bahkan,
sampai detik saya menulis ini, saya tidak tau akan seperti apa isi post ini. Hari
ini, di blog ini, akan diisi 2 post. Satu, post ini, yaitu tentang perjalanan
membaca saya selama 2016—yang diikutkan untuk lomba #KuisBukuBaraAkhirTahun.
Kedua, post tentang resolusi 2016. Dua post di hari terakhir 2016 untuk penutup
tahun. So, here we go..
Awal tahun dimulai
dengan kejadian-kejadian lucu. Saya mendapat moment tepat saat kembang api
meletus dan terompet ditiup, 00:00 WIB. Saat itu adalah kedua kalinya saya
merayakan tahun baru di Yogyakarta dan pertama kalinya sebagai mahasiswa. Saat
itu saya dan teman-teman ikut merayakan di Jalan Malioboro. Tepat saat 00:00,
ada yang menabrak pundak saya hingga membuat saya terpleset botol dan kulit
pisang. Benar-benar tepat saat kembang api meletus dan terompet ditiup. Mantap.
Sampai teman saya pun celetuk, “Awas tahun sial haha.” Itu pembuka tahun yang baik.
Di bulan Januari itu pula, saya menulis resolusi akan menyelesaikan minimal 15 novel dan menulis review dari masing-masing novel tersebut dalam setahun. Untuk 15 novel memang tercapai, tapi untuk reviewnya? Errr... Hehe, bisa ditebak,
kok, jawabannya. Setidaknya, saya sudah punya niat, hehe. *membela*
Perjalanan jelajah buku
di 2016 ini benar-benar menantang. Saya memasuki tahap-tahap dimana saya bosan dengan genre favorit dan mencoba beberapa genre lain. Sebenarnya, itu sudah
terjadi selama dua tahun belakangan ini, tapi perubahan besar justru terjadi
di 2016. Karena akhirnya saya berani membaca genre lain. Rasanya... Seperti
menaklukan ular besar yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah, seperti avatar
yang bisa mengendalikan empat elemen, seperti dapat menaklukan dan
mengendalikan diri sendiri. Seserius itu. Ini mungkin karena saya tipe yang
sangat takut keluar dari gua nyaman, apalagi untuk urusan genre novel. Genre yang
biasa saya baca adalah romance dan horror. Iya, lebih banyak romance-nya, kok. Genre
yang saya beranikan baca tahun ini adalah fantasi. Juga beberapa biografi
orang-orang terkenal, hmm, sebagai genre inspiratif? Iya, termasuk.
Saya mulai benar-benar
sadar, kalau di 2016 ini saya harus bisa lepas dari belenggu-belenggu yang
menyesakan selama 2015. Fyi, 2015 salah satu tahun terburuk selama 19 tahun ini.
Saya sadar sepenuhnya kalau saya sedang berada di kota orang, merantau. Itu berarti
banyak beban dan tanggungjawab yang saya bawa. Saya dibiasakan untuk membaca sejak kecil. Jadi, bagi saya, membaca merupakan salah satu tanggungjawab yang
harus tetap saya laksanakan, apalagi dikasih fasilitas-fasilitas yang mendukung,
seperti selalu diberi uang tersendiri untuk beli novel. Juga ada beberapa orang
yang membuat saya sadar, kalau membaca memang penting, entah kita sadar atau
tidak. Beberapa orang itu pula menyadarkan saya, semalas-malasnya saya nantinya,
setidaknya satu hari membaca minimal satu halaman buku atau dalam kasus saya
adalah novel (hehe). Karena itu, awal tahun 2016 saya menargetkan minimal 15 novel dan bila tidak terpenuhi saya harus menerima hukuman dari diri saya
sendiri—yang sebenarnya saya tidak tau apa hukumannya. Aneh? Iya, memang, tapi
itu membuat saya sedikit belajar tentang tertib dan disiplin. Juga belajar
tentang menghargai sebuah janji kecil dan menepatinya.
Dari novel-novel yang
saya baca di 2016 ini pula saya belajar banyak tentang makna hidup dan
pernak-perniknya. Penjelajahan saya yang beranjak dari hal-hal berbau romantis
kekinian, menjadi hal-hal mengenai keseriusan hidup, mengenai arti-arti lain
yang nyata dalam hidup, mengenai kehidupan detektif, mengenai dunia-dunia khayalan masa depan dengan
teknologi-teknologi canggih, peperangan, dan berbagai macam lainnya. Bulan terakhir
ini, Desember, saya sudah menghabiskan tiga novel. Tiga novel itu adalah Tentang
Kamu – Tere Liye, Rindu yang Membawamu Pulang – Ari Sasongko, dan Sunset&Rosie - Tere Liye.
Mereka mengajarkan saya arti keluarga. Mengajarkan saya seberapa besar kita
ikhlas dalam menjalani hidup, seberapa tulus kita menerima apa-apa yang menimpa
kita, dan juga belajar mengenai perjuangan yang harus ditempuh demi sebuah cita
yang besar. Penjelajahan yang sangat menguras emosi. Tiga novel tersebut adalah
penutup tahun yang sangat-sangat baik.
Mungkin, tidak banyak
yang bisa kalian dapatkan dan pelajari dari post ini. Ini hanya post singkat
tentang penjelajahan maya singkat saya selama 2016. Sangat-sangat singkat. Karena untuk
menilik kejadian satu tahun kebelakang adalah kegiatan yang sangat menguras
emosi, walau untuk tahun ini lebih banyak emosi-emosi positif dibandingkan
tahun 2015. Tidak hanya perjalanan nyata, tetapi penjelajahan maya yang saya
lakukan dengan novel ditahun 2016 ini memang sangat hebat dan penuh tantangan. Tahun
2016 adalah salah satu tahun terbaik bagi saya. Dan satu lagi yang menjadi
bagian penting dari tahun ini adalah menularkan semangat membaca—khususnya novel—ke
teman-teman terdekat saya. Menyebarkan virus baik, boleh dong? Hehe.
Terima kasih atas semua
ini, Tuhan. Alhamdulillah.
“Karena pindah genre novel
tidak semudah itu.” J
***
00:48 – 31 Desember
2016
Rabu, 21 Desember 2016
[BOOK REVIEW] Novel Rindu yang Membawamu Pulang
Novel Rindu yang Membawamu Pulang
Judul:
Rindu yang Membawamu Pulang
Penulis:
Ario Sasongko
Penerbit:
Gagasmedia
Tebal:
232 halaman
Tahun
terbit: 2015
Kita pernah berhenti di
persimpangan jalan yang hampir membuat kita menyerah. Berkali-kali aku mencoba
menepismu, menamaimu cinta yang tak tentu arah.
Namanya adalah Gun.
Seorang laki-laki Bumiputra asli.Gun memiliki keyakinan didalam dirinya bahwa
ia adalah seorang ‘Jawa Tampan’ yang memiliki kulit gelap, rahang dan tulang
pipi yang tegas, serta tubuh yang tegap. Gun jatuh hati kepada gadis cantik
keturunan Tionghoa yang ia lihat saat di trem kelas 2. Hari itu pula, Gun
mengikuti gadis itu sampai ke beberapa tempat, termasuk toko kereta angin Baba “Liem”,
yang akan menjadi tempat bersejarah bagi Gun dan gadis cantik itu. Hari selanjutnya,
Gun mencari cara untung dapat berkenalan dan berjabat tangan dengan gadis
tersebut. Karena menurut Gun, dari jabat tangan lah, semua akan lebih mudah,
termasuk mengetahui namanya.
Gun bekerja pada kantor
pos milik Gubermen Belanda. Sedangkan Lin, nama gadis itu, adalah seorang
pengajar di sekolah bikinan Tiong Hoa
Hwee Kwan (THHK). Perbedaan keturunan, latar belakang, dan situasi saat itu
lah yang membuat keduanya dipertemukan tetaapi tidak dapat bersatu. Perjalanan Gun
dan Lin mengalami banyak hambatan. Tetapi, pemikiran-pemikiran mereka lah yang
membuat mereka tersadar dan berjuang menurut tujuannya masing-masing. Namun,
tetap saja, Gun dan Lin sangat lah berbeda. Seorang Bumiputra dan seorang
Tionghoa, pantaskah? Gun terlanjut jatuh hati.
Kau, jika kau di sana itu jatuh cinta, kuharap
kau pilihlah dengan bijak. Nasib memang membentuk pikiran, tapi pikiran belum
tentu mengubah nasib.
Cover novel ini membuat
saya men-judge bahwa akan terjadi kisah cinta yang monoton, seperti kisah cinta
lainnya yang dapat ditebak. Tetapi, ternyata tidak. Memang sih endingnya sesuai
dengan ekspetasi saya, tetapi tidak dengan jalan ceritanya. Penulis seperti
telah menyiapkan kejutan-kejutan kecil disetiap babnya. Hal itu membuat pembaca
merasa terobrak-abrik, apalagi saya. Saya merasa emosi saya benar-benar
dimainkan oleh penulis. Saya sangat suka permainan emosi tersebut. Kisah cinta
ini memang klise, perbedaan latar belakang. Tetapi, hal tersebut terjadi
disituasi yang tidak biasa. Dengan situasi pada masa penjajahan Belanda, kisah
cinta yang terjadi antara Gun dan Lin menjadi lebih indah dan penuh perjuangan.
Selain kisah cinta,
penulis memberikan pengetahuan kepada pembacanya mengenai masa-masa yang
terjadi pada jaman penjajahan Belanda. Pemaparan tentang situasi saat itu,
tentang masalah-masalah yang terjadi, dan tentang apa saja yang menjadi vital
pada saat itu dikemas secara lugas dan menarik. Walau ada beberapa kalimat yang
menurut saya ganjal dan membuat saya tidak mengerti. Tatanan bahasa yang
digunakan tidak biasa. Mungkin karena harus mengikuti gaya bicara orang-orang
pada jaman itu? Saya kurang mengerti juga, hehe. Dan yang terakhir, menurut
saya, ending yang terjadi tidak begitu ngena.
Tapi, novel ini tetap recommended
untuk dibaca.
Bentangan jarak dan
waktu bukan halangan. Rindu akan membawa mereka pulang. Namun, masih cukupkah
rindu yang mereka miliki?
***
17.42 - 21 Desember 2016
Senin, 19 Desember 2016
Genggaman
Pernah terpikirkan, selama hidupmu, tangan siapa saja yang akan kamu genggam?
Atau mungkin,
Adakah tangan yang akan kamu genggam?
Atau yang lebih perih,
Adakah tangan yang bersedia kamu genggam?
Aku adalah salah satu dari sekian orang yang memikirkannya.
Aku pernah berpikir, seperti apa rasanya menggenggam. Iya, bukan hanya sekedar menggenggam yang aku maksud.
Bagaimana rasanya menggenggam sesuatu yang ingin sekali kita genggam?
Bagaimana rasanya menggenggam dan digenggam balik?
Bagaimana rasanya menggenggam... tanganmu?
Semuanya memang terdengar mudah. Ingin tau rasanya? Ya dicoba.
Tapi, percayalah, tidak semudah itu. Ketika kita telah menggenggam semua itu, lalu apa selanjutnya?
Oh, jangan itu dulu.
Bagaimana dan apa saja yang akan terjadi dan harus dikorbankan untuk merasakannya?
Coba ditelaah dulu. Dipelajari dulu. Sudah dapat jawabannnya? Oke.
Ketika kita telah menggenggam semua itu, lalu apa selanjutnya?
Apakah kita akan begitu saja melepaskan genggaman tersebut? Apakah rela? Setelah semua yang telah terjadi, genggaman tidak bisa lepas dengan mudah.
Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk lepas. Bahkan, sebenarnya bisa saja lepas semudah kita buang angin.
Ya, memang, semua tergantung dari cara kita mempertahankan genggaman itu.
Bagiku, mempertahankan genggaman lebih sulit dari mata kuliah sistem pengukuran listrik. Lebih sulit dari menelan sayur. Lebih sulit dari bangun tidur di hari Minggu.
Ketika kamu berusaha menggenggam sesuatu, tekad paling utama adalah berjanji tidak akan melepaskannya begitu mendapatkannya. Percaya atau tidak, janji itu diam-diam dibuat setiap orang yang sedang berusaha menggenggam sesuatu, secara sadar ataupun tidak sadar.
Ketika aku mendapatkan genggaman itu, hal pertama yang aku lakukan adalah merasakannya. Mulai dari rasa tangannya saat berada digenggamanku. Rasa tatapannya saat mata kami saling terkunci. Rasa degup jantungku saat kedua hal itu terjadi.
Ketika aku mendapatkan genggaman itu, mempertahankannya adalah satu-satunya pilihan. Termasuk tidak rela melihat orang tersebut menyakiti dirinya sendiri, dalam hal apapun. Itu satu-satunya pilihan. Aku sendiripun tidak bisa mengelak.
Jika kau belum mendapatkannya, maka berusahalah.
Jika kau sudah mendapatkannya, maka pertahankanlah.
Jika kau merasa genggaman itu tidak pas, maka coba sesuaikanlah.
Jika benar-benar tidak pas, jangan dipaksa, biarkan genggaman itu mencari artinya sendiri, biarkan genggaman itu mengalir terbawa waktu.
Jika genggaman itu memiliki arti lain, semoga arti lainnya adalah arti baik. Entah baik bagi siapa.
Satu hal lagi, jangan lupa berterima kasih kepada mereka yang bersedia dan berani menggenggam balik.
***
21.17 - 19 Desember 2016
Selasa, 13 Desember 2016
Dear San (3)
Dear San,
Halo, San! Apa kabar?
Semoga kabar baik yang akan selalu kamu sampaikan ya. Kapanpun sampainya, aku
tidak peduli, selama itu kabar baik, i
wish. Kabarku baik, San. Hm ya, mungkin aja kamu tanya balik, hehe.
Biasanya, kalau orang tanya kabar, pasti ditanya balikkan? Ya, aku positif aja
kalau kamu tanya balik. Kalaupun enggak, gapapa kok. Biar kamu tau, kalau aku
selalu baik. Berusaha.
Halo, San! How’s life? Sepertinya, ada banyak hal
yang aku lewatkan, ya? Would you tell me?
Aku selalu rindu cerita-ceritamu, San. Cerita tentang mimpi-mimpi randommu. Cerita
tentang sarapan pagimu. Cerita tentang berita-berita yang kamu tonton. Cerita tentang
kejadian absurd yang kamu temui hari itu. Aku rindu.
Hai, San! Apa kabar
Jakarta? Iya, kamu pasti bosen deh dengar pertanyaanku yang satu ini. San,
seburuk-buruknya Jakarta, itu tetap kotaku. Kota tempatku berpulang. Walau tak
senyaman Jogja, Jakarta punya arti yang mendalam. Oh ya, dengar-dengar, kamu
sudah tidak di Jakarta lagi, ya? Glad to
hear that. Itu pasti yang terbaik yang Tuhan kasih ke kamu. Lagian, Bandung
juga kota yang indah, bukan?
Hai, San! Kamu mau dengar
sedikit ceritaku? Kamu masih ingat gedung biru tingkat empat? Aku lewat situ
beberapa hari yang lalu! Tidak pernah berubah San. Hanya saja, terlihat semakin
kumuh. Selebihnya, gedung itu masih sama. Masih terpampang sebuah logo
bimbingan belajar didepannya. Masih banyak juga tukang jualan di halamannya. Tapi,
tidak ada Takoyaki kesukaan kita. Entah karena tutup, atau memang sudah tidak
ada. Hari dimana aku lewat adalah sore hari. Senja, San. Bahkan langitnya pun
masih menorehkan warna yang sama. Orange-kuning-semburat pink. Apik. Akan lebih
apik kalau dilihat dari rooftop di lantai 4.. I miss yaa.
San, aku tidak pernah
menyesali apapun. Ketika hari-hari dulu terjadi, kita hanyalah sepasang anak kecil yang terbawa arus kerasnya Jakarta. Sepasang anak kecil yang menjadi korban arus
kehidupan yang deras. Aku yakin, kamu tau persis apa yang terjadi selama ini. Aku
yakin, kamu tau bahwa aku pun merasakan dan memikirkan hal yang sama. Sekali lagi,
ini bukan sebuah penyesalan.
Ini hanya sebuah surat
kabar dari teman lama yang ingin bersua kembali.
Aku rindu, San.
With smile,
Fin.
***
14.51 – 12 Desember 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
