Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritaku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2018

Di Stasiun Sore Itu



Aku sudah pernah cerita, belum? Kalau aku menyukai stasiun. Aku menyukai hiruk pikuk dari ruang tunggu, loket tiket, dan cafetaria. Tapi, kamu selalu tersenyum miring. Katamu, "Mereka hanya melakukan kegiatan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang spesial." Tidak, kamu tidak mengerti. Stasiun menjadi tempat singgah dari satu tujuan ke tujuan berikutnya.
"Kenapa kita selalu bertemu di stasiun?" tanyaku sambil lalu.
"Karena tujuan kita tidak pernah sama." jawabmu sambil memainkan permainan di handphone-mu.
"Tapi, pulang kita tetap sama, kan?" tanyaku dengan sedikit serius.
"Kota atau arti yang sebenarnya?" balasmu dengan lirikan sekilas ke arahku.
Aku terdiam. Sebenarnya, aku tidak punya maksud apapun, hanya untuk membuka topik saja. Tapi, sepertinya ini menarik. Stasiun memang identik dengan tujuan dan pulang. Tapi...
"Katamu, stasiun salah satu tempat krusial bagi orang yang akan bepergian, tapi kenapa kamu selalu bermasalah dengan sebuah pulang?" selamu tiba-tiba. Saat aku sadar, kamu sudah menaruh perhatian penuh kepadaku. Handphone-mu sudah berada didalam saku celana dan kedua tanganmu sudah bertaut sembari memandang wajahku.
"Aku... Aku tidak tau."
"Kamu bahkan tidak pernah keberatan untuk pergi ke tempat-tempat jauh. Sekalipun itu tempat asing bagimu." imbuhmu, seperti menyudutkanku.
"Aku hanya tidak mengerti. Ke mana aku harus pulang?" jawabku dengan pandangan lurus kedepan. Aku tidak sanggup jika harus menatapmu lebih lama.
"Bagiku, bertemu denganmu di stasiun ini pun, sudah menjadi pulangku." lanjutku tanpa memandangmu. Pulang tidak selamanya sebuah tempat yang tetap, bukan? Tambahku dalam hati.
"Tapi, bagaimana dengan Jakarta dan isinya?" tanyamu dengan satu alis yang terangkat.
"Itu pun, pulangku." jawabku yang saat ini berani memandangmu. Kamu tersenyum lebar. Kamu selalu mengerti maksudku. Jakarta beserta isinya dan kamu. Iya, kamu mengerti. Setiap stasiun memang hanya akan menjadi tempat singgah untuk jiwa-jiwa yang butuh pulang--atau butuh tempat sementara untuk melepas rindu sebentar.


***
Kutoarjo, 29 Desember 2017 - 17.30

Sabtu, 09 Juni 2018

Membuka Lembar

Untuk pembuka sebuah lembar baru, kamu terasa sempurna.

Lembar pertama,
tulisan yang terukir dari pena terasa tegas.
Kata-kata yang tercipta pun terbaca dengan sangat jelas.
Seperti tidak ada ragu,
pena bergerak dengan sangat lihai.
Indah.

Lembar kedua,
gambar-gambar kecil mulai tercipta.
Mewakili kata yang tidak mampu dituliskan,
gambar membuat semua moment terasa lebih hidup.
Gambar tahu,
bagaimana menjelaskan setiap kata yang hanya ada didalam pikiran.
Indah dan nyata.

Lembar ketiga,
gambar-gambar itu mulai memiliki warna.
Belum warna warni memang.
Hanya saja,
menambah warna menjadi salah satu langkah besar.
Tulisan, gambar, dan warna.
Almost perfect.

Lembar keempat,
seharusnya setelah kata 'warna' akan ada kata 'warni'.
Sepertinya,
kata 'warni' bukan untuk lembar ini.
Sepertinya,
jalan ditempat adalah kata yang tepat.
Tak apa,
menulis kata 'jalan ditempat' pun tetap terasa indah.

Lembar kelima,
tinta pada pena, habis.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak, masih terdapat banyak tulisan, gambar, dan warna.
Tidak seharusnya selesai di sini.
Sepertinya,
saya butuh mengisi tinta.



***
Jakarta, 9 Juni 2018 - 23:00

Senin, 05 Februari 2018

Kita dan Jarak

Pada suatu pagi, dibawah terik matahari, kamu berdiri.
Pandanganmu jatuh tepat dibelakang bahuku.
Mata yang selalu ramah, berubah menjadi layu tak ada arah.
Kamu mendekat, tapi tidak benar-benar dekat.
Maksudku,
Hei, ada apa? Kamu tampak tidak baik.
Kamu memang didekatku, tapi tidak dengan pandangan dan pikiranmu.
Kamu bilang, tidak apa-apa.
Tapi, semua yang kamu tunjukkan berkata apa-apa.
Berbagai macam duga dan tanya, singgah dikepala.
Kamu bilang, beri jarak pada kita.
Aku bilang, apa yang salah dengan kita.
Kamu bilang, hanya jenuh.
Aku bilang, mungkin pikiranmu sedang penuh.
Kamu bilang, mungkin saja.
Aku bilang, berapa jauh jarak yang kamu butuh?
Kamu bilang, sejauh apapun sampai kembali merasa utuh.
Aku bilang, dan kamu akan kembali?
Kamu bilang, iya akan kembali.
Aku bilang, jangan terlalu lama.
Kamu bilang, semoga saja.
Pada akhirnya, aku tetap membiarkanmu berlalu.
Dengan sendu yang mengganggu,
Dan rindu yang memburu.



***
Yogyakarta, 5 Februari 2018 - 16:18

Sabtu, 30 September 2017

Dear San (5)

Dear San,

Selamat malam dari Yogyakarta, San!

Apa kabarmu malam ini? Sudah terlelap, ya? Semoga mimpi indah selalu berpihak padamu, ya. Atau mungkin mimpi thriller? Lalu, pagi hari kamu cerita kepadaku tentang mimpi itu. Haha, I wish.

Akhir-akhir ini, Yogyakarta sudah mulai diguyur hujan. Iya, sih, hujannya sore atau malam hari. Jadi, kalau kuliah enggak harus basah-basahan. Tapi, jadi bikin mellow. Hahaha. Iya, aku selalu ingat kok, sapaan (re: ledekan) itu. Oh iya, kalau sore hujan, jadi pengin indomie rebus. Kerjaan kita ditengah-tengah les dan kelaparan, adalah makan indomie. Oh! Dan nutrisari atau pop ice! Yummy! By the way, Bandung gimana? Sudah mulai hujan juga?

San, entah memang seperti ini jalannya atau memang kita tidak pernah benar-benar ada pada satu circle yang sama, ya? Sangat sulit untuk menemukanmu. Dan anehnya lagi, aku masih berusaha mencarimu. Tapi, tidak pernah benar-benar berani mencari dalam arti yang sesungguhnya. Kamu mengerti, ya kan, San?

San, aku tidak tau, apakah kamu membaca ini, atau beberapa surat sebelumnya, atau tidak pernah. Aku memang tidak benar-benar berharap kamu akan membacanya. Setidaknya, aku lega karena memiliki bukti nyata jika suatu saat kita bertemu dan berbagi cerita.

Tapi, jika kamu membaca ini, jangan ragu. Iya, ini tentangmu, San.

Tentang pesan-pesan yang tidak pernah aku sampaikan kepadamu, dan tentang hal-hal yang baru aku sadari setelah semuanya terjadi dan terlambat. Sangat terlambat.

Selamat hari lahir, ya, San! Seharusnya, 98 hari yang lalu aku membuat tulisan “Dear San” ini. Tapi, tulisan “Tatap dan Senyum” lebih cocok di-post pada tanggal tersebut.


With smile,

Fin


***

Yogyakarta, 30 September 2017 – 01:20 WIB

Sabtu, 24 Juni 2017

Tatap dan Senyum

Pada lampu di ujung perempatan, kita berjumpa. Tatapmu lurus kedalam manik mataku. Aku diam membisu. 

Kita tidak beranjak. Seolah-olah, detik demi detik merayap pelan sembari menggerogoti kaki-kaki kita. Atau mungkin hanya kakiku yang pasalnya, seperti membeku ditempat atau dipaku kedalam bumi. 

Sejurus kemudian, kamu tersenyum. Senyum yang melelehkan semesta. Karena setelahnya, hujan turun rintik-rintik. Sepertinya, semesta pun setuju, bahwa senyummu dapat menggetarkan jantung siapapun. Termasuk aku dan langit. 

Pada detik itu pula, aku berdoa. Semoga Tuhan berbaik hati untuk mempertemukanku dengan tatap dan senyum itu setiap harinya di masa depan.


***
Pekalongan, 24 Juni 2017 - 21:47 WIB

Sabtu, 03 Juni 2017

Dear San (4)

Dear San,

"In another life, I would make you stay. So I don't have to say you were the one that got away."


Kamu bacanya sambil nyanyi juga gak, San? Hahaha.

Halo, San! Apa kabar? Surat pertama untukmu ditahun 2017 ini. Ah, ya, siapa tau kamu menunggu, hehe.

Oh, iya, begitu lagu The One That Got Away mengalun di radio, aku teringat kamu. Entah bagaimana, lagu itu terus mengingatkanku kepadamu. Tentang kita beberapa tahun yang lalu. Seingatku, kita sama sekali tidak pernah menyanyikan atau menyinggung lagu itu, iya kan?

By the way, Bandung apa kabar? Ah, iya, Nangor, yaa? Beberapa hari yang lalu, temanku ada yang protes ketika aku menyebut Nangor adalah Bandung, hehe. Ternyata, beda jauh, ya...

Ah, ya, bagaimana kabar genre film kesukaanmu? Ada film yang bagus lagi, kah? Bulan lalu, aku nonton film genre thriller, tapi lupa banget sama judulnya. Filmnya mirip sama Saw, tapi hanya karena filmnya terlalu gamblang sih. Keseluruhan ceritanya, beda banget.

San, semakin lama aku di Jogja, semakin mengingatkan aku akan semua ceritamu tentang kota ini. Tapi, membuatku semakin rindu Jakarta, Iya, memang, Jogja sangat membuat nyaman. Tapi, aku jauh dari rumah. Satu yang membuat semakin bingung. Jadi, apa sebenarnya arti rumah? Kalau nyaman, bisa kah disebut rumah? I'm waiting for your answer. I always like a moment when you share your mind.

San, if I had time machine, I would take our time back. If you had, too. Would you..?


With smile,

Fin.

***
Yogyakarta, 1 April 2017 - 23.15 WIB

Rabu, 25 Januari 2017

Pulang dan Pergi

Bagiku, Jakarta bukan hanya sekedar Ibu Kota.
Bukan juga sekedar tempat pulang.
Bukan juga tempat untuk pergi.
Jakarta adalah kota ramai yang membuat hati sunyi.
Kota padat yang membuat hati lengang.
Kota dimana rumah, nyaman, dan luka ada didalamnya.
Kota dimana kata pergi menjadi begitu dingin dan kata pulang menjadi sangat hangat.
Jika pulang memberi kekuatan baru, maka pergi pun memberi luka baru.
Jika pulang membuka luka lama, maka pergi pun membuka lembar baru.
Jika pulang berarti menyelami jejak yang pernah ada, maka pergi berarti menyulam kenangan-kenangan itu.
Tidak semua pulang itu dinanti dan tidak semua pergi itu dihalau.
Bagiku, seberapa jauh kita pergi, kata pulang akan semakin berarti.
Bagiku, pergi itu ketika berani untuk terus menatap setiap titik yang tidak pasti didepan sana, dan pulang itu ketika kita berani untuk menghadapi setiap luka yang pernah tercipta.
Bagiku, pergi adalah perjalanan, dan pulang adalah pengistirahatan.
Karena pergi dan pulang hanya perkara seberapa jauh jarak yang ditempuh.
Karena itu pula, setiap orang memiliki arti pulang dan pergi yang berbeda-beda.



***
Kereta Jakarta - Yogyakarta, 05:17 - 25 Januari 2017

Kamis, 12 Januari 2017

Tentang Keinginan

Saya mengerti, setiap hal pasti mempunyai masa jayanya masing-masing.
Ketika masa jaya tersebut habis, akan ada penurunan, dan kembali ke keadaan statis.
Itu pasti, saya tau persis.
Tapi, kadang, ada beberapa hal yang tidak bisa kita sangkal.
Contohnya, seperti kita ingin semuanya kembali ke masa jaya. Kita ingin tidak ada yang berubah.
Iya, saya mengerti, bahkan hakikat hidup sebenarnya adalah tentang moving forward.
Keinginan seperti itu sangat tidak masuk di akal, memang.
Tapi, bagaimana lagi?

Ketika hati bekerja lebih cepat dari pada otak.
Ketika rasa bermain lebih unggul dari pada logika.
Bisakah kita menahannya?

Seperti ketika rindu datang menerpa, bisakah otak menghalau lebih cepat dari pada hati yang berusaha membangkitkan rindu itu menjadi lebih besar?
Saya tidak mengerti.

Untuk saat ini, yang saya tau, saya hanya ingin dan rindu kamu.
So pathetic. And selfish, maybe? Maaf.


***
Jakarta, 12 Januari 2017, 00:40

Selasa, 13 Desember 2016

Dear San (3)

Dear San,

Halo, San! Apa kabar? Semoga kabar baik yang akan selalu kamu sampaikan ya. Kapanpun sampainya, aku tidak peduli, selama itu kabar baik, i wish. Kabarku baik, San. Hm ya, mungkin aja kamu tanya balik, hehe. Biasanya, kalau orang tanya kabar, pasti ditanya balikkan? Ya, aku positif aja kalau kamu tanya balik. Kalaupun enggak, gapapa kok. Biar kamu tau, kalau aku selalu baik. Berusaha.

Halo, San! How’s life? Sepertinya, ada banyak hal yang aku lewatkan, ya? Would you tell me? Aku selalu rindu cerita-ceritamu, San. Cerita tentang mimpi-mimpi randommu. Cerita tentang sarapan pagimu. Cerita tentang berita-berita yang kamu tonton. Cerita tentang kejadian absurd yang kamu temui hari itu. Aku rindu.

Hai, San! Apa kabar Jakarta? Iya, kamu pasti bosen deh dengar pertanyaanku yang satu ini. San, seburuk-buruknya Jakarta, itu tetap kotaku. Kota tempatku berpulang. Walau tak senyaman Jogja, Jakarta punya arti yang mendalam. Oh ya, dengar-dengar, kamu sudah tidak di Jakarta lagi, ya? Glad to hear that. Itu pasti yang terbaik yang Tuhan kasih ke kamu. Lagian, Bandung juga kota yang indah, bukan?

Hai, San! Kamu mau dengar sedikit ceritaku? Kamu masih ingat gedung biru tingkat empat? Aku lewat situ beberapa hari yang lalu! Tidak pernah berubah San. Hanya saja, terlihat semakin kumuh. Selebihnya, gedung itu masih sama. Masih terpampang sebuah logo bimbingan belajar didepannya. Masih banyak juga tukang jualan di halamannya. Tapi, tidak ada Takoyaki kesukaan kita. Entah karena tutup, atau memang sudah tidak ada. Hari dimana aku lewat adalah sore hari. Senja, San. Bahkan langitnya pun masih menorehkan warna yang sama. Orange-kuning-semburat pink. Apik. Akan lebih apik kalau dilihat dari rooftop di lantai 4.. I miss yaa.

San, aku tidak pernah menyesali apapun. Ketika hari-hari dulu terjadi, kita hanyalah sepasang anak kecil yang terbawa arus kerasnya Jakarta. Sepasang anak kecil yang menjadi korban arus kehidupan yang deras. Aku yakin, kamu tau persis apa yang terjadi selama ini. Aku yakin, kamu tau bahwa aku pun merasakan dan memikirkan hal yang sama. Sekali lagi, ini bukan sebuah penyesalan.

Ini hanya sebuah surat kabar dari teman lama yang ingin bersua kembali.

Aku rindu, San.


With smile,

Fin.

***

14.51 – 12 Desember 2016

Minggu, 14 Februari 2016

Dear San (2)

Dear San,

Hai, San! Apa kabar? Maaf, aku mengganggumu (lagi) dengan surat-surat ini. Surat yang (mungkin) tak akan pernah sampai ke tanganmu. Tentu saja, tak akan pernah kamu baca.

Bagaimana kabar Jakarta, San? Masih ramai, kah? Masih macet, kah? Masih berpolusi, kah? Masih gemerlap, kah? Jakarta memang selalu membuat siapa pun terkena hipertensi. Tetapi, disitu lah berkesannya. Yakan, San? Padat, sumpek, individualis, dan menghibur. Semua yang ada di Jakarta membuatku selalu merasa kecil dan tidak berdaya. Benar-benar kota yang menggambarkan bahwa hidup sangat lah keras, dan kesuksesan hanya milik orang-orang yang ingin bekerja keras. Sangat keras. Kamu setuju, San? Ah, ya, kamu pasti punya pendapat lain, as always. :")

Kamu ingin bertanya kabar Yogyakarta? Iya, betul, selalu damai dan tentram. Yogyakarta selalu mengingatkanku dengan tawa renyahmu. Mengingatkanku dengan senyum miringmu. Mengingatkanku dengan selera humor rendahmu. Mengingatkanku dengan... Ketenangan matamu. Satu kesamaan antara kamu dan Yogyakarta. Sama-sama membuat tenang. Ah, ya, dan bebas. Bebas dalam artian menjadi diri sendiri. Yogyakarta mengajarkanku akan banyak hal. B A N Y A K. Sangat banyak. Terutama dalam hal sikap. Bagaimana seharusnya kita bersopan santun. Bagaimana seharusnya kita menghargai apa yang kita miliki. Bagaimana seharusnya kita memaknai hidup dan menghidupi hidup. :")

Jakarta sebuah kota dimana kita bertemu. Yogyakarta itu kotaku melakukan aktivitas. Jakarta itu kotamu melakukan aktivitas. Tetapi, Jakarta adalah kotaku untuk pulang. Untukmu, Yogyakarta lah kotamu untuk pulang. Jadi, di mana kita seharusnya bertemu (kembali), San? :")

Kau tau, San? Yogyakarta hampir sempurna. Hanya satu kurangnya; tidak ada rumah. Tidak ada tempat untuk pulang. Tidak ada keluarga dan... Kamu. :")


With smile,

Fin.


***
22.09 - 13 Februari 2016

Jumat, 29 Januari 2016

Dear San

Dear San,

Halo, San! Long time no see. Apa kabarmu? Aku selalu berharap kamu baik-baik saja di sana. Di mana pun kamu berada. Bahkan, aku tak bisa mengira-ngira kamu ada di mana. Tetapi, aku tahu, kamu akan selalu di sana, di salah satu bilik hatiku.

Hai, San! Sudah mulai tersenyum kah kamu? Sejak terakhir kita berkirim kabar, kamu masih belum tersenyum (dugaanku). Aku selalu berharap kamu memulai hari dengan seulas senyuman, bukan dengan secangkir kopi seperti yang aku lakukan. Iya, aku masih minum kopi, maafkan aku, ya? Tetapi, pernah, disuatu pagi, aku mencoba caramu. Sarapan dengan segelas susu cokelat dan beberapa potong biskuit. Oh, tentu saja, seulas senyuman juga. Rasanya memang baik, tetapi tidak lebih baik dari sapaan pagimu, San. Apalagi bila disuguhkan bersama kopi dan roti kacang. Sempurna.

Halo, San! How's life? Sudah lama tidak mendengar cerita-cerita lucu darimu. Tentang banci-banci yang suka godain kamu. Tentang anak-anak remaja putri yang sering nongkrong di pengkolan gang rumahmu. Tentang kue-kue buatan ibumu. Tentang film-film thriller. Tentang humor-humor receh. Ah, apa pun itu. Masih mau kah kamu bertukar cerita denganku?

Hai, San! Aku... Aku rindu.


With smile,

Fin.


***
23.11 - 28 Januari 2016

Rabu, 31 Desember 2014

Bulan Terakhir di 2014

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2014. Iya, aku tahu kok waktu memang berjalan sangat cepat. Aku bahkan masih ingat hari pertamaku di tahun 2014 adalah menghabiskan waktu seharian didepan laptop untuk menulis cerpen, resolusi pertamaku di tahun 2014. Dan... entah apa lagi yang aku lakukan di tahun 2014 ini. Yang jelas, ini adalah salah satu amazing years yang pernah ada.

Desember, bulan terakhir di tahun ini, adalah bulan yang sangat amaze. Dan here you go, membaca ceritaku tentang bulan terakhir ini HEHE.

Minggu pertama di bulan Desember, sekolahku masih ujian akhir semester dan ditambah test toeic untuk kelas 12. Setelah selesai, ada pekan remed yang berlangsung sekitar seminggu. Biasanya diteruskan dengan persiapan untuk Bulungan Cup, 'biasanya' :"), tetapi sangat disayangkan tahun ini sekolahku tidak bisa mengadakan acara yang sangat dibanggakan itu:(. Sumpah ini sedih loh. Dan karena tidak ada acara tersebut, kami, anak kelas 12, mengira sudah bebas, tetapi ternyata tidak. TIDAK. Iya, dicapslock banget. Kami, tiga angkatan, dikasih tugas essai yang.... Masyaallah:). Dibilangnya sih ini tugas untuk nilai sikap. OH oke ternyata sekarang sikap itu dinilai dari sebuah essai. Tidak tanggung-tanggung, setiap pelajaran punya tugas essai masing-masing yang deadlinenya berdekatan. Belum lagi, tugas membuat video untuk mata pelajaran tertentu. Tentu saja dengan deadline yang sama dekatnya. Dan sejak diluncurkannya tugas-tugas essai itu, timeline LINE isinya keluhan esaai semua. Iya, aku tahu kok hidup memang berat. Untung punya pacar yang bisa diandalkan HAHA. Enggak, aku enggak menyuruh dia bikin essaiku kok, tapi aku jadikan dia pelampiasanku dari rasa lelah itu. HEHE.

Diakhir minggu kedua, aku ontang-ontang kaki di rumah, menikmati hawa bebas yang akhirnya datang. Walau les-les masih jalan, tapi enggak seberat sebelum ujian semester. Dan di minggu kedua ini, alhamdulillah aku dapat banyak banget rezeki, mulai dari voucher gramedia, voucher kfc sampai voucher Blitz. Lumayan banget.

Minggu ketiga, aku punya banyak rencana. Ya namanya anak jaman sekarang, rencana sih banyak, tapi yang jalan cuma satu atau dua haha. Dan rencana minggu itu yang jalan cuma nonton Doraemon Stand By Me - yang ternyata tidak sesuai dengan ekspetasiku, jalan ceritanya sudah pernah aku baca di komiknya -, lalu jalan-jalan ke Dunia Fantasi dengan Icul, Echa, Syifa, dan Hilmi. Pada akhir minggunya, aku ikut Syifa pergi ke sebuah gathering di Universitas Indonesia.

Dan di awal minggu keempat, tepatnya Hari Senin, aku pergi ke Kudus, kampung halamanku, sendirian. Ini antara nekat dan memang kepingin. Kakek-nenekku yang notabenenya adalah seorang perfeksinonis. Sempat ada cekcok dengan papaku diawal-awal keberangkatanku mengenai jadwal kereta. Iya, jadwal kereta. Aku heran aja, yang mau pergi dan naik kereta siapa tetapi yang ribet siapa. Dan hiburan sekaligus penderitaanku pun dimulai. Banyak sekali hal-hal baru yang aku dapat dan bisa aku pelajari. Di hari pertama, aku dan Kiki bermain Playstation, awalnya aku hanya menyuruh dia untuk mengajak main Mbak Bunga - perempuan kecil dengan usia sekitar 5 tahun tetapi kami panggil Mbak karena dalam silsilah keluarga dia diatas kami - dan tiba-tiba saja dia datang dengan Playstation 2 yang ternyata akhirnya aku tahu kalau itu dia menyewa. Aku terharu HAHA ini serius, aku hampir nangis, karena dia tahu saja gimana caranya bikin anak kecil betah di rumah dan tidak merepotkan nenek. Oh for your information, Kiki itu laki-laki kelas 5 sd. Masih banyak lagi perlakuan Kiki yang membuat aku speechless dan berkata dalam dalam hati, gila gentel amat nih cowok, untung sodara dan masih kecil. Iya, itu beneran. Maafkan pikiran kecewekanku ini HAHA. Disalah satu sore, nenekku bercerita kalau bunga Wijaya Kusuma di halaman akan mekar tengah malam nanti. Oh waw aku excited banget dong. Aku bilang kalau aku ingin melihatnya tengah malam nanti. Dan Kiki, yang biasanya tidur paling malam itu pukul 10, malam itu dia ngotot menemani aku melihatnya. Alhasil kita begadang. Saat pukul 11, aku sudah tidak sabar, akhirnya aku mengajak Kiki keluar untuk melihatnya. Tetapi, kami keluarnya diem-diem, karena pasti nanti dimarahin kakek sama bapaknya Kiki. Begitu kita sampai di halaman, dan... WAH SUBHANAALLAH KEREN BANGET. Oke, ini agak lebay, tapi serius sekeren itu. Enggak menyesal deh begadang dan keluar diem-diem walau baliknya kami ketahuan gara-gara pintunya sussah ditutup jadi kita banting HEHEHE. Hari terakhir aku disana, aku diajak Kiki dan Mas Puja pergi ke kebun buah naga naik sepeda. Aku kira beneran deket, eh ternyata... :). Tapi kebayar kok, perjalanan selama ke kebun itu indah banget. Di desa yang masih tergolong sepi, pagi-pagi naik sepeda, udara sejuk, sebelah kanan sawah, sebelah kiri pemukiman, dan pemandangan didepan adalah gunung dari kejauhan - sampai sekarang aku enggak tahu itu gunung apa. That was beautiful day. Karena di hari itu juga, saudaraku yang sama-sama dari Jakarta, tanpa kami ketahui, datang kesana. Cucu-cucu nenekku hampir lengkap hari itu, hanya Gigih, adikku, yang tidak ada disitu. Dan esok harinya, aku bangun pukul 4 pagi untuk mengejar kereta api ke Jakarta yang berangkat pukul 8. Kudus itu kota kecil, tidak ada stasiun ataupun bandar udara. Jadi, aku harus ke Semarang dulu untuk pulang ke Jakarta dengan kereta api. Kudus - Semarang itu kayak Jakarta - Bandung, dekat sih tetapi siapa yang tahu macet atau tidaknya. Dan baru kali ini, aku benar-benar memperhatikan pemandangan diluar kereta dengan seksama. HAHA maaf lebay. Tapi beneran, keren banget. Apalagi begitu lepas stasiun Cirebon, pemandangan disebelah kanan diganti dengan pantai dan laut, lalu sebelah kiri ada bukit-bukit kecil. Ini keren banget. Coba kalau jendelanya bisa dibuka, pasti udaranya segar banget deh.

Di bulan Desember juga, aku pertama kali membaca novel sebanyak 8 buah dalam sebulan. Gila. Biasanya juga cuma 2-3 novel doang. Entah harus senang atau sedih. Di bulan Desember juga, aku menyadari kalau kehadiran orang-orang yang kita sayangi itu sangat berharga. Aku juga menyadari kalau kebersamaanku dengan orangtua dan adikku sangat kurang, dan aku berharap di 2015 ini akan lebih sering bersama. Bersama dalam arti menghabiskan waktu bersama-sama, tidak sibuk masing-masing seperti di rumah seperti biasa. Aku juga menyadari kalau cemburu berlebihan hanya akan mendatangkan pertengkaran bukan pengertian yang kita inginkan. Dan di bulan Desember ini, aku mulai belajar makan sayur. HEHEHE. Di bulan ini, aku juga belajar bahwa usaha tanpa doa itu hasilnya benar-benar nihil, kecantikan dan kepintaran tanpa kesopanan itu adalah keburukan paling besar, dan aku belajar bahwa tidak ada hadiah yang bisa kita dapatkan secara instan.

Dan sebagai penutup dari posting ini, aku mau bocorin sedikit bucket list ku di tahun 2015.
1. Khatam Al-Quran lagi.
2. Mendapat PTN dengan jurusan yang sesuai, melewati jalur apapun, entah itu SNMPTN, SBMPTN ataupun jalur ujian mandiri. Dan semoga PTN-nya sesuai dengan keiinginan Papa, yaitu Teknik Kimia Undip. Aku juga enggak tahu kenapa Papa pingin banget aku masuk disitu. Kalau boleh jujur, aku sendiri maunya Fisika UI.
3. Ada minimal 5 cerpen di blog ini. HAHA semoga yaa.
4. Online book shop nya sudah bisa jalan. Syukur-syukur kalau lancar.
5. Membelikan Mama tas jalan. Aku belum pernah membelikan sesuatu barang buat Mama hehe.

Iya, itu saja, sisanya rahasia pabrik huehehehe.
Jadi, terima kasih banyak atas kunjungannya selama 2014! Semoga 2015 menjadi tahun yang baik untuk aku dan kalian, ya! Aamiin.

Kamis, 11 Desember 2014

Pertanyaan-pertanyaan

Pernah gak sih, kamu, sekali saja, berpikir aku adalah ‘the one’nya kamu?

Pernah gak sih, kamu, sekali saja, berpikir aku adalah salah seorang yang istimewa?

Pernah gak sih, sebentar saja, ada aku didalam hati kamu?

Pernah gak sih, sebentar saja, ada aku yang berlarian didalam pikiranmu?

Pernah gak sih, sedetik saja, kamu merasakan aku sebagai salah seorang yang kamu inginkan?

Pernah gak sih, sedetik saja, namaku muncul ketika kamu merasa butuh seseorang?

Pernah gak sih, sedetik saja, namaku bertengger didalam hatimu?

Pernah gak sih, sekali saja, kamu merindukanku seperti aku merindukanmu so badly?

Pernah gak sih, sekali saja, kamu berusaha menyayangiku melebih teman biasa?

Pernah gak sih, walau hanya secuil, kamu berusaha memberi hatimu kepadaku?

Pernah gak sih, sebentar saja, terserah kamu mau sedetik atau lebih sebentar dari pada satuan detik, kamu mencintaiku?


Mungkin pertanyaan-pertanyaan sangat tidak penting ini tidak akan pernah terjawab. Tetapi, yang harus kamu ketahui, bahwa aku menunggu semua jawaban itu. Sampai kapanpun. Sekalipun hati dan pikiranku sudah bukan untukmu lagi.
Selamat sore!
I found the wrong thing; Kamu.
Tidak seharusnya Kamu berada disana.
Didalam pikiranku.


Senin, 06 Oktober 2014

Hidup

Hidup itu gak segampang lo bernapas. Bahkan, lo bernapas pun kadang masih batuk-batuk karena udara yang tercemar masuk ke saluran pernapasan lo.
Hidup itu gak segampang membalikkan telapak tangan. Bahkan, banyak orang-orang diluar sana yang gak punya telapak tangan. So, gimana dia mau membalikkan telapak tangannya?
Hidup itu gak segampang lo nulis personal message di recent update. Bahkan, sinyal pun masih bisa menghalangi lo buat nyampah di recent update.
Hidup itu gak semain-main lo di dufan. Bahkan, di dufan pun pasti ada arena bermain yang masih bikin jantung lo taktakdungces.

Hidup itu susah.
Kayak belajar bahasa inggris. Kayak belajar makan sayur. Kayak jalan diantara anjing walau tetep ada penjaganya. Kayak ngikutin mood-mood orang-orang air.

Kadang aku heran, kenapa orang-orang dengan gampangnya ngumbar masalah-masalahnya di recent update, di twitter, di facebook, dan sekarang yang lagi booming di askfm. Masalah itu kan milik kita pribadi. Oke itu mungkin hak dari masing-masing, tapi apa mereka gak pernah mikir kalau yang punya masalah hidup tuh gak cuma mereka? Apa mereka gak tau kalau gak semua orang nyaman sama keluhan atau umbaran masalah-masalah mereka itu?
Aku tipe orang yang akan menghargai apapun yang orang lain lakuin, yang gaakan protes karena itu hak mereka, yang gaakan ikut komentar kecuali kalau mereka sendiri yang meminta. Tapi, seriously, tiap orang punya titik jenuhnya masing-masing. Bahasa gampangnya sih gumoh. Kayak apa yaa... Kita sendiri aja udah muak banget sama masalah hidup yang kita hadapin, nah ini lagi ditambah ngebaca masalah orang-orang yang mengumbarnya. Sorry to say tapi aku sama sekali gak bermaksud buat nyindir atau apapun, aku hanya menyampaikan apa yang aku pikirkan dan apa yang ingin aku tuliskan.

Kalau mendengar cerita guru-guruku tentang masalah hidup, katanya, orang baru bener-bener merasakan masalah hidup itu kalau sudah berumah tangga. Oh shit, aku yang masih remaja gak jelas gini aja merasa kalau masalah hidupku udah bikin mau muntah banget, apa lagi orang tua ya? Gak habis pikir gimana rasanya. Aku aja ini rasanya mau ngilang banget dari bumi. Gils bumi telen aku beberapa tahun juga gapapa...

Aku merasa gak bisa apa-apa. Pasalnya, persaingan orang-orang diluar sana itu parah banget. Aku aja merasa tertekan sama persaingan di sekolahku, gimana di tempat lain yakan? Ini baru di sekolah sendiri yang nyaman banget... Belum lagi di tempat les yang anak-anaknya juga gak kalah dewa otaknya. Parah..
Dan... Aku merasa aku terlalu menyia-nyiakan waktu yang berhargaku buat main-main dan melakukan aktivitas yang dampak negatifnya lebih banyak daripada positifnya. Aku merasa gak bisa banggain orang tua yang harusnya bisa aku lakuin itu dari lulus sd. Tapi apa? Semuanya sia-sia aja. Waktu, tenaga, pikiran, terbuang sia-sia gitu aja sejak lulus sd. Enggak di smp, enggak di sma, semuanya aku lewatin dengan sia-sia gitu aja. Entah gangerti lagi aku ngapain aja selama 5 tahun ini... Dan ini tahun terakhirku dibangku sekolah. Bener-bener kebangetan kalau sampai gak menghasilkan sesuatu yang bisa ngebanggain mereka.
Coba dari dulu ya aku nurut sama mereka, ikutin apa yang mereka mau, pasti semuanya gak akan berakhir dengan penyesalan gak jelas kayak gini deh..

Hahahaha yep maaf banget ya aku jadi ikutan ngeluarin masalahku di socmed. So lol ya aku makan omongan sendiri. Tapi, gapapa deh, sekali lagi, ini kebebasan dan hak aku karena ini blogku HEHE.
Jadi guys... Sebenernya, aku juga sama kayak kalian, gak ngerti apa yang aku tulis HAHAHA. Yaa yang penting nulis deh haha lumayan lah setidaknya aku gak nyampah di recent update atau timeline kalian HEHEHE.

Minggu, 05 Oktober 2014

They are...

Aku punya temen, dia pinter dan tebakannya selalu pas karena banyak membaca dan belajar dari apapun dan darimana pun. Salah satunya itu zodiak. Dia banyak baca dan belajar tentang kepribadian orang lewat zodiak.Dia cita-citanya emang jadi psikolog sih ya. Tapi beneran deh, analisisnya tentang kepribadian orang itu pas banget gitu.Yea aku puji tuh, baik gak aku, Cha? HAHA.

Pisces. Kalau kata temenku, Pisces are big dreamers. Dan bagiku itu 100% benar! Sepemimpi itu HAHAHAHAHA mimpi mulu:( apalagi mimpiin yang gamungkin terjadi. YEA. I'm so prasmul. Iya, kayak kata orang-orang tentang Pisces yang sensitif. Dikit-dikit prasmul, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit cemberut. YEA HAHA tapi lebih banyak dipendam:( cuma orang-orang yang deket sama Pisces aja yang tau dia lagi dalam 'mood' apa. Itu sih kata salah satu artikel yang pernah aku baca. Dan paling pas banget, katanya Pisces itu paling suka sama bengong. HAHAHA YES I'M. Tiada hari tanpa bengong. Tapi, sayang ya si cowok Cancer ku gasuka kalau aku bengong huf padahal bengong itu asyik! Emang doi suka gt dah y.

Ngomong-ngomong soal Cancer. Aku selalu dikelilingi orang-orang Air, terutama Cancer. Ada dua Cancer yang dekat dengan hidupku. Kalau dipikir-pikir, sifat mereka hampir sama. Nop, kadang malah sama. Sama-sama moody-an, sama-sama penyayang banget, sama-sama terselip kata pedas didalam bercandaannya, sama-sama perhatian bangetbanget, sama-sama sering bikin cewek disekitarnya melting gitu. Ahya, dan mereka pendengar yang baik walau katanya Pisces masih dinomor satu buat pendengar yang baik. Bedanya kedua Cancer ini, yang satu semangat 45 banget dalam hal pelajaran, semangat banget buat dapetin gelar dokternya, yaa pokoknya ambis gitu deh. Nah yang satu paling ogah kalau ngebahas pelajaran, berdebat soal pelajaran, tapi doi semangat 45 buat hal-hal yang berbau olahraga, salah satunya yaa bola. Semangat 45 banget deh kalau udah latihan bola dan macam-macamnya itu. Cancer yang satu, kalau ngasih motivasi itu bener-bener kayak dia mendorong kita sampai kita bener-bener termotivasi. Kalau Cancer yang satunya lagi, kalau ngasih motivasi itu dia kayak mengajak. Dia mengajak kita buat semangat lagi, buat dapetin hal itu bareng-bareng. Gitu deh. Dan kalau kata orang-orang yang ahu lebih soal zodiak, katanya Pisces dan Cancer itu perfect match. YEA hahaha amin..

Kadang aku mikir, gak lagi-lagi deh berhubungan sama orang-orang Air. Kayak apa ya, batin sendiri. HAHA maaf kadang memang aku terlalu lebay. Tapi, sejauh ini aku penasaran banget sama yang namanya Leo. Aku punya beberapa temen Leo yang mostly seru banget diajak gila-gilaan dan mereka orang paling woles. Yang bikin aku penasaran adalah seorang cowok Leo yang dari dulu aku kira dia Virgo HAHA. Tapi, setelah tau dikit-dikit soal zodiak, emang itu orang lebih cocok ke Leo sih ya. Kalau kata si calon psikolog Echa, Leo itu seru diajak melakukan apapun, mulai dari obrolan gaje, pajamas party, sampe hacep beneran. Mereka adaptable bgt dan dengan charm dan aura friendly-nya bisa bikin orang mendekat. Begitulah kata Echa. Dan OMG, aku setuju banget. Si Leo emang gitu.. Dan yap dia si tukang public centre. Dia suka ngelakuin hal-hal yang bikin dia jadi pusat perhatian. Dan ya gitu deh kenapa banyak yang suka sama Leo. Dia juga romantis dalam kecuekannya. YEA haha. Entah bener atau salah analisisku buat si Leo yang satu itu. Yang jelas, aku pun termasuk orang yang kepincut sama pesonanya dan dibuat penasaran sama doi. Mereka suka nge-joke, dari yang lucu banget sampai jayus yang minta ampun banget, tapi kenapa aku selalu ketawa walau itu super jayus... Ohno. Yang jelas, Leo selalu bisa bikin aku mengerutkan alis yang diikuti dengan menarik ujung bibir ke kiri dan ke kanan.

Dan sebenernya masih ada satu zodiak lagi yang mau aku ceritain. Virgo. Yep u know what I mean. Tapi, sekarang lagi gak mood lagi buat ngebahasnya. HAHA kalian ingatkan kalau aku seorang Pisces? HEHE. Aku cuma mau mengucapkan selamat! Selamat akhirnya punya pacar, Virgo! Serius deh aku ikut seneng begitu tau itu. By the way, zodiak pacarmu apa? *masih* HEHE. Bye.

Kamis, 25 September 2014

Hello Kelas 12

Sekarang udah bulan September. Yep! SEPTEMBER. Itu artinya dikit lagi Bulcup, dikit lagi Try Out, dikit lagi Ujian Sekolah, dikit lagi UN, dan dikit lagi kuliah. OH key. Aku merasa tua.

Halo para blogger yang kebetulan mampi diblogku! Yea.
Awalnya, aku kira kelas 12 bakalan jalan dengan sebegitu menyenangkannya karena yaa you know di sekolahku kelas 12 ialah 'sang penguasa'. Enggak, bukan penguasa yang bener-bener penguasa kayak yang ada dipikiran kalian. Penguasa disini maksudku itu hmm like lo bebas keseluruh penjuru sekolah yang saat kelas 10 dan 11 lo gabisa kunjungi, you know what i mean right? Yep. Aku kira kelas 12 gaakan semenakutkan yang orang-orang bilang. Dan ternyata semua yang aku kira itu salah YEU. Gadeng, gasalah sertus persen kok.

Kesibukanku di kelas 12 dimulai dengan kami yang mendirikan PMR 70 yang sempat vakum. 'Kami' disini itu aku, Echa, Lisa, Raka, Fiani, Zakky, Winona, Ulva, Hana, Candrika, Wina, Trisna, Zikra, Nisa, Aul, Ayu dan Sofi. Tuh lengkap. Kami yang terdiri dari kelas 11 dan 12 sangat sangat berinisiatif, enggak juga sih sebenernya kita juga masih disuruh sama Kak Meitha, ketua PMR dan ketua medis bulcup sebelumnya. Kalau bukan dia yang nawarin yaa mungkin kami gaakan mencoba buat mendirikan kembali PMR Yea. Dari mulai bikin proposal, ngurus demeks sampe kedatangan murid baru dan alumni angkatan 91. Semua terjadi dengan proses yang cukup bikin capek fisik dan hati. Yea.

Trus aku masuk di kelas XII Alam 7. Yha 7 lagi. HEHE. Sebelumnya juga Alam 7. Emang deh jodoh banget sama angka tujuh:'). Hari pertama masuk sekolah, aku sama Icul udah barengan mulu, sampe mencari kelas pun kami bersama HAHA. DAN dari sekian banyak anak XI Alam 7 di XII Alam 7, kenapa gaada nama Icul didaftar... Icul di kelas XII Alam 5 by the way, sama Nisfhu HUHU. Aku selalu takut setiap kali pergantian kelas. Not easy for me buat adaptasi sama lingkungan baru, walaupun itu kelas isinya sebagian besar udah ada yang aku kenal. Alhasil, setelah aku benar-benar pelajari daftar nama dijendela kelas, aku menemukan sebuah nama, Fianisa Tiara Pradani. Yep, Fiani, termasuk teman seperjuangan dari utas juga. Aku langsung cari dia dan ngajakin duduk bareng sesudah aku taruh tasku buat ngetag tempat duduk paling depan. Dan dari sini lah aku dan Fiani akan mengarungi masa-masa indah dan susahnya kelas 12 bersama. A6.

Aku gangerti lagi kenapa anak-anak kelasku isinya pinter-pinter semua... Dan yep, aku memang tidak pintar HUHU. Adaptasi sama ritme belajar di Alam 7 bikin aku ngos-ngosan diminggu-minggu awal, bikin aku muter otak gimana caranya biar aku gangerasa capek setiap sampai rumah. Alhamdulillah makin kesini makin bisa nyesuain walau belum sepenuhnya tertib sama tugas-tugas yang gangerti lagi kenapa guru-guru niat banget ngasih tugas segitu banyaknya. Aku ikut les di dua tempay. Niatnya sih cuma di GO doang, tapi begitu dihasut Icul, akhirnya aku ikut BTA70 yang di sekolah. GO di Sambas hari Jumat dan Sabtu, trus BTA70 nya hari Sabtu pagi di sekolah. Kenapa harus Jumat Sabtu? Karena kalau hari sekolah itu bakalan capek banget. Tepar banget deh. Pengalaman waktu aud. Mangkanya, sekarang gak lagi-lagi ngambil les hari sekolah. Gapapa deh ngorbanin Jumat dan Sabtu yang notabanenya adalah hari-hari bahagia. Demi PTN :'D

September. Yang berarti....
HAPPY ANNIVERSARY HANS! DUA TAHUN! YEA!
HAHAHAHA yap tepat 7 September kemarin, aku dan Hans genap dua tahun. Dan ini... bikin aku speechless. Bener-bener enggak senyangka itu sampai bisa dua tahun. Yaa yang jelas, I love you to the moon and back and back and back sampe capek. Yha;*


Dan di tanggal 15 September kemarin ada FTS (Festival Teater SLTA). Teater70 hadir dengan menampilkan "Ayu". Aku disitu jadi bagian backstage as always, dan dibagian properti sama my luv Echa. Mirip di Mimesasiso, kerjaan kita yaa nyariin properti sana-sini. Seru sih, walau harus kelimpungan nyari tempat buat taruh barang-barangnya. Pentas terakhir kami sebagai agit, yaa FTS ini. Malam Penganugerahan nanti tanggal 27 September dan semoga kami, teater70, membawa pulang setidaknya satu piala. Dan semoga masuk nominasi dibanyak kategori. Aamiin.

Jadi, gitu deh. Kelas 12, tahun terakhir di SMA. Gatau harus seneng atau sedih, yang jelas aku sangat sangat menikmati proses di kelas 12 ini.
Dan.. Jangan sia-siain waktu kalian di SMA dengan hal yang gak guna dan gitu-gitu aja! Aku bener-bener nyesel karena baru nyadar ini kelas 11 akhir. Dan ciptain prestasi sebanyak mungkin. Ini serius. Berguna banget. Sumpah deh.

Oiya satu lagi,
Jangan berputar di kegiatan dan masalah yang itu-itu aja! Keluar dari gua nyamanmu! :D

Jumat, 11 April 2014

My lucky!

Jadi ceritanya, aku lagi sibuk. Aku juga bingung sibuk karena apa. Yaa antara sok sibuk sama menyibukkan diri sih sebenernya HEHE. Udah lama banget gak ngeblog. DAN YA, cerpen yang "sebuah Moment" belum sempet kuketik huhu. Karena aku bikin cerpennya itu dibuku saku kecilku hehe, tulis tangan gitu ceritanya, because ide itukan datengnya tibatiba dan aku gabisa setiap saat pegang laptop dan my handphone itu gabisa diandalkan:( keypadnya udah sakit akut deh. Sekarang pun aku bingung mau nulis apa. Terlalu banyak hal yang mau diceritakan dan ditulis.

Ohiya, sampe sekarang aku bingung loh mau nulis - diblog maupun socmed lain - dengan sebutan gue-lo atau aku-kamu, karena jujur aja nih ya bukannya sok imut atau apa, aku lebih nyaman pake "aku" dari pada "gue" tapi lebih enak pake "lo" dari pada "kamu". Cerita dikit ya, jadi dari kecil aku sama adekku itu dibiasain buat ngomong aku-kamu ke semua orang, gak hanya ke orang tua, saudara, tapi ke temen juga bahkan stranger. Misalnya ada temen main ke rumah, trus diantara aku atau adekku ngomong ke mereka pake gue-lo, dapat dipastikan sehabis mereka pulang, kita dimarahin haha. Katanya, itu masalah kesopanan, gue-lo itu bahasa kasar, kalau gak dibiasain dari kecil nanti besarnya malah kebawa gue-lo atau bahkan nanti ke anak sendiri ngomongnya gue-lo yang secara harfiah itu udah termasuk ngajarin buat gak sopan. Thats it. Jadi yaa bagi kalian yang kenal aku di dunia nyata, jangan heran kalau aku manggil kalian aku-kamu walau udah SMA gini dan ke cowok sekalipun TAPI biasanya ke cowok yang udah akrab doang HEHE, kalau yang biasa aja atau bahkan gakenal pasti pake gue-lo HEHE. Jadi, sorry kalau selama ditulisan ini, sebelumnya, atau selanjutnya, bahasanya campur-campur hehe.

Pernah gak sih, kalian bener-bener punya waktu luang, tapi diwaktu luang itu kalian merenung tentang kehidupan kalian, semerenung itu deh seserius itu. Kalian mikirin tentang apapun yang terjadi di hidup kalian. Dan renungan paling pertama muncul adalah tentang kasih sayang. Pernah gak sih lo mikir, kasih sayang yang orang-orang sekitar lo kasih ke lo itu udah cukup apa belum? Entah itu orang tua, kakak-adek, teman dekat, pacar atau bahkan tetangga.
Jadi, sekitar beberapa minggu yang lalu, aku merenung, mikir, mikir keras deh. Gaada niat buat mikir apapun tapi karena bengong, jadi sampe deh ketahap itu tadi - merenung, mikir, mikir keras - tentang hidupku. Tentang sesuatu yang Tuhan kasih ke aku. Ternyata, kalau dipikir-pikir, alhamdulillah banget, aku punya segala kasih sayang yang aku butuhin. Aku dapet kasih sayang dari orang tua yang alhamdulillah banget lengkap. Kalau kata sebagian besar temen-temenku bilang, mama sama papaku itu baik orangnya dan mereka mau ikut repot-repot buat temen-temenku yang minta bantuan mereka. Bodohnya aku, aku gapernah nyadar itu. Orangtuaku bukan tipe orang yang kaku, dan mereka asik (sebenernya) tapi emang aku aja yang dasarnya gak asik HEHE dan aku terlalu menghormati mereka jadi.... yaa kurang bisa dapet keasikannya hehe KECUALI kalau kita lagi kumoul berempat dan adekku udah ngelawak+iseng baru deh cair akunya HEHE. Yaa intinya, aku bener-bener dapet kasih sayang dari orangtuaku plus adekku yang kelewat batu itu
Dan sekarang dari segi saudara. Jujur nih ya, aku gabegitu deket sama sebagian besar saudaraku, kecuali dari keluarga adek-adeknya mama. Sama nenek dari papa sekalipun aku gak deket, hmm bisa dibilang deket yaa yang sekedar antara cucu-nenek biasa gitu lah, dateng ke sana-nurut-bantubantu, yaa kayak semacam sekedar formalitas buat menghormati aja. Dan sedeket-deketnya aku sama saudara itu cuma sama sepupur dari mama - Alam, Lisa, Tiara, Kiki - yaa gitu deh itupun aku paling tua diantara mereka HAHADUH. Oiya sama Mas Ita juga, sepupu dari papa, dan dia itu satu-satunya saudara dari keluarga papa yang deket sama aku. PADAHAL, kalau dipikir-pikir, mereka semua itu sayang sama aku yaa layaknya "saudara" beneran bukan kayak aku yang anggep semua itu cuma formalitas yang perlu dihotmati dan dijaga tali silahturahminya. And what? Aku dapet kasih sayang yang aku - secara gak sadar - butuhkan (lagi).
Dan selanjutnya, dari teman. Yeah aku punya banyak teman, alhamdulillah. Tapi, sebenernya, aku itu orangnya ansos - anti sosialisasi - hmm susah bergaul gitu deh, karena yaa kayak yang tadi aku bilang, aku itu bukan tipe orang yang asik dan gampang akrab sama orang gitu deh. Dan kebanyakan orang tuh pasti gak betah dideket aku karena aku gabanyak ngomong dan... gatau juga woy apa yang mau diobrolin, kalau kata Icul "Pati jadi awk banget gitu" hahaha. Alhasil, pasti yaa gitu-gitu doang deh. Tapi, mereka yang udah akrab sama aku, alhamdulillah betah HAHAHA soalnya aku suka lemot tibatiba:(. Dari banyak kejadian dan masalah aku sama berbagai macam temen-temenku, aku (lagi-lagi) bersyukur kalau ternyata mereka sayang sama aku dan aku mendapatkannya.
Hmmm dan ini yang banyak dicar-cari orang, dari pacar. Yess, I have boyf HAHAHA:p. Dan Tuhan ngasih aku gak nanggung-nanggung, yaitu seorang yang berzodiak cancer, yang katanya seorang penyayang paling ulung dan setia. Kebayangkan gimana rasanya? Ada orang bener-bener nyayangin lo padahal dia bukan bagian dari keluarga lo, yang ngejaga lo kayak papa lo ngejaga lo, yang bener-bener ngelindungin lo secara langsung ataupun gak langsung. Dan itu dia! OMG HAHA:( . Dan untuk kesekian kalinya, aku bilang alhamdulillah dan aku bersyukur.

Indah ya? Iya keliatannya indah banget. Dapet kasih sayang lengkap dari semua orang. Tapi lo tau? Aku selalu ngerasa hidupku ruwet dan kacau, walaupun sebenernya aku sadar aku punya semua itu. Tau apa yang bikin kacau? Mindset otak ku. Mungkin kalau kalian liat dikenyataan, aku orang yang gak berpendirian, apalagi kalau menyangkut masalah orang lain atau pokoknya yang berhubungan dengan orang lain deh, aku bener-bener gak berpendirian. TAPI kalau masalah buat diriku sendiri, aku itu batu keras, aku akan berpegang sama satu prinsip, satu sudut pandang, satu pola pikir, dan siapapun dia gaakan bisa ngerubah itu - sesama makhluk hidup ya yang ku maksud.
Pikiranku bener-bener gabisa diajak kompromi kalau udah nyangkut buat diriku sendiri, aku sadar harusnya aku bisa ngendaliin itu tapi apaya.... like you have two lives in one body. Yagitu. Itu sumber masalahku, kenapa aku gabisa 'cukup' bahagia karena udah punya yang menurutku itu adalah sumber kebahagian.
Oke mungkin kalian bingung aku cerita apa, aku juga bingung gimana ngejelasinnya HEHE.
Sekarang aku cuma bisa bilang, let it flow, ikuti aja kemana waktu dan dunia ngebawa kamu, kemana pun itu, karena itu pasti hal yang terbaik yang Tuhan kasih buat kamu tapi tetep dengan syarat berusaha dan berdoa.
Dan buatku pribadi, soal interaksi aku dengan teman-temanku, terutama teman deket, misalkan aku punya masalah sama mereka, aku minta maaf dan sisanya aku biarin semuanya mengalir gitu aja sesuai yang otakku perintah, gitu.
Sekian. Thankiss! 

Jumat, 16 Agustus 2013

Penggalan Cerita Dari Autobiografi

        Di kelas 6 aku duduk dengan Yuandita Putri. Anak gila dan koplak setengah mati ini sangatlah tomboy (tapi sekarang dia cewek banget loh). Dia tuh isengnya masyaallah bener-bener gak ada nandingin deh. Dia tuh kerjaannya berantem, hm sebenernya sih enggak tapi kalau ada anak cowok yang ngajakin dia rebut pasti diladenin sama dia. Pernah suatu hari dia berantem dama Aslam sampai tonjok-tonjokan, Aslam sama Yuan sama-sama kena dibagian bibir. Mereka sama-sama kesakitan dan mereka sama-sama di marahin guru haha. Yuan itu rambutnya wajib dikuncir, katanya panas kalau enggak di kuncir, sekalipun gak ada kunciran, dia pasti pake karet gelang sekalipun karet gelang itu udah putus haha-_-. Aku dan Yuan suka banget yang namanya ngisengin Nona HAHA. Nona selalu jadi bahan bullyan kita berdua B). awalnya sih gara-gara kita berdua lagi gak ada kerjaan aja alias bingung mau iseng tapi gak tau siapa yang mau dijadiin korban haha dan pilihan jatuh kepada Nona. Soalnya waktu itu dia lagi berdiri, bengong gitu, mulutnya mangap trus tangannya mainin kepala gespernya dia dan itu awkward banget HAHA. Sejak saat itu aku sama Yuan jadi sering merhatiin dia dan cakkin dia hahahaha. Trus biasanya kita cakkin dia dengan lagu “Memble tapi kece” hahaha jahat ya kedengerannya? Tapi itu lah kita :D dan Nonanya sendiri pun gak pernah keberatan hehe :D. belum lagi ditambah Adam yang katanya suka sama Nona hahahaha makin lengkap lah bahan cakkan kita hahaha. Tapi tenang, semua itu gak sejahat kedengerannya kok. Kita semua cuma buat seneng-seneng doang kayak gitu dan yang penting pihak yang bersangkutan itu tidak mempermasalahkan hehe.

          Kelas 6. Jadi kelas penentuan belajar kita selama 6 tahun. Kelas ini jadi tibatiba berubah jadi kelas rajin dan kesolidan kita benar-benar berasa di kelas 6 ini. Aku inget banget kita satu kelas  dihukum dilapangan garagara kelasnya gaduh banget dan bukannya ngerjain tugas yang dikasih sama gurunya tapi malah bercanda-canda. Itu hari senen dan itu panas banget diluar, ya sekitar jam 11an lah yaa. Dan kalau kelas 6 itu pasti wali kelas buka les tambahan dan sebagian besar dari kita mengikuti les tambahan tersebut. Biasanya les tambahan diadakan setiap pulang sekolah dari hari Senin sampai hari Kamis. Kita yang iktu les biasanya kalo makan siang sebelum les itu pasti beli nasi warteg depan sekolahan. Kadang berdua kadang sendiri dan lauknya gak jauh-jauh dari tempe orek sama mie goreng trus gratis air putih hahaha. Dan kadang kita bukannya serius les tapi malah bercanda-canda doang haha kalau lagi bosen doang sih yaa.

          Selain les tambahan di sekolah, aku juga mengikuti les tambahan diluar sekolah, yaitu di Primagama. Aku ikut les di Primagama sudah dari kelas 5 sd. awal kelas 5 sih aku disuruh lesnya tappi begitu kelas 6, aku yang minta sendiri ya walau kadang suka bolos karena capek haha. Aku dapat banyak teman baru lagi di Primagama dan aku ketemu teman TK aku disitu, yaitu Mega Mercia. Satu kelasnya sekitar 18 orang. 
          Di tengah-tengah kesibukan kita menjelang UN dan kesibukan Nia di smpnya. Kita masih tetap bisa main di sore harinya. Saat itu kami (aku, bernis, nia, dan vivi) sedang bersepedaan sore hari di komplek. Tibatiba ada seorang anak laki menghampiri kami, dia naik motor. Lalu tibatiba:
Rudi: “hai Bernis ya? Gue Rudi.”
Kita: “hah?” *tampang innocent*
Rudi: “hai boleh kenalan?” *nyodorin tangan* *nyengir*
Kita: “Hah? Hehe” *langsung kabur*

Dan begitulah cerita singkatnya si Rudi, yang entah darimana dan siapa dia, tibatiba datang mengajak kenalan tetapi dibalas dengan kaburnya kita HAHA kita tertawa sangat keras sesudah itu karena kita sama sekali tidak kenal anak itu dan dengan tibatibanya dia dating seperti itu hahaha. Lalu ada lagi sebuah kejadian yang lebih “awkward:” dari ini. Jadi ceritanya itu kita juga lagi bersepedaan di komplek dan kita sedang berempat pula. Seperti ini bayangannya:
*sedang naik sepeda* *sepeda vivi ketinggalan, paling belakang* *tibatiba sepedanya vivi dijegat sama sepeda anaik cowok lain*
Abda: “Eh Vi”
Vivi: “Apaan sih?”
Abda: “Lu suka sama gue ya?”
Vivi: “Hah?” *tampang bingung*
Abda: “Iya kan vi?”
Vivi: “Lu gila yak? Hahaha” *langsung kabur*

Saat sesampainya vivi di tempat kita ngumpul, dia bercerita soal itu dan tanpa komando pun kita tertawa sangat keras hahaha. Karena posisinya saat itu diantara kita tidak ada yang kenal dan tau nama anak itu, kita hanya sekedar kenal muka saja. Kita menyebut anak itu dengan sebutan “Blacky” karena kulitnya yang hitam dan aku baru tau namanya saat menulis autobiografi ini, aku bertanya kepada Bernis yang ternyata kenal sesudah kita smp. Dan kami selalu tertawa bila mengingat dua kejadian itu hahaha kejadian yang memalukan sekaligus mengesankan:’).