Tampilkan postingan dengan label Untuk kamu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk kamu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Dear San (5)

Dear San,

Selamat malam dari Yogyakarta, San!

Apa kabarmu malam ini? Sudah terlelap, ya? Semoga mimpi indah selalu berpihak padamu, ya. Atau mungkin mimpi thriller? Lalu, pagi hari kamu cerita kepadaku tentang mimpi itu. Haha, I wish.

Akhir-akhir ini, Yogyakarta sudah mulai diguyur hujan. Iya, sih, hujannya sore atau malam hari. Jadi, kalau kuliah enggak harus basah-basahan. Tapi, jadi bikin mellow. Hahaha. Iya, aku selalu ingat kok, sapaan (re: ledekan) itu. Oh iya, kalau sore hujan, jadi pengin indomie rebus. Kerjaan kita ditengah-tengah les dan kelaparan, adalah makan indomie. Oh! Dan nutrisari atau pop ice! Yummy! By the way, Bandung gimana? Sudah mulai hujan juga?

San, entah memang seperti ini jalannya atau memang kita tidak pernah benar-benar ada pada satu circle yang sama, ya? Sangat sulit untuk menemukanmu. Dan anehnya lagi, aku masih berusaha mencarimu. Tapi, tidak pernah benar-benar berani mencari dalam arti yang sesungguhnya. Kamu mengerti, ya kan, San?

San, aku tidak tau, apakah kamu membaca ini, atau beberapa surat sebelumnya, atau tidak pernah. Aku memang tidak benar-benar berharap kamu akan membacanya. Setidaknya, aku lega karena memiliki bukti nyata jika suatu saat kita bertemu dan berbagi cerita.

Tapi, jika kamu membaca ini, jangan ragu. Iya, ini tentangmu, San.

Tentang pesan-pesan yang tidak pernah aku sampaikan kepadamu, dan tentang hal-hal yang baru aku sadari setelah semuanya terjadi dan terlambat. Sangat terlambat.

Selamat hari lahir, ya, San! Seharusnya, 98 hari yang lalu aku membuat tulisan “Dear San” ini. Tapi, tulisan “Tatap dan Senyum” lebih cocok di-post pada tanggal tersebut.


With smile,

Fin


***

Yogyakarta, 30 September 2017 – 01:20 WIB

Sabtu, 24 Juni 2017

Tatap dan Senyum

Pada lampu di ujung perempatan, kita berjumpa. Tatapmu lurus kedalam manik mataku. Aku diam membisu. 

Kita tidak beranjak. Seolah-olah, detik demi detik merayap pelan sembari menggerogoti kaki-kaki kita. Atau mungkin hanya kakiku yang pasalnya, seperti membeku ditempat atau dipaku kedalam bumi. 

Sejurus kemudian, kamu tersenyum. Senyum yang melelehkan semesta. Karena setelahnya, hujan turun rintik-rintik. Sepertinya, semesta pun setuju, bahwa senyummu dapat menggetarkan jantung siapapun. Termasuk aku dan langit. 

Pada detik itu pula, aku berdoa. Semoga Tuhan berbaik hati untuk mempertemukanku dengan tatap dan senyum itu setiap harinya di masa depan.


***
Pekalongan, 24 Juni 2017 - 21:47 WIB

Sabtu, 03 Juni 2017

Dear San (4)

Dear San,

"In another life, I would make you stay. So I don't have to say you were the one that got away."


Kamu bacanya sambil nyanyi juga gak, San? Hahaha.

Halo, San! Apa kabar? Surat pertama untukmu ditahun 2017 ini. Ah, ya, siapa tau kamu menunggu, hehe.

Oh, iya, begitu lagu The One That Got Away mengalun di radio, aku teringat kamu. Entah bagaimana, lagu itu terus mengingatkanku kepadamu. Tentang kita beberapa tahun yang lalu. Seingatku, kita sama sekali tidak pernah menyanyikan atau menyinggung lagu itu, iya kan?

By the way, Bandung apa kabar? Ah, iya, Nangor, yaa? Beberapa hari yang lalu, temanku ada yang protes ketika aku menyebut Nangor adalah Bandung, hehe. Ternyata, beda jauh, ya...

Ah, ya, bagaimana kabar genre film kesukaanmu? Ada film yang bagus lagi, kah? Bulan lalu, aku nonton film genre thriller, tapi lupa banget sama judulnya. Filmnya mirip sama Saw, tapi hanya karena filmnya terlalu gamblang sih. Keseluruhan ceritanya, beda banget.

San, semakin lama aku di Jogja, semakin mengingatkan aku akan semua ceritamu tentang kota ini. Tapi, membuatku semakin rindu Jakarta, Iya, memang, Jogja sangat membuat nyaman. Tapi, aku jauh dari rumah. Satu yang membuat semakin bingung. Jadi, apa sebenarnya arti rumah? Kalau nyaman, bisa kah disebut rumah? I'm waiting for your answer. I always like a moment when you share your mind.

San, if I had time machine, I would take our time back. If you had, too. Would you..?


With smile,

Fin.

***
Yogyakarta, 1 April 2017 - 23.15 WIB

Selasa, 13 Desember 2016

Dear San (3)

Dear San,

Halo, San! Apa kabar? Semoga kabar baik yang akan selalu kamu sampaikan ya. Kapanpun sampainya, aku tidak peduli, selama itu kabar baik, i wish. Kabarku baik, San. Hm ya, mungkin aja kamu tanya balik, hehe. Biasanya, kalau orang tanya kabar, pasti ditanya balikkan? Ya, aku positif aja kalau kamu tanya balik. Kalaupun enggak, gapapa kok. Biar kamu tau, kalau aku selalu baik. Berusaha.

Halo, San! How’s life? Sepertinya, ada banyak hal yang aku lewatkan, ya? Would you tell me? Aku selalu rindu cerita-ceritamu, San. Cerita tentang mimpi-mimpi randommu. Cerita tentang sarapan pagimu. Cerita tentang berita-berita yang kamu tonton. Cerita tentang kejadian absurd yang kamu temui hari itu. Aku rindu.

Hai, San! Apa kabar Jakarta? Iya, kamu pasti bosen deh dengar pertanyaanku yang satu ini. San, seburuk-buruknya Jakarta, itu tetap kotaku. Kota tempatku berpulang. Walau tak senyaman Jogja, Jakarta punya arti yang mendalam. Oh ya, dengar-dengar, kamu sudah tidak di Jakarta lagi, ya? Glad to hear that. Itu pasti yang terbaik yang Tuhan kasih ke kamu. Lagian, Bandung juga kota yang indah, bukan?

Hai, San! Kamu mau dengar sedikit ceritaku? Kamu masih ingat gedung biru tingkat empat? Aku lewat situ beberapa hari yang lalu! Tidak pernah berubah San. Hanya saja, terlihat semakin kumuh. Selebihnya, gedung itu masih sama. Masih terpampang sebuah logo bimbingan belajar didepannya. Masih banyak juga tukang jualan di halamannya. Tapi, tidak ada Takoyaki kesukaan kita. Entah karena tutup, atau memang sudah tidak ada. Hari dimana aku lewat adalah sore hari. Senja, San. Bahkan langitnya pun masih menorehkan warna yang sama. Orange-kuning-semburat pink. Apik. Akan lebih apik kalau dilihat dari rooftop di lantai 4.. I miss yaa.

San, aku tidak pernah menyesali apapun. Ketika hari-hari dulu terjadi, kita hanyalah sepasang anak kecil yang terbawa arus kerasnya Jakarta. Sepasang anak kecil yang menjadi korban arus kehidupan yang deras. Aku yakin, kamu tau persis apa yang terjadi selama ini. Aku yakin, kamu tau bahwa aku pun merasakan dan memikirkan hal yang sama. Sekali lagi, ini bukan sebuah penyesalan.

Ini hanya sebuah surat kabar dari teman lama yang ingin bersua kembali.

Aku rindu, San.


With smile,

Fin.

***

14.51 – 12 Desember 2016

Minggu, 14 Februari 2016

Dear San (2)

Dear San,

Hai, San! Apa kabar? Maaf, aku mengganggumu (lagi) dengan surat-surat ini. Surat yang (mungkin) tak akan pernah sampai ke tanganmu. Tentu saja, tak akan pernah kamu baca.

Bagaimana kabar Jakarta, San? Masih ramai, kah? Masih macet, kah? Masih berpolusi, kah? Masih gemerlap, kah? Jakarta memang selalu membuat siapa pun terkena hipertensi. Tetapi, disitu lah berkesannya. Yakan, San? Padat, sumpek, individualis, dan menghibur. Semua yang ada di Jakarta membuatku selalu merasa kecil dan tidak berdaya. Benar-benar kota yang menggambarkan bahwa hidup sangat lah keras, dan kesuksesan hanya milik orang-orang yang ingin bekerja keras. Sangat keras. Kamu setuju, San? Ah, ya, kamu pasti punya pendapat lain, as always. :")

Kamu ingin bertanya kabar Yogyakarta? Iya, betul, selalu damai dan tentram. Yogyakarta selalu mengingatkanku dengan tawa renyahmu. Mengingatkanku dengan senyum miringmu. Mengingatkanku dengan selera humor rendahmu. Mengingatkanku dengan... Ketenangan matamu. Satu kesamaan antara kamu dan Yogyakarta. Sama-sama membuat tenang. Ah, ya, dan bebas. Bebas dalam artian menjadi diri sendiri. Yogyakarta mengajarkanku akan banyak hal. B A N Y A K. Sangat banyak. Terutama dalam hal sikap. Bagaimana seharusnya kita bersopan santun. Bagaimana seharusnya kita menghargai apa yang kita miliki. Bagaimana seharusnya kita memaknai hidup dan menghidupi hidup. :")

Jakarta sebuah kota dimana kita bertemu. Yogyakarta itu kotaku melakukan aktivitas. Jakarta itu kotamu melakukan aktivitas. Tetapi, Jakarta adalah kotaku untuk pulang. Untukmu, Yogyakarta lah kotamu untuk pulang. Jadi, di mana kita seharusnya bertemu (kembali), San? :")

Kau tau, San? Yogyakarta hampir sempurna. Hanya satu kurangnya; tidak ada rumah. Tidak ada tempat untuk pulang. Tidak ada keluarga dan... Kamu. :")


With smile,

Fin.


***
22.09 - 13 Februari 2016

Jumat, 29 Januari 2016

Dear San

Dear San,

Halo, San! Long time no see. Apa kabarmu? Aku selalu berharap kamu baik-baik saja di sana. Di mana pun kamu berada. Bahkan, aku tak bisa mengira-ngira kamu ada di mana. Tetapi, aku tahu, kamu akan selalu di sana, di salah satu bilik hatiku.

Hai, San! Sudah mulai tersenyum kah kamu? Sejak terakhir kita berkirim kabar, kamu masih belum tersenyum (dugaanku). Aku selalu berharap kamu memulai hari dengan seulas senyuman, bukan dengan secangkir kopi seperti yang aku lakukan. Iya, aku masih minum kopi, maafkan aku, ya? Tetapi, pernah, disuatu pagi, aku mencoba caramu. Sarapan dengan segelas susu cokelat dan beberapa potong biskuit. Oh, tentu saja, seulas senyuman juga. Rasanya memang baik, tetapi tidak lebih baik dari sapaan pagimu, San. Apalagi bila disuguhkan bersama kopi dan roti kacang. Sempurna.

Halo, San! How's life? Sudah lama tidak mendengar cerita-cerita lucu darimu. Tentang banci-banci yang suka godain kamu. Tentang anak-anak remaja putri yang sering nongkrong di pengkolan gang rumahmu. Tentang kue-kue buatan ibumu. Tentang film-film thriller. Tentang humor-humor receh. Ah, apa pun itu. Masih mau kah kamu bertukar cerita denganku?

Hai, San! Aku... Aku rindu.


With smile,

Fin.


***
23.11 - 28 Januari 2016